Sasar Daerah Miskin Ekstrem, Gus Yasin Minta Masyarakat Ikut Kampanye Cegah Stunting

Wakil Gubernur Jawa Tengah Taj Yasin Maimoen (Gus Yasin) saat memberikan sambutan, dalam kesempatan tersebut dirinya mengangkat isu terkait cegah stunting di Jateng. HUMAS/LINGKAR.CO
Wakil Gubernur Jawa Tengah Taj Yasin Maimoen (Gus Yasin) saat memberikan sambutan, dalam kesempatan tersebut dirinya mengangkat isu terkait cegah stunting di Jateng. HUMAS/LINGKAR.CO

Semarang, Lingkar.co – Wakil Gubernur Jawa Tengah, Taj Yasin Maimoen meminta masyarakat turut gencarkan kampanye cegah stunting. Gus Yasin, sapaan akrab putra ulama kharismatik almarhum KH. Maimoen Zubair ini menyebut program pencegahan stunting juga menyasar pada daerah miskin ekstrem.

“Program-program penurunan stunting kita sosialisasikan secara intensif di kabupaten-kabupaten. Terutama kabupaten dan kota yang masuk zona merah miskin, karena biasanya stuntingnya juga tinggi,” kata Gus Yasin saat memberi sambutan acara “Internalisasi Pengasuhan Balita dalam rangka Percepatan Penurunan Stunting Tingkat Provinsi Jateng, di Hotel PO, Selasa (20/9/2022).

Gus Yasin menerangkan bahwa stunting tidak hanya terkait kesehatan dan asupan gizi balita 1.000 hari setelah lahir, tetapi juga menyangkut lingkungan. Terkait lingkungan, Panglima Santri Gayeng Nusantara ini memaparkan berbagai program jambanisasi, rehab rumah tidak layak huni (RTLH) juga digenjot.

Bahkan, lanjut Gus Yasin, Pemprov Jateng telah mendorong kampanye cegah stunting melalui banyak program. Seperti, gerakan Jateng Gayeng Nginceng Wong Meteng, dan Jo Kawin dan banyak program lainnya.

Berbagai program tersebut, menurutnya tidak hanya fokus pada pengentasan kemiskinan. Namun lebih dari itu juga juga mengarah pada sosialisasi tentang stunting dan pentingnya menjaga kesehatan diri dan generasi penerus bangsa.

“Ini adalah momentum yang paling bagus, karena masyarakat tanpa kita sadari mereka menjadi lebih perhatian terhadap kesehatan. Kita sampaikan ini penting untuk kesehatan panjenengan, keturunan, dan warga kedepan. Maka kita datangi kampus, sekolah, dan pondok pesantren karena remaja-remaja ini harus kita edukasi. Serta meminum tablet penambah darah,” tutur kiai muda yang kini juga menjabat sebagai Ketua Dewan Kehormatan PMI Jawa Tengah.

BKKBN: Perlu Peran Aktif Seluruh Pihak

Sementara, Kepala Perwakilan Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Jateng, Widiono mengaku tidak mudah untuk mencapai target penurunan stunting sebesar 14% pada tahun 2024. Namun, dia yakin tidak ada yang tidak mungkin apabila seluruh pihak bersatu, dan berkontribusi secara aktif dalam upaya percepatan penurunan stunting.

“Alhamdulillah untuk Jawa Tengah dari hasil SSGI (Survei Status Gizi Indonesia) terakhir itu sudah dibawah angka nasional. Angka (stunting) nasional di angka 24,4%, sedangkan (angka stunting) Jawa Tengah di angka 20,9%. Artinya, Jawa Tengah sudah on the track,” katanya.

Lebih jauh dia menuturkan, BKKBN Jateng juga telah membentuk Tim Percepatan Penurunan Stunting (TPPS) tingkat provinsi di 35 kabupaten/kota, 576 TPPS kecamatan, serta sebanyak 8.650 desa/kelurahan.

Penulis: Ahmad Rifqi Hidayat

Editor: Muhammad Nurseha

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.