Ahli Tanggapi Video dan Pesan Siaran WA Jokowi Gagal Disuntik Vaksin Sinovac

  • Bagikan
Penyuntikan vaksin Sinovac kepada Presiden Joko Widodo di Istana Negara, Rabu (13/1/2021). (KORAN LINGKAR JATENG/LINGKAR.CO)
Penyuntikan vaksin Sinovac kepada Presiden Joko Widodo di Istana Negara, Rabu (13/1/2021). (KORAN LINGKAR JATENG/LINGKAR.CO)

KUDUS, Lingkar.co – Akhir-akhir ini beredar video dan pesan siaran WA yang menyebut bahwa suntikan vaksin Sinovac kepada Presiden Jokowi gagal dan perlu disuntik ulang.

Hal tersebut muncul ke sejumlah media sosial seperti Whatsapp dan Facebook, usai vaksinasi Covid-19 perdana yang dimulai dengan penyuntikan vaksin Sinovac kepada Presiden Joko Widodo di Istana Negara, Rabu (13/1/2021) lalu.

Ads Selamat Hari Raya Idul Fitri 2022
Tangkapan layar video WAG dan Medsos Jokowi Gagal Divaksin berdurasi 30 detik. (DOK. LINGKAR.CO)
Tangkapan layar video WAG dan Medsos Jokowi Gagal Divaksin berdurasi 30 detik. (DOK. LINGKAR.CO)

Dikutip dari postingan akun Twitter resmi @ProfesorZubairi pada Senin (18/1/2021) pukul 20.46 WIB, ikut menanggapi terkait masalah tersebut.  

“Selain Kristen Gray, yang meresahkan lagi adalah beredarnya pesan berantai di media sosial dan WAG (WhatsApp Group) tentang vaksinasi @ jokowi yang dianggap gagal dan harus diulang,” kata Prof Zubairi dalam cuitan Twitter.

Pria bernama lengkap Zubairi Djoerban, menjabat sebagai Ketua Satgas Covid-19 Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia (PB IDI), melanjutkan, salah satu isi dari pesan siaran WA tersebut mengatakan, injeksi vaksin Sinovac seharusnya intramuskular atau menembus otot, sehingga penyuntikkannya harus dilakukan dengan tegak lurus (90 derajat).

“Jawabannya tidak benar. Sebab, menyuntik itu tidak harus tegak lurus dengan cara intramuskular. Itu pemahaman lama alias usang dan jelas sekali kepustakaannya. Bisa Anda lihat di penelitian berjudul ‘Mitos Injeksi Intramuskular Sudut 90 Derajat’,” jelas Zubairi Djoerban.

Tangkapan layar postingan akun Twitter resmi @ProfesorZubairi pada Senin (18/1/2021). (DOK. LINGKAR.CO)
Tangkapan layar postingan akun Twitter resmi @ProfesorZubairi pada Senin (18/1/2021). (DOK. LINGKAR.CO)

Ia menerangkan, penelitian yang ditulis oleh DL Katsma dan R Katsma, yang diterbitkan di National Library of Medicine pada edisi Januari-Februari 2000, menjelaskan bahwa intinya persyaratan sudut 90 derajat untuk injeksi intramuskular itu tidak realistis. Pasalnya, trigonometri menunjukkan, suntikan yang diberikan pada 72 derajat, hasilnya mencapai 95 persen dari kedalaman suntikan yang diberikan pada derajat 90.

“Artinya, apa yang dilakukan Profesor Abdul Muthalib (dokter kepresidenan yang menyuntuk vaksin Sinovac kepada Presiden Jokowi) sudah benar. Tidak diragukan,” bebernya.

Lebih lanjut dalam cuitannya, Risiko Antibody Dependent Enhancement (ADE), yakni kondisi di mana virus mati yang ada di dalam vaksin masuk ke jaringan tubuh lain dan menyebabkan masalah kesehatan.

“Bahwa tidak ada bukti di uji klinis I, II, dan III bahwa ADE tersebut terjadi pada vaksin Sinovac. Dulu pernah diduga pada vaksin demam berdarah. Saya enggak tahu bagaimana perkembangannya lagi. Silahkan dicek,” ungkapnya.

Lebih jauh lagi, lanjutnya, Apakah tubuh kurus dan tidak punya pengaruh dengan ukuran jarum suntik. Ia menjawab, “Ya, kalau obesitas berlebihan tentu jaringan lemaknya banyak. Jadi untuk masuk ke otot jadi lebih sulit. Dokter yang nantinya bisa menilai ukuran jarum suntik itu ketika akan divaksin,” tandasnya. (aji)

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.