Menjaga Barongan Blora, Ratih Bertahan Jadi Satu-satunya Pemain Perempuan

Sari Ratih Nur Halimah, satu-satunya perempuan pemain barongan di Blora. Foto: Istimewa.

Lingkar.co – Kesenian barongan masih bertahan sebagai salah satu warisan budaya khas Kabupaten Blora di tengah arus modernisasi. Di balik kesenian yang identik dengan pemain laki-laki itu, ada sosok perempuan bernama Sari Ratih Nur Halimah yang hingga kini tetap bertahan sebagai satu-satunya pemain barongan wanita di daerah tersebut.

Perempuan berusia 34 tahun itu mulai mengenal barongan sejak duduk di bangku kelas 8 SMP pada 2005. Anak dari dalang barongan Blora, Ki Suratman, itu awalnya tertarik pada seni tari tradisional sebelum akhirnya mendalami barongan.

Ratih mengaku tertarik memainkan barongan karena ingin menghadirkan sesuatu yang berbeda sebagai perempuan di tengah kesenian yang didominasi laki-laki. Ia pun mendapat bimbingan langsung dari ayahnya hingga mulai percaya diri tampil di berbagai panggung.

Perjalanan Ratih di dunia barongan terus berkembang. Pada 2008, ia dipercaya menjadi duta seni budaya Kabupaten Blora dan tampil di berbagai daerah, termasuk di Taman Mini Indonesia Indah (TMII), Jakarta.

Saat menempuh pendidikan di Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta, Ratih juga sempat menampilkan barongan dalam salah satu tahapan seleksi pertunjukan. Penampilannya dinilai berbeda karena membawakan kesenian khas Blora yang jarang dikenal luas, terlebih dimainkan oleh seorang perempuan.

Sejak itu, Ratih semakin sering tampil di berbagai daerah, termasuk di Semarang, untuk memperkenalkan barongan Blora kepada masyarakat yang lebih luas.

“Buat saya, barongan itu bukan sekadar tampil di panggung, tetapi bagaimana kesenian ini tetap ada dan terus dikenal,” ujar Ratih.

Kini, Ratih menjadi ketua sekaligus pelatih di Sanggar Seni Mekar Melati. Ia membimbing murid dari berbagai usia, mulai anak-anak hingga dewasa, dalam latihan tari dan barongan yang rutin digelar setiap akhir pekan.

Di lingkungan sanggar, Ratih dikenal dengan sapaan “Bunda Ratih”. Ia melatih para murid dengan disiplin dan teliti, memastikan setiap gerakan selaras dengan irama musik pengiring.

Meski begitu, minat terhadap barongan masih terbatas. Ratih mengungkapkan pernah ada seorang murid perempuan yang mencoba mengikuti jejaknya, namun tidak bertahan lama karena barongan membutuhkan kekuatan fisik dan ketahanan yang besar.

Hingga kini, Ratih masih menjadi satu-satunya perempuan yang aktif bermain barongan di Blora.

Menurut Ratih, upayanya bertahan di dunia barongan merupakan bentuk kepedulian untuk menjaga budaya daerah agar tidak ditinggalkan generasi muda.

“Barongan itu budaya kita, jadi harus kita lestarikan. Jangan sampai budaya luar masuk dilestarikan dan justru budaya kita ditinggalkan,” katanya. (*)