Lingkar.co – Memasuki Ramadan, ritme jalanan di wilayah Jawa Tengah mengalami perubahan drastis. Volume kendaraan meningkat, pola aktivitas berubah, sementara kondisi fisik pengendara ikut terpengaruh akibat menahan lapar dan dahaga.
Senior Instruktur Safety Riding Astra Motor Jawa Tengah, Oke Desiyanto, menjelaskan kondisi tubuh saat berpuasa dapat dianalogikan seperti fitur “Low Power Mode” pada ponsel.
“Ketika baterai tinggal 15 persen, layar meredup dan respons melambat. Saat puasa, tubuh juga seperti itu. Kadar gula darah menurun membuat otak bekerja lebih lambat memproses informasi,” ujarnya.
Ia menjelaskan, dalam kondisi normal waktu reaksi pengendara sekitar 0,5 detik. Namun saat berpuasa, respons bisa melambat hingga 1 detik atau lebih. Dalam kecepatan tinggi, selisih setengah detik dapat menjadi pembeda antara selamat atau celaka, terutama jika terjadi pengereman mendadak di jalur padat seperti lingkar Demak atau Pati.
Menurut Oke, terdapat dua waktu paling kritis bagi pengendara sepeda motor selama Ramadan.
Pertama, sore hari menjelang berbuka atau waktu ngabuburit. Pada fase ini kondisi fisik berada di titik terendah, sementara lalu lintas meningkat tajam karena masyarakat ingin segera tiba di rumah. Fenomena “kesusu” atau terburu-buru sering membuat pengendara mengabaikan lampu merah dan marka jalan. Aktivitas pedagang takjil di tepi jalan juga menambah kepadatan dan potensi gangguan konsentrasi.
Kedua, pagi hari pasca sahur. Perubahan jam tidur memicu rasa kantuk yang berisiko menyebabkan microsleep atau tertidur sekejap tanpa sadar. Dalam simulasi sederhana, jika pengendara melaju 50 km/jam dan mengalami microsleep selama tiga detik, motor akan melaju tanpa kendali sejauh sekitar 41 meter. Jarak tersebut setara lebih dari sembilan mobil keluarga yang diparkir berderet.
“Microsleep itu sangat berbahaya karena pengendara merasa masih sadar, padahal otak sempat ‘mati’ beberapa detik,” jelasnya.
Untuk meminimalkan risiko, pengendara diminta memahami kapasitas tubuh sendiri. Jika mata terasa berat atau fokus terpecah, sebaiknya menepi di masjid atau rest area terdekat. Istirahat 10–15 menit dinilai jauh lebih aman dibanding memaksakan diri.
Selain itu, pengendara disarankan menambah jarak aman. Jika biasanya menjaga jarak tiga meter, saat puasa sebaiknya diperlebar menjadi lima meter guna memberi ruang tambahan bagi waktu reaksi otak. Manuver agresif juga sebaiknya dihindari karena menguras energi dan memicu emosi.
Oke juga mengingatkan pentingnya asupan saat sahur. Konsumsi karbohidrat kompleks yang melepaskan energi secara perlahan dan perbanyak air putih untuk mencegah dehidrasi. Penggunaan jaket terlalu tebal saat siang terik juga dapat mempercepat kehilangan cairan tubuh.
“Jangan korbankan keselamatan demi mengejar waktu berbuka yang hanya selisih beberapa menit. Berkendaralah dengan sabar, karena kesabaran adalah inti dari puasa itu sendiri. Teko panggonan kanthi slamet, ibadah lancar, ati ayem,” pungkasnya. ***


