Berita  

Tingkatkan Profesionalitas Staf dan Karyawan, PMI Kota Semarang Latih Customer Satisfaction

Founder sekaligus Trainer VCTAMA Academy, Vika Himawanti Suprapoto, SE, C.PS saat memulai sesi Customer Satisfaction bagi staf dan karyawan di Aula Lt.4 UDD PMI Kota Semarang/LINGKAR.CO/Ahmad Rifqi Hidayat
Founder sekaligus Trainer VCTAMA Academy, Vika Himawanti Suprapoto, SE, C.PS saat memulai sesi Customer Satisfaction bagi staf dan karyawan di Aula Lt.4 UDD PMI Kota Semarang/LINGKAR.CO/Ahmad Rifqi Hidayat

Semarang, Lingkar.co – Palang Merah Indonesia (PMI) Kota Semarang memberikan pelatihan Customer Satisfaction bagi staf dan karyawan untuk meningkatkan profesionalitas kerja di bidang kemanusiaan. Kegiatan yang berlangsung di Aula lt.4 Unit Donor Darah (UDD) PMI Kota Semarang ini berlangsung selama 2 hari dengan 3 sesi.

Founder sekaligus Trainer VCTAMA Academy, Vika Himawanti Suprapoto, SE, C.PS saat ditemui di ruang transit mengatakan pentingnya keterampilan komunikasi Customer Satisfaction bagi staf, karyawan maupun relawan PMI.

“Bagaimana kita membangun branding, baik dari sisi SDM PMI itu sendiri maupun produk yang ditawarkan,” kata Vika, sapaan akrab Vika Himawanti Suprapto kepada awak media, Sabtu (29/10/2022).

2023-12-tgl-13-larangan-kampanye

Branding atau citra yang dia maksud bukan pencitraan, melainkan mencitrakan diri sebagai pelaku kegiatan kemanusiaan dan PMI organisasi yang fokus pada pelayanan kemanusiaan secara konsisten sehingga diri dan organisasi benar-benar memiliki brand sebagai organisasi yang memberikan pelayanan kemanusiaan.

“Personal branding itu setiap orang yang punya profesi itu baiknya sudah harus belajar atau mengetahui personal branding,” ujarnya menegaskan.

2023-12-tgl-13-pihak-yang-dilarang-ikut-kampanye

Vika juga menegaskan, personal branding meliputi aktivitas pribadi dalam berinteraksi sosial dalam lingkup pertemanan maupun bermasyarakat.

Png-20230831-120408-0000

Sedangkan produk branding, menurut Vika harus membuat skema promosi yang konsisten dan jelas. Dalam hal ini narasi maupun penuturan sebisa mungkin menghindari missed comunication.

Sebagai contoh pelayanan ambulans gratis.

“Mulai dari mudahnya untuk diakses, mudah dihubungi. Oh gratisnya apa nih? Apa gratis semua, apa hanya gratis SDMnya (petugas) tapi BBM, tol dan sebagainya masih dibebankan kepada masyarakat. Itu diberitahukan atau disampaikan kepada masyarakat yang ingin meminjam itu sedetail mungkin,” jelasnya.

Ketua Bidang Diklat Pengurus PMI Kota Semarang, Dr. dr. Yan Wisnu Prajoko, MKes, Sp.B(K)Ong menuturkan softskill tersebut tidak hanya dibutuhkan oleh staf dan karyawan, melainkan juga relawan. Namun pada kesempatan ini baru diikuti oleh staf dan karyawan.

Dokter Yan mengakui akan adanya perbedaan materi tentang komunikasi antara relawan yang lebih banyak bergerak langsung di masyarakat dibanding dengan staf yang ada di kantor.

“Interaksi mereka (Relawan) langsung ke masyarakat. Jadi cara berkomunikasi, cara men-treatment problematika di masyarakat itu perlu dilatih supaya tidak mengecewakan, tidak ada aspek negatif yang diterima oleh masyarakat,” jelasnya.

Menurut Dokter Yan, PMI sebagai organisasi yang memberikan pelayanan sosial kemasyarakatan memerlukan peningkatan keterampilan staf dan karyawan secara terukur.

“Memerlukan pelatihan secara terus menerus supaya tertanam dalam jiwanya untuk memiliki skill yang baik dalam hal komunikasi customer service action dalam memberikan kepuasan kepada konsumen,” ujar dia.

Dokter Yan berharap para peserta bisa menerapkan hasil pelatihan sehingga ada perubahan sikap dalam komunikasi dan melayani masyarakat.

Terkait tingkat indeks kepuasan masyarakat terhadap pelayanan PMI, Dokter Yan mengungkapkan adanya survey terhadap penerima manfaat.

“Kami sih secara periodik sudah melakukan survey di unit-unit yang berkaitan dengan pelayanan kami rutin melakukan survey,” akunya.

“Terutama masyarakatnya, kepuasan, komplain. Baik mengenai servisnya maupun personalnya. Itu memang rutin,” sambungnya.

Evaluasi perubahan sikap bagi karyawan dan staf, lanjutnya bakal tertedeksi dari tools (perangkat quotiner,-red) yang terukur sesuai kebutuhan.

“Nanti kita susun tools, apakah sesuai denga tools yang rutin kita lalukan atau membuat tools yang baru,” pungkasnya.

Penulis : Ahmad Rifqi Hidayat

Editor : Muhammad Nurseha

Dapatkan update berita pilihan dan terkini setiap hari dari lingkar.co dengan mengaktifkan Notifikasi. Lingkar.co tersedia di Google News, s.id/googlenewslingkar , Kanal Telegram t.me/lingkardotco , dan Play Store https://s.id/lingkarapps

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *