Lingkar.co – Pelantikan Ketua Perkumpulan Besar Padel Indonesia (PBPI) Kota Semarang menjadi momentum penguatan organisasi sekaligus pembinaan atlet menuju ajang resmi olahraga nasional. Dukungan tak hanya datang dari KONI, tetapi juga Pemerintah Kota Semarang.
Ketua KONI Kota Semarang, Arnaz Agung Adrarasmara, menegaskan pentingnya pembenahan organisasi dan pembinaan berkelanjutan agar padel tidak sekadar menjadi tren.
“Pertama tentu organisasi harus profesional. Kedua, mulai menjaring dan membina atlet lewat turnamen rutin. Karena sehebat apa pun atlet, kalau tidak ditempa kompetisi, tidak akan terasah,” ujar Arnaz, Kamis (12/2/2026).
Ia menyebut padel akan tampil sebagai cabang eksibisi pada Porprov Jateng 2026. Sementara di level nasional, cabang ini sudah mulai dipertandingkan di PON. Menurutnya, momentum ini harus dimanfaatkan untuk menyiapkan atlet sejak dini.
“Perbanyak turnamen dengan konsep sport entertainment supaya anak-anak muda tertarik. Dari situ nanti akan muncul bibit atlet potensial,” tambahnya.

Sementara itu, Ketua PBPI Kota Semarang, Alexander Riandro Satria, mengatakan pihaknya tengah menyusun program pembinaan berbasis kelompok umur. Saat ini tercatat sekitar 50 komunitas padel di Kota Semarang dengan 11 hingga 15 lapangan aktif.
“Kami akan melakukan pengelompokan usia dan pembinaan prestasi. Komunitas-komunitas ini nanti akan kami wadahi menjadi klub resmi agar pembinaan lebih terarah dan bisa mengirim atlet secara legal ke berbagai kejuaraan,” jelasnya.
Alexander mengakui padel masih kerap dipandang sebagai olahraga eksklusif. Namun pihaknya berkomitmen membumikan olahraga ini agar bisa diakses semua kalangan, termasuk melalui kolaborasi dengan sekolah sebagai kegiatan ekstrakurikuler.
“PR kami bagaimana padel bisa diterima semua usia dan semua lapisan masyarakat. Tidak hanya kalangan tertentu,” tegasnya.
Dukungan penuh juga disampaikan Wali Kota Semarang, Agustina Wilujeng Pramestuti. Ia menilai padel merupakan olahraga yang tengah naik daun, tidak hanya di Semarang, tetapi juga secara nasional dan global.
“Fenomena padel di Kota Semarang luar biasa. Dalam enam bulan terakhir, lapangan tumbuh cukup banyak. Ini olahraga yang sehat sekaligus membangun keakraban karena dimainkan berpasangan,” ujarnya.
Menurut Agustina, jika PBPI Pusat telah masuk dalam struktur KONI dan membuka peluang masuk kompetisi resmi seperti PON hingga ajang internasional, maka Kota Semarang tidak boleh tertinggal.
“Kalau sudah ada aba-aba masuk kompetisi resmi, Semarang harus siap. Kita harus punya atlet yang bisa meraih medali. Maka liga dan turnamen harus segera digelar untuk menjaring atlet,” tegasnya.
Ia optimistis, dengan dukungan KONI dan PBPI Jawa Tengah, Semarang mampu bersaing dengan kabupaten/kota lain di Jawa Tengah dalam pengembangan padel.
Dengan sinergi pemerintah, KONI, dan organisasi cabang olahraga, PBPI Kota Semarang diharapkan mampu memaksimalkan momentum popularitas padel menjadi prestasi nyata di level provinsi hingga nasional. ***








