Lingkar.co – Hasil riset yang dilakukan Dosen Hubungan Internasional FISIP Universitas Indonesia, Ali Abdullah Wibisono, menyebutkan bahwa ruang siber kini tidak lagi sekadar arena teknologi, melainkan telah menjadi medan strategis dalam rivalitas geopolitik global.
Penelitian yang dilakukan bersama Australian Strategic Policy Institute (ASPI) tersebut menunjukkan bahwa ketergantungan negara terhadap infrastruktur digital—mulai dari sistem perbankan hingga pertahanan—membuat serangan siber berpotensi memberikan dampak strategis terhadap keamanan nasional.
“Terjadi pergeseran konflik antarnegara dari medan fisik ke medan digital. Ruang digital kini menjadi domain kelima dalam perang modern, sehingga memerlukan statecraft dan strategi diplomasi khusus,” ujar Ali Abdullah di Kampus UI Depok, Jumat (13/3/2026).
Ia juga menyoroti sejumlah tantangan domestik yang dihadapi Indonesia dalam mengembangkan diplomasi siber. Selain keterbatasan kerangka hukum dan kesenjangan infrastruktur digital, Indonesia juga berada di tengah tekanan geopolitik global, khususnya rivalitas antara Amerika Serikat dan Tiongkok yang memengaruhi persaingan teknologi di kawasan Indo-Pasifik.
“Indonesia menghadapi dilema politik luar negeri bebas aktif, yaitu bagaimana menyeimbangkan keterbukaan ekonomi dengan kedaulatan digital,” jelasnya.
Sementara itu, Ketua Indonesia Cyber Security Forum (ISCF), Ardi Sutedja, memaparkan data yang menunjukkan tingginya intensitas ancaman siber di Indonesia.
Dalam enam bulan terakhir saja, tercatat sekitar 3,64 miliar serangan siber atau rata-rata lebih dari 230 serangan per detik.
“Angka ini menjadi alarm serius mengenai gentingnya isu keamanan siber nasional,” kata Ardi.
Ia menambahkan bahwa Indonesia menghadapi sejumlah tantangan strategis, mulai dari diplomasi data dengan negara lain, pengaturan cross-border data flow, hingga upaya menjaga kedaulatan digital nasional.
Karena itu, pemerintah dinilai perlu memperkuat regulasi, mendorong pengembangan teknologi lokal, serta memastikan perlindungan hak digital masyarakat.
Selain aspek keamanan, diplomasi siber juga dipandang memiliki potensi besar untuk mendukung pertumbuhan ekonomi digital nasional. Oleh sebab itu, Ardi menekankan pentingnya pendekatan diplomasi modern yang melibatkan kolaborasi lintas sektor dan multi-stakeholder, termasuk akademisi, industri teknologi, dan aktor non-negara.
Penulis: Putri Septina
