Tujuh Bulan Berjalan, Koperasi Merah Putih Blok M Masih Catat Kerugian

KKMP Melawai. Foto: Istimewa.

Lingkar.co – Aktivitas sore di kawasan Blok M Hub selalu ramai dengan lalu lalang pengunjung. Di tengah deretan tenant modern, terdapat satu gerai sederhana yang mengusung konsep ekonomi gotong royong, yakni Koperasi Kelurahan Merah Putih (KKMP) Melawai.

Koperasi ini berada di area basement dan tampil layaknya minimarket kecil. Berbagai kebutuhan sehari-hari seperti sembako, makanan ringan, minuman, hingga produk UMKM tersusun rapi di rak. Papan merah-putih dengan nama koperasi serta gambar Presiden Prabowo Subianto menjadi penanda utama lokasi tersebut.

Ketua KKMP Melawai, Paiman, menjelaskan koperasi ini merupakan bagian dari program nasional yang diluncurkan sejak 21 Juni 2025 sebagai proyek percontohan di DKI Jakarta.

“Jadi awalnya berdiri 21 Juni 2025, yaitu pada waktu pembukaan Pak Prabowo, Pak Presiden kita, itu seluruh Indonesia. Kebetulan di DKI Jakarta penempatannya di Melawai sebagai mock-up atau percontohan se-DKI Jakarta,” kata Paiman, Rabu (11/3/2026).

Sebagai proyek percontohan, operasional koperasi didukung sejumlah BUMN dan BUMD seperti Pasar Jaya, Dharma Jaya, dan Pertamina dengan skema konsinyasi.

“Kebetulan koperasi kita sebagai percontohan, makanya dibantu oleh stakeholder dari BUMN dan BUMD. Ada Pasar Jaya, Dharma Jaya, dan Pertamina. Barang-barangnya disuplai dengan sistem konsinyasi semua,” jelasnya.

Dengan skema tersebut, koperasi bahkan memulai operasional tanpa modal awal.

“Modal dari Koperasi Merah Putih Melawai itu nol. Belum ada modal sama sekali, hanya dibantu oleh koperasi dinas pusat karena koperasi kita menjadi percontohan di DKI Jakarta,” ujarnya.

Selain produk dari BUMN dan BUMD, koperasi juga menampung produk UMKM melalui wadah bernama Centong Deli.

“Produk di luar BUMN dan BUMD kita wadahi melalui Centong Deli. Di situ ada berbagai produk UMKM maupun produk dari desa-desa,” kata Paiman.

Dalam operasionalnya, koperasi memiliki lima pengurus dan lima pengawas, namun hanya dua pengurus yang aktif menjalankan kegiatan harian.

“Untuk sementara ini yang aktif ada dua orang, karena tiga pengurus lainnya memiliki pekerjaan lain,” ujarnya.

Jam operasional koperasi berlangsung Senin hingga Kamis pukul 10.00–18.00 WIB, serta Sabtu dan Minggu hingga pukul 19.00 WIB, sementara Jumat tutup.

Meski menawarkan harga lebih murah dibanding pasar, selisihnya dinilai belum cukup menarik minat pembeli.

“Kalau di sini jelas lebih murah. Mungkin sekitar Rp 500-an per item. Ada yang selisih Rp 200, ada yang Rp 500. Yang jelas memang lebih murah,” ujarnya.

Selama tujuh bulan beroperasi, koperasi ini masih mencatatkan kerugian secara finansial.

“Dari tujuh bulan ini, secara kalkulasi laporan keuangan, kita sebenarnya masih minus,” kata Paiman.

Ia menyebut kondisi tersebut dipengaruhi persaingan dengan ritel modern di sekitar lokasi serta posisi koperasi yang kurang strategis karena berada di basement.

“Tempatnya ini di basement Blok M Hub, jadi agak menyempil,” tandasnya.

Penulis: Putri Septina