Site icon Lingkar.co

Pemkot Semarang Siapkan Embung, 55 Longsor Terjadi Sejak Awal 2026

Pemkot Semarang lakukan mitigasi dalam upaya mengatasi kasus tanah longsor. (dok Istimewa)

Pemkot Semarang lakukan mitigasi dalam upaya mengatasi kasus tanah longsor. (dok Istimewa)

Lingkar.co – Pemerintah Kota (Pemkot) Semarang menyiapkan langkah mitigasi berupa pembangunan embung di sejumlah titik rawan, menyusul meningkatnya kasus tanah longsor selama puncak musim hujan awal 2026.

Berdasarkan data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), sejak Januari hingga awal Februari 2026 tercatat 55 kejadian tanah longsor dan tanah amblas di Kota Semarang.
Kepala BPBD Kota Semarang Endro Pudyo Martanto menyebut longsor menjadi bencana dengan angka kejadian tertinggi sepanjang awal tahun ini.

“Jadi sampai saat ini tanah longsor atau tanah amblas ini terjadi sebanyak 55 kali,” ujarnya.
Menurutnya, sebagian besar kejadian berada di wilayah Semarang bagian atas yang berkontur perbukitan dan minim area resapan air.
“Rencananya Pemkot akan membuat embung-embung di wilayah yang kurang resapan, untuk mengurangi risiko tanah longsor,” katanya.

Ia menjelaskan, berkurangnya lahan hijau akibat perkembangan permukiman padat turut memperparah kondisi resapan alami air hujan. Salah satu kejadian terbaru terjadi pada Rabu (4/2) dini hari sekitar pukul 03.15 WIB di kawasan Villa Payung Indah, Kelurahan Pudak Payung, Kecamatan Banyumanik.

Longsor terjadi di talud sungai Jalan Ngesrep Raya dan berdampak pada satu rumah milik warga bernama Wilda Nugraha yang dihuni satu kepala keluarga dengan empat jiwa.

Endro menjelaskan, longsoran memiliki panjang sekitar 30 meter, lebar 5 meter, dan tinggi 4 meter.

“Talud sungai tergerus aliran air akibat hujan deras sehingga menyebabkan longsor dan berdampak pada rumah warga di sekitarnya,” jelasnya.

Akibat kejadian tersebut, kerugian materi ditaksir mencapai sekitar Rp200 juta. Tidak ada korban jiwa dalam peristiwa itu.

Usai kejadian, warga berkoordinasi dengan RT, RW, serta pihak kelurahan dan kecamatan. Petugas gabungan dari BPBD, Babinsa, Bhabinkamtibmas, dan perangkat wilayah langsung melakukan assessment, pendataan, dokumentasi, serta memberikan bantuan kedaruratan.

BPBD mengimbau masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan, terutama yang tinggal di wilayah rawan longsor dan banjir.

“Masyarakat diminta mengidentifikasi lingkungan rawan bencana dan segera berkoordinasi dengan RT, RW, kelurahan, kecamatan maupun dinas terkait, serta mewaspadai potensi hujan lebat disertai angin kencang,” tegas Endro. (Adv)

Exit mobile version