Yang Merindu dan yang Dirindukan Surga

  • Bagikan
Faiqun Niam, S.Pd.I Kepala MTs PB Roudlotul Mubtadiin Balekambang Jepara. Dok Pribadi/LINGKAR.CO
Faiqun Niam, S.Pd.I Kepala MTs PB Roudlotul Mubtadiin Balekambang Jepara. Dok Pribadi/LINGKAR.CO

Oleh : Faiqun Niam, S.Pd.I
Kepala MTs PB Roudlotul Mubtadiin Balekambang Jepara

Ketika berbicara surga, mungkin sebagian anak muda akan berpikir bahwa kita terlampau jauh. Di usia yang masih muda, kenapa sudah harus memikirkan surga? Nikmati saja hidup ini dengan santai. Bukankah hidup ini hanya sementara.

Tetapi siapa yang tahu nasib seseorang? Takdir adalah hak prerogatif Allah Subhanahu wa taala. Rahasia yang tidak pernah diketahui oleh hamba-hamba-Nya. Tugas manusia hanya berusaha melakukan amal terbaik di dunia.

Surga adalah tempat persinggahan terakhir manusia. Ibaratnya kita sedang melakukan pelayaran menuju sebuah pelabuhan tempat kapal yang kita tumpangi berlabuh. Surga merupakan tempat terindah yang dijanjikan Allah Subhanahu wa Taala kepada hamba-Nya yang bertakwa, dimana di dalam surga berisi kenikmatan dan kebahagiaan hakiki yang tidak pernah terbayangkan sebelumnya. Siapapun pasti mendambakan surga dan dengan rahmat Allah, manusia memasuki surga. Seandainya manusia mengetahui gambaran surga dengan pasti, tentu mereka akan sekuat tenaga berusaha untuk meraihnya.

Dalam kehidupan dunia, kita bisa melihat orang yang berjuang mati-matian dalam pekerjaan mereka dan kemudian sukses di bidangnya. Mereka sanggup begadang berjam-jam lamanya, selama berbulan-bulan, bahkan bertahun-tahun karena mengharapkan gaji yang besar di akhir bulan atau promosi jabatan, meskipun mereka harus melalui masa sulit, berpisah dengan keluarga, menguras otak dan pikiran, serta membuat tubuh menjadi sakit.

Demikianlah juga dalam mengharapkan dan merindukan surga. Kita bisa berpikir bagaimana mendapatkan kenyamanan di surga sebagaimana kita memikirkan bayaran atau gaji dari hasil bekerja. Analogi ini memperjelas bahwa untuk mendapatkan sebuah kenikmatan itu harus melalui kerja keras, bersusah payah dan rela mengorbankan sesuatu yang sifatnya hanya sementara.

Pada bulan ramadhan ini, manusia yang merindukan surga haruslah selalu menjalankan perintah Allah selain melaksanakan yang wajibnya, tetapi juga harus menjalankan yang sunahnya. Bahkan di bulan yang penuh pahala ini, amalan-amalan sunah diganjar sama dengan pahala amalan yang wajib. Begitu pula amalan-amalan wajib akan dilipatgandakan 70 kali lipat besarnya.

Akan tetapi Rasulullah SAW menyebutkan dalam haditsnya bahwa surga merindukan manusia-manusia sebagai penghuninya kelak. Ketika manusia menginginkan dan merindukan surga, ini malah surga sendiri yang merindukan golongan tersebut. Jika bisa dianalogikan adalah seperti halnya kita akan bepergian untuk bekerja, kemudian istri, anak-anak dan keluarga kita mengkabarkan kepada kita bahwa kita dirindukan oleh mereka semua, betapa senangnya kita. Apalagi kalau yang merindukan kita adalah surga. Siapakah yang dirindukan surga?

Sesuai hadits Rasulullah SAW dalam hadits yang diriwayatkan oleh Imam Abu Daud, Imam Tirmidzi dari Ibnu Abbas, ada 4 (empat) golongan manusia yang dirindukan surga. Mereka adalah Taali al-quran wa Haafidzi al-lisan wa Muthimi al-Jiiaan wa Shaaimin fi syahri ramadhan.

Taali al-quran, yakni manusia yang gemar membaca kitab suci Al-Quran.

Golongan pertama manusia yang dirindukan surga adalah mereka yang gemar membaca kitab suci Al-Quran.  Al-Quran merupakan pedoman hidup umat Islam, membaca dan memahami serta mengamalkannya menjadi bentuk ibadah yang sangat besar pahalanya.

