PMI Kota Semarang Dukung Kapasitas Pendamping Difabel dengan Keterampilan Pertolongan Pertama

Danang Baskhoro Adhi saat mendampingi praktik pertolongan pertama bagi difabel dan pendamping penyandang disabilitas dalam Workshop yang digelar di Polbitrada. Foto: Rifqi/Lingkar.co
Danang Baskhoro Adhi saat mendampingi praktik pertolongan pertama bagi difabel dan pendamping penyandang disabilitas dalam Workshop yang digelar di Polbitrada. Foto: Rifqi/Lingkar.co

Lingkar.co – Palang Merah Indonesia (PMI) Kota Semarang memberikan dukungan keterampilan pertolongan pertama terhadap para pendamping difabel melalui Workshop Pendampingan Aman dan Inklusif Bagi Anak Berkebutuhan Khusus Dalam Situasi Darurat.

Kegiatan dilaksanakan bekerja sama dengan Politeknik Bina Trada (Polbitrada) dan dilaksanakan di Aula Kampus Polbitrada Kecamatan Tembalang, Kota Semarang, Jawa Tengah, Selasa (28/4/2026).

Ketua Panitia, Danang Baskhoro Adhi mengatakan, kegiatan tersebut diikuti 30 orang yang konsen pada persoalan disabilitas di kota Semarang

“Peserta ada 30 orang yang terdiri dari 13 kelompok ya, itu ada 2 dari Sekolah Luar Biasa (SLB), terus ada 11 komunitas difabel yang ada di kota Semarang,” ujarnya disela kegiatan.

Ia melanjutkan, peserta kegiatan berasal dari unsur relawan, pendamping difabel, komunitas, pelajar, maupun unsur masyarakat yang memiliki kepedulian terhadap pelayanan kemanusiaan dan kesiapsiagaan.

“kegiatan ini adalah workshop untuk teman-teman pendamping, pendamping disabilitas,” ujarnya.

Ia lanjut menjelaskan, para peserta sudah memiliki bekal kompetensi dalam berinteraksi dengan difabel dan keluarga dari penyandang disabilitas. Oleh karena itu, keterampilan tambahan dari PMI diharapkan mampu menjadi nilai lebih dari kegiatan kemanusiaan untuk difabel.

“Jadi kita ingin meningkatkan kapasitas dari teman-teman pendamping, karena sebelumnya teman-teman pendamping ini kan sudah berproses, sudah berproses dalam artian entah itu pendampingnya di keluarganya atau bergabung di komunitas,” paparnya.

Danang berkata, PMI berharap para pendamping difabel bisa memberikan pertolongan jika terjadi situasi darurat seperti bencana atau terjatuh di kamar mandi dan sebagainya.

Bahkan lanjutnya, diharapkan pula kelompok difabel memiliki kesadaran untuk menolong dirinya sendiri.

“Bisa menolong dirinya sendiri dan juga bisa memberikan pertolongan pada orang lain meskipun dalam posisi yang ada kekurangan ya karena mereka ada di kelompok difabel,” jelasnya.

Menurut dia, pertolongan pertama harus disosialisasikan dengan baik karena halnitu merupakan hak setiap warga negara. Melalui tambahan keterampilan itu dirinya mendorong para pendamping disabilitas bisa ikut terlibat dalam memberikan perlindungan terhadap penyandang disabilitas atau kelompok rentan seperti lansia dan sebagainya.

“Jangan merasa eksklusif. Kita ini inklusif, jadi mereka semua bisa melaksanakan, bisa penerima manfaat, bahkan bisa memberikan manfaat,” tuturnya

Ia bilang, salah satu dari materi kegiatan tersebut yakni tentang bentuk-bentuk perlindungan terhadap kelompok-kelompok rentan.

“Jadi baik itu perlindungan dari segi fisik, dari segi sosial, perlindungan juga bagi infrastruktur, contohnya layanan-layanan bahkan di tempat tinggalnya itu yang aman bagaimana situasinya, baik yang mendukung dari psikologisnya, bagaimana lingkungan sekitar masyarakatnya,” terangnya.

Ketua Bidang Pelayanan Kesehatan dan Sosial PMI Kota Semarang, dr. RP Uva Utomo, MH, Sp.FM menambahkan, kegiatan hari ini merupakan bagian dari sosialisasi tema Bulan Kemanusiaan atau Bulan Dana PMI 2026, yakni Humanity for Elderly and People With Disabilities.

“Jadi memang pada pelatihan kali ini kita PMI Kota Semarang memiliki tujuan yang utamanya adalah untuk memperkenalkan bulan dana yang akan datang, yaitu humanity for elderly and people with disabilities,” ucapnya .

Ia menegaskan, PMI sangat menghargai menghargai nilai-nilai kemanusiaan, termasuk aktivitas para pendamping lansia dan difabel atau anak yang memiliki kebutuhan khusus.

“Nah maksudnya, pelatihan ini akan memberikan pemahaman dan peningkatan kemampuan bagi tenaga pendidik di SLB-SLB, kemudian teman-teman kelompok relawan difabel,” ujarnya.

Tujuannya, kata dr Uva, memberikan keterampilan cara menolong diri sendiri dan juga cara menolong orang lain. Utamanya yang ada di sekitarnya.

“Jadi ke depan harapannya adik-adik ini lebih mandiri bisa mengurus dirinya sendiri dalam kondisi kedarutatan,” jelasnya.

Meski demikian, ia mengakui belum ada kurikulum atau materi khusus yang bisa diterapkan terhadap para penyandang disabilitas atau difabel.

“Tapi yang sifatnya untuk kemampuan difabel dalam kondisi bencana itu sudah sering kita lakukan,” jelasnya.

Kemampuan itu, kata dia, semisal melakukan evakuasi, secara mandiri atau sudah mengerti cara menyelamatkan diri saat kondisi darurat.

“Tapi yang pada kali ini yang kita berikan bukan pada si elderly atau difabelnya, tapi pendampingnya,” tandasnya.

Sementara, Direktur Polbitrada, Mugiyanto, S.Sos., M.M mengatakan, pihaknya berharap ada banyak kegiatan yang bisa digelar. Tidak terbatas pada kerelawanan atau sosial.

“Karena kami ingin pengamalan Tridharma Perguruan Tinggi khususnya adalah dalam pengabdian ke masyarakat yang dilakukan oleh dosen Polbitrada juga dapat diterima manfaatnya oleh masyarakat,” tuturnya.

Ia berharap agar ilmu pengetahuan yang diterima dalam kegiatan tersebut bisa diimplementasikan dan bermanfaat bagi masyarakat atau komunitas difabel.

“Karena ini ada peserta dari sekolah luar biasa sehingga setidaknya dapat memberikan ilmu baru atau mungkin penguatan terkait baik mental, psikologis, ataupun juga terkait dengan kedaruratan,” tutupnya (*)