Lingkar.co– Sejumlah suplyer yang memasok kebutuhan program Makan Bergizi Gratis (MBG) mendatangi SPPG di Desa Protomulyo, Kecamatan Kaliwungu, Kabupaten Kendal, Senin (6/4/2026). Kedatangan mereka untuk menagih pembayaran yang nilainya mencapai ratusan juta rupiah.
Salah satu suplyer, Faqihudin, mengaku memiliki tagihan sebesar Rp141 juta yang belum dibayarkan sejak akhir Desember 2025. Tagihan tersebut berasal dari suplai susu yang rutin dikirim setiap pekan dalam jumlah puluhan karton.
“Totalnya Rp141 juta, belum dibayar sejak akhir tahun lalu,” ujarnya.
Menurutnya, nilai tagihan terus membengkak karena akumulasi pengiriman yang belum dilunasi. Ia juga menyebut telah beberapa kali melakukan penagihan, baik secara langsung maupun melalui pesan WhatsApp, namun belum mendapatkan kejelasan pembayaran.
“Setiap ditagih alasannya selalu berubah, dan responsnya lambat,” katanya.
Faqihudin menambahkan, tidak hanya dirinya yang mengalami hal serupa. Beberapa suplyer lain juga disebut memiliki tagihan yang belum dibayarkan, meski nilainya lebih kecil.
“Ada juga suplyer lain yang tagihannya puluhan juta. Bahkan sebelumnya ada suplyer lama yang masih punya tanggungan tapi ditinggalkan,” ungkapnya.
Sementara itu, pihak SPPG Protomulyo I melalui bagian akunting, Galuh, menyatakan bahwa pembayaran telah dilakukan secara rutin setiap ada barang yang masuk.
“Dari kami rutin membayar dan semua sudah kami bayarkan,” jelasnya.
Ia menerangkan, mekanisme pembayaran dilakukan melalui Koperasi Merakyat. Pihak SPPG mengaku menyalurkan pembayaran ke koperasi, yang kemudian bertugas meneruskan kepada para suplyer.
“Kami bayarnya ke koperasi, nanti koperasi yang membayarkan ke suplyer,” tandasnya.
Di sisi lain, Ahmad Munfarid selaku PIC Koperasi Merakyat mengatakan dirinya tidak mengetahui secara rinci terkait pengelolaan keuangan di koperasi tersebut.
“Tugas saya hanya mencarikan bahan baku atau belanjaan untuk kebutuhan MBG,” ujarnya. (*)
Penulis: Yoedhi W