Adalah sebuah anugerah yang istimewa ketika surga merindukan manusia yang gemar membaca Al-Quran.  Karena dengan bacaan tersebut, Allah telah pula memberikan ketenangan batin, kasih sayang dan kecintaan-Nya, serta kemuliaan dan selalu diingat oleh Allah Subhanahu wa Taala.  Subhanallah.

Balasan berupa pahala yang sangat besar juga telah disiapkan bagi mereka yang gemar membaca kitab suci Al-Quran sebagaimana sabda Rasulullah Sallallahu alaihi wa Sallam berikut ini:

Siapa yang membaca satu huruf dari Al-Quran maka baginya satu kebaikan dengan bacaan tersebut, satu kebaikan dilipatkan menjadi 10 kebaikan semisalnya dan aku tidak mengatakan AlifLaamMiim satu huruf akan tetapi Alif satu huruf, Laam satu huruf, dan Miim satu huruf.  (HR.  Tirmidzi).

Haafidzu al-lisan, yakni manusia yang mampu menjaga lisannya

Golongan manusia yang dirindukan surga berikutnya adalah mereka yang senantiasa menjaga lidahnya dari perkataan yang tidak baik.  Orang yang mampu menjaga lisannya tentu tidak akan menyakiti orang lain dengan perkataannya.  Hendaklah kita menjaga lisan kita sebagai bentuk ketaatan kepada Allah Subhanahu wa Taala dengan perkataan yang baik dan bermanfaat.

Allah Subhanahu wa Taala berfirman:  Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kamu sekalian kepada Allah dan katakanlah perkataan yang benar, niscaya Allah memperbaiki amalan-amalanmu dan mengampuni dosa-dosamu.  Siapa mentaati Allah dan Rasul-Nya, maka sesungguhnya ia telah mendapat kemenangan yang besar.  (QS.  Al-Ahzab:  70-71).

Lidah memang bisa menimbulkan masalah besar jika tidak mampu menjaganya dengan perkataan yang baik dan benar.  Lidah bisa lebih tajam dari pedang, karena dengan lidah seseorang bisa melakukan fitnah, menyebarkan kebohongan dan kebencian sehingga menimbulkan pertikaian bahkan perpecahan.

Dari Abi Hurairah Radhiyallahu anhu sesungguhnya Rasulullah Sallallahu alaihi wa Sallam bersabda:  Siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir maka hendaklah ia berkata baik atau lebih baik diam, barangsiapa yang beriman maka hendaklah ia memuliakan tetangganya dan barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir maka hendaklah ia memuliakan tamunya.  (HR.  Bukhari).

Muthimu al-jiiaan, yakni golongan manusia yang memberikan makanan kepada mereka yang sedang kelaparan.

Golongan selanjutnya yang dirindukan surga adalah mereka yang memberikan makanan kepada orang yang sedang kelaparan.  Kebiasaan bersedekah dan membantu orang lain yang membutuhkan memiliki banyak keutamaan karena amalan tersebut merupakan perbuatan yang sangat mulia dan berpahala besar.

Shaaimun fi syahri ramadhan, yakni golongan manusia yang berpuasa di bulan suci Ramadhan.

Di bulan suci Ramadhan Allah telah menjanjikan kepada hamba-Nya rahmat, ampunan dan pembebasan dari panas api neraka.  Terutama bagi mereka yang ikhlas menjalankan ibadah puasa, menghidupkan malamnya dengan sholat dan senantiasa mendekatkan diri kepada Allah Subhanahu wa Taala.

Rasulullah Sallallahu alaihi wa Sallam bersabda:  Siapa yang berpuasa di bulan Ramadhan, karena iman dan ikhlas maka akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.  (HR.  Bukhari Muslim).

Rasulullah SAW juga bersabda:  Di surga ada delapan pintu.  Diantaranya ada pintu yang dinamakan Ar-Rayyan.  Tidak dibolehkan memasukinya kecuali orang-orang yang berpuasa.  (HR.   Bukhari).

Di momen Ramadhan tahun ini, marilah kita meningkatkan lagi ibadah baik yang wajib maupun yang sunnah. Dan semoga kita menjadi salah satu manusia selain yang merindu surga, juga yang dirindukan surga-nya Allah Subhanahu wa Taala. (*)

  • Bagikan