Tanah Ambles di Kaliori Rembang, Lima Keluarga Terdampak

Tanah ambles di Kaliori, Rembang. Foto: Istimewa.

Lingkar.co – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Rembang melakukan penanganan menyusul peristiwa tanah ambles di Dusun Gobok, Desa Gunungsari, Kecamatan Kaliori. Kejadian yang dipicu intensitas hujan tinggi itu mengakibatkan empat rumah warga dan satu kandang ternak mengalami kerusakan.

Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Rembang, Muhammad Luthfi Hakim, mengatakan curah hujan tinggi dalam beberapa hari terakhir membuat kontur tanah menjadi gembur dan tidak stabil.

“Karena beberapa hari yang lalu intensitas hujan tinggi, membuat kontur tanah menjadi gembur. Sekitar 62 meter tanah bergerak turun ke bawah,” jelas Luthfi, kemarin.

Hasil asesmen sementara mencatat total kerugian ditaksir mencapai sekitar Rp192 juta. Rumah milik Darto dilaporkan amblas kurang lebih dua meter dengan estimasi kerugian sekitar Rp90 juta. Kandang ternak milik Sukarji mengalami kerusakan dengan taksiran Rp12 juta.

Sementara itu, rumah milik Lukman Arif mengalami kerusakan pada pondasi dan dinding retak dengan estimasi kerugian Rp10 juta. Rumah milik Umbarno rusak pada bagian kamar mandi dan kandang dengan estimasi Rp50 juta. Adapun rumah Suwarni mengalami retak dinding pada lantai dua dengan taksiran kerugian sekitar Rp30 juta.

BPBD Kabupaten Rembang telah mendata warga terdampak dan berkoordinasi dengan pemerintah desa serta organisasi perangkat daerah (OPD) terkait untuk langkah penanganan lanjutan. Meski kondisi tanah masih bergerak, sebagian warga memilih tetap bertahan karena kerusakan mayoritas terjadi di bagian belakang bangunan.

Sebagai bentuk dukungan selama masa tanggap darurat, lima keluarga terdampak menerima bantuan sembako dari Dinas Sosial Pemberdayaan Perempuan dan Keluarga Berencana Kabupaten Rembang.

BPBD mengimbau masyarakat meningkatkan kewaspadaan, terutama saat hujan deras yang berpotensi memperparah pergerakan tanah.

Salah satu perwakilan keluarga terdampak, Chorik, menyebut peristiwa tanah ambles mulai terjadi sejak 18 Januari 2026 dan berlangsung bertahap, kemudian semakin parah setelah hujan deras pada 23 Februari 2026.

“Amblesnya setiap hari, setiap lima menit ada gerakan-gerakan. Rumah ayah saya yang bagian belakang sudah turun. Kamar mandi sekarang posisinya di bawah, padahal sebelumnya sejajar dengan rumah,” ungkapnya.

Hingga kini, BPBD Kabupaten Rembang terus melakukan pemantauan berkala di lokasi dan menyiapkan langkah antisipatif untuk meminimalkan risiko lanjutan bagi warga sekitar. (*)