Site icon Lingkar.co

PMII Salatiga Dilantik, Siap Tinggalkan Stagnasi dan Perkuat Tradisi Toleransi

PMII Kota Salatiga kepengurusan 2025-2026 resmi dilantik. (dok Istimewa)

PMII Kota Salatiga kepengurusan 2025-2026 resmi dilantik. (dok Istimewa)

Lingkar.co — Pengurus Cabang Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Kota Salatiga resmi memulai masa kepengurusan 2025–2026 setelah dilantik pada Sabtu (29/11). Mengangkat tema “Cita Loka Pergerakan: Hantam Stagnasi, Bentengi Toleransi”, prosesi pelantikan menjadi penanda awal konsolidasi gerakan PMII di kota berhawa sejuk itu.

Sejumlah tokoh hadir memberikan dukungan, seperti Wasekjend PB PMII Aji Fadhil Hidayatullah, Bendahara PKC PMII Jateng Hendrik, Ketua MabinCab PMII Salatiga Luqman Hakim, serta perwakilan IKA PMII dan berbagai organisasi mahasiswa.

Dalam kesempatan itu, Aji Fadhil Hidayatullah menyoroti pentingnya penguatan kapasitas kader di tengah cepatnya perubahan global.

“Kita memasuki fase baru dengan tantangan yang tidak lagi sama. Kader PMII harus terus memperkaya literasi digital dan kemampuan akademiknya,” tegasnya.

Aji menekankan bahwa gagasan Era Baru PMII merupakan ajakan untuk memperluas peran kader dalam dinamika masyarakat modern, bukan sekadar slogan internal.

“Sekarang kader PMII tidak cukup hanya hadir di ruang sosial atau akademik, tetapi juga harus mampu beradaptasi dengan perubahan, terutama di ranah digital,” ujarnya.

Ia juga mengingatkan pentingnya pemahaman isu kebangsaan dan problem sosial agar kader mampu menawarkan solusi nyata.

“Pemimpin PMII ke depan harus punya kapasitas, integritas, dan orientasi pada penyelesaian masalah. Itu yang akan menjaga PMII tetap relevan,” tambahnya.

Sementara itu, Muhammad Nabil Murod sebagai Ketua PC PMII Salatiga yang baru dilantik menegaskan komitmennya menjadikan PMII sebagai ruang pengkaderan intelektual Nahdliyin yang lebih progresif.

“Kader PMII harus responsif terhadap perkembangan zaman, kritis membaca isu, dan tetap berpijak pada nilai kemanusiaan,” tuturnya.

Nabil melihat penguatan tradisi intelektual berbasis nilai Ahlussunnah wal Jamaah sebagai fondasi agar kader tumbuh menjadi pribadi yang moderat, visioner, dan inklusif.

Menurutnya, tema “Hantam Stagnasi, Bentengi Toleransi” menjadi pengingat agar organisasi tidak berjalan di tempat, dan tetap inovatif dalam menjawab tantangan teknologi maupun dinamika sosial.

Pelantikan ini menandai dimulainya babak baru PMII Salatiga untuk memperkuat pergerakan yang adaptif, progresif, dan berorientasi pada semangat toleransi sebagai tiang utama organisasi. ***

Exit mobile version