Sepi Pengunjung, Pedagang Makanan di Plaza Pragola Bertahan di Tengah Lesunya Usaha

Ristiyanti, pedagang yang masih bertahan di Plaza Pragola Pati. Foto: Miftah/Lingkar.co

Lingkar.co – Kondisi Plaza Pragola, sentra oleh-oleh khas Bumi Mina Tani di Kabupaten Pati, kini jauh dari keramaian seperti beberapa tahun silam. Salah satu pedagang makanan, Ristiyanti, harus berjuang mempertahankan usahanya di tengah minimnya pembeli yang datang.

Perempuan asal Desa Dadirejo, Kecamatan Margorejo itu mengaku situasi sepi sudah berlangsung sejak pandemi Covid-19 melanda dan hingga kini belum benar-benar pulih. Padahal, sebelum pandemi, kawasan tersebut dikenal cukup ramai oleh pengunjung, baik dari dalam maupun luar daerah.

“Dulu ramai sekali, sepi sejak ada Corona sampai sekarang belum pulih. Dari dulu jualan di sini, jualan penyetan seperti lele, ayam goreng, rica-rica,” ujarnya, Rabu (11/2/2026).

Ristiyanti mulai berjualan di Plaza Pragola sejak 2017. Pada masa-masa awal, lapaknya bersama deretan kios lain selalu dipadati pembeli. Namun kini, sebagian besar kios di sekitarnya telah tutup karena tidak mampu bertahan.

Ia menyebut, saat kondisi masih ramai, pendapatan hariannya bisa mencapai Rp1,5 juta. Kini, omzetnya merosot tajam, bahkan sering kali tidak sampai Rp400 ribu per hari, sehingga kesulitan menutup modal belanja bahan.

“Dulu itu pemasukan banyak, sekarang separuhnya dulu. Dulu per hari banyak (pengunjung), sekarang cuma pegawai kantor (Dinas Perdagangan dan Perindustrian Kabupaten Pati) tok, mereka paling sarapan dan makan siang. Dulu orang luar pada ke sini,” ungkapnya dengan nada sedih.

Dalam sehari, jumlah pembeli yang datang bahkan tak sampai sepuluh orang. Ia pun mengaku kerap kesulitan untuk sekadar memenuhi kebutuhan kulakan.

“Pendapatan sekarang kadang yo gak bisa buat kulakan. Pendapatan Rp400.000 saat ini udah sulit, dulu sampai Rp1.100.000, bisa Rp1.500.000,” tuturnya.

Saat ini, hanya tersisa empat pedagang makanan yang masih bertahan di Plaza Pragola. Sementara itu, kios penjual suvenir khas Pati sudah tidak lagi beroperasi. Beberapa penyewa lapak disebutnya datang bukan untuk berjualan, melainkan untuk kepentingan lain.

Ironisnya, meski di dalam kawasan terdapat bioskop yang cukup ramai, para pengunjungnya jarang membeli makanan di area food court. Mereka lebih memilih membeli dari luar atau dari gerai yang tersedia di dalam bioskop.

“Event paling lomba-lomba manuk (kontes burung). Bioskop ramai-ramai gak jajan di sini mereka,” katanya.

Dengan kondisi tersebut, Ristiyanti berharap Pemerintah Kabupaten Pati dapat mengambil langkah konkret untuk menghidupkan kembali aktivitas ekonomi di Plaza Pragola, sehingga pelaku usaha kecil dan menengah dapat kembali bangkit.

“Harapannya moga-moga ramai seperti dulu lagi,” ucapnya penuh harap.

Ia menambahkan, meskipun Pemkab Pati berencana menyediakan fasilitas wifi gratis untuk menarik pengunjung, dirinya telah lebih dulu memasang jaringan wifi secara mandiri di lapaknya demi menunjang usaha. (*)