Protes Terkait Penanganan Limbah di Rembang, Seorang Aktivis Lingkungan Lakukan Aksi Jalan Kaki ke Jakarta

Pelepasan aktifis lingkungan, Lilik Yuliantoro, akan melakukan kegiatan jalan kaki menuju Jakarta, Rabu (20/1). (SALAM/LINGKAR.CO)
Pelepasan aktifis lingkungan, Lilik Yuliantoro, akan melakukan kegiatan jalan kaki menuju Jakarta, Rabu (20/1). (SALAM/LINGKAR.CO)

REMBANG, Lingkar.co – Ketidakjelasan penanganan limbah yang berada di daerah perbukitan Jati Sari, Sluke, Rembang, mendorong salah satu aktivis lingkungan di Kota Garam, melakukan aksi jalan kaki ke Jakarta. 

Lilik Yuliantoro, yang juga merupakan anggota kawal indonesia lestari (Kawali) tersebut bertolak dari Rembang pada pukul 10 pagi, Rabu (20/1).

“Dengan adanya limbah ini saya berharap dituntaskan sampai ke akar akarnya dan siapun yang terlibat akan diproses secara hukum dan diadili,” tuturnya kepada Lingkar.co, Rabu (20/1). 

Lilik mengaku, terketuk akan adanya persoalan limbah yang tak kunjung selesai. Sehingga dirinya melakukan proses jalan kaki sebagai simbol perjuangan dari para leluhur. 

“Saya baca-baca berita. Sudah ada limbah dan belum ada respon keras. Jadi aksi ini tidak ditunggangi siapapun. Tidak ada kaitannya dengan politik. Ini murni dari hati saya. Jika dikait-kait kan dengan politik saya tidak setuju,” paparnya.

Dalam aksinya nanti, Lilik mengaku akan menyambangi beberapa tempat di jawa tengah terlebih dahulu sebelum tiba di jakarta. Seperti datang ke gubernur, DLH Jawa Tengah, DPRD Jawa tengah serta Kapolda jawa tengah.

Dalam aksinya, Lilik menargetkan akan tiba di jakarta sekitar 25 hari mendatang. Dalam perjalannya, ia hanya membawa dua lembar pakaian saja dan uang 100 ribu saja. 

“Ini aksi spontan, jadi saya tidak ada persiapan sama sekali.  Ketika saya lihat ada isu nasional saya ambil dan melakukan aksi,”  ujarnya.

Sebelumnya Kawali dan beberapa Masyarakat sempat datang ke intansi terkait guna meminta penjelasan akan adanya limbah tersebut.  Setidaknya telah ada dua aksi dan audiensi bersama di DPRD Rembang guna mencari kebenaran akan keberadaan limbah di perbukitan Jatisari,  Sluke tersebut.

“Selama dua kali audiensi mengundang dari para OPD terkait, mereka tidak tahu.  Dan mereka menyampaikan ketidaktahuanya dengan adanya limbah tersebut. Jadi sampai hari ini masyarakat terdampak tidak tahu siapa sebenarnya pemilik limbah tersebut,” ungkapnya. (lam/aji)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.