Pedagang Pasar Kobong Semarang Enggan Pindah ke Bangunan Baru, Ini Alasannya

  • Bagikan
SULIT: Kondisi Pasar Rejomulyo atau Pasar Kobong, Kota Semarang untuk para pedagang ikan baru-baru ini.(DINDA RAHMASARI TS/LINGKAR.CO)
SULIT: Kondisi Pasar Rejomulyo atau Pasar Kobong, Kota Semarang untuk para pedagang ikan baru-baru ini.(DINDA RAHMASARI TS/LINGKAR.CO)

SEMARANG, Lingkar.co– Pedagang di Pasar Rejomulyo atau pasar kobong, Kota Semarang, Jawa Tengah enggan menempati bangunan baru. Ada sejumlah pertimbangan yang membuat pada pedagang lebih memilih untuk menempati bangunan lama di pasar.

Kepala Paguyuban Pasar Kobong Dian mengatakan, para pedagang menolak untuk berjualan di lokasi dan bangunan baru. Meskipun, mereka tidak perlu membayar sewa untuk kios-kios. Menurutnya ada beberapa faktor yang menyebabkan para pedagang enggan berpindah.

Ads Selamat Hari Raya Idul Fitri 2022

“Faktor pertama karena luasan kios yang lebih sempit. Tempat yang sempit membuat pedagang kesulitan meletakkan tempat penyimpan ikan yang berukuran besar. Selain itu, faktor bangunan pasar yang baru menyebabkan bongkar muatan ikan berlangsung lebih lama,” katanya.

Dian menjelaskan, akses untuk truk muatan ikan di bangunan lama lebih mudah dan bisa dilalui dua truk. Sehingga hanya membutuhkan waktu kurang lebih 10 menit untuk bongkar muat. Sedangkan untuk pasar yang baru hanya bisa untuk satu truk saja. Sehingga waktu bongkar muatan berlangsung lama dan hal itu akan mempengaruhi kulitas ikan yang akan menjadi tidak segar lagi.

“Bukan hanya kriteria, luasannya, cara bongkar muat, dan sebagainya ya. Namanya membangun pasar tapi tidak melibatkan para pedagangnya ya jadi kacau semua,” ujar Dian.

Selain kedua faktor tersebut, adapun faktor lain yang menjadi pertimbangan para pedagang enggan berpindah ke lokasi yang baru yakni terkait masalah sumur air. Jika di pasar lama setiap lapak memiliki sumur air, berbeda dengan pasar baru yang hanya memiliki beberapa sumur air saja. “Padahal fasilitas ini sangat penting bagi pedagang ikan segar,” ucapnya.

Kemudian, lanjut Dian, terdapat permasalahan terkait kurir yang akan membawa ikan dari muatan truk ke kios. Karena bangunan baru yang tinggi dan tempat penyimpanan ikan yang berat perlu tenaga ekstra untuk mengangkutnya hingga ke kios. Hal tersebut membuat biaya untuk kurir membengakak.

”Kami berharap ada renovasi di lokasi yang saat ini kami tempati. Tentunya harus sesuai keinginan, karakter ikan basah, pindang, dan asin. Agar kami bisa lebih maju, sejahtera untuk pedagang dan pekerjanya,” tegasnya.(din/lut)

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.