Ambulans Gratis Pemkot Tangerang Layani 6.052 Permohonan di Sepanjang Tahun 2025

Ambulans Gratis Pemkot Tangerang. Foto: dokumentasi/istimewa
Ambulans Gratis Pemkot Tangerang. Foto: dokumentasi/istimewa

Lingkar.co – Pemerintah Kota Tangerang, Banten merilis layanan Ambulans Gratis di sepanjang tahun 2025 telah memberikan pelayanan 6.052 permohonan yang mencakup layanan kegawatdaruratan hingga pelayanan sosial kemasyarakatan.

Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Tangerang dr. Dini Anggraeni memaparkan, dari total tersebut, Ambulans Smart 119 mencatat 2.346 pelayanan, yang mayoritas menangani kasus kegawatdaruratan medis dan rujukan rumah sakit. Sementara itu, Ambulans Reguler melayani 3.635 permohonan, termasuk layanan antar jemput pasien nongawat darurat serta kebutuhan sosial masyarakat.

Dini melanjutkan, Pemkot Tangerang juga mengoperasikan Posko Natal 2025 dan Tahun Baru 2026 (Nataru) sebagai bagian dari kesiapsiagaan pelayanan kesehatan.

”Selama periode Nataru 2025, tercatat 71 pelayanan ambulans diberikan kepada masyarakat, baik untuk penanganan medis di lokasi maupun rujukan ke fasilitas kesehatan,” jelasnya dalam siaran pers, Senin (29/12/25).

Ia lanjut menerangkan, capaian tersebut merupakan hasil sinergi antara pemerintah daerah, tenaga kesehatan, serta petugas ambulans yang selalu siaga 24 jam.

“Layanan ambulans gratis ini dihadirkan untuk memastikan seluruh masyarakat Kota Tangerang mendapatkan akses pelayanan kesehatan yang cepat, aman dan tanpa biaya,” ujarnya.

Sejalan dengan hal itu, ia menyatakan Pemkot Tangerang berharap, kehadiran layanan ambulans gratis ini dapat terus meningkatkan rasa aman dan kualitas kesehatan masyarakat

Waspada Penyakit di Musim Hujan

Sementara, Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinkes Kota Tangerang dr. Yumelda Ismawir, menerangkan sejumlah penyakit yang rawan muncul serta langkah strategis untuk mengantisipasinya.

“Ada lima penyakit utama yang wajib diwaspadai masyarakat saat ini, yaitu Demam Berdarah Dengue (DBD), Cikungunya, Leptospirosis, Influenza dan Diare,” ucapnya.

Untuk itu ia menekankan, pemahaman masyarakat mengenai perbedaan gejala antarpenyakit tersebut sangat penting agar penanganan tidak terlambat.

“DBD ditandai dengan demam tinggi mendadak dan bintik merah, sementara Cikungunya memiliki gejala serupa namun lebih khas pada nyeri persendian yang hebat,” jelas dr. Yumelda.

Selain itu, yang tidak kalah berbahaya adalah Leptospirosis yang disebabkan bakteri dari urine tikus. Gejala khasnya adalah nyeri pada otot betis dan mata memerah. Jika tidak segera ditangani, ini bisa mengakibatkan kematian.

Menurutnya, inovasi ‘Babar Resik 10.10’ sebagai langkah konkret penanggulangan DBD, Dinas Kesehatan terus menggalakkan inovasi “Baba Resik” (Bareng-bareng Memberantas Sarang Nyamuk). Program ini mengajak warga untuk disiplin membersihkan lingkungan setiap Jumat.

“Kita punya inovasi Baba Resik 10.10, yaitu gerakan membersihkan 10 habitat atau tempat bersarangnya nyamuk dalam waktu 10 menit setiap Jumat pagi. Ini adalah bagian dari Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) yang paling efektif memutus rantai perkembangbiakan nyamuk Aedes aegypti,” tambahnya.

Ia juga mengingatkan pentingnya daya tahan tubuh dan perlindungan diri. Bagi warga yang terpaksa beraktivitas di area genangan air atau banjir, disarankan menggunakan alas kaki atau sepatu bot untuk mencegah masuknya bakteri melalui luka di kulit.

Masyarakat juga diminta tidak menunda pemeriksaan medis. Jika muncul gejala demam yang tidak kunjung membaik dalam waktu tiga hari, warga diminta segera mendatangi fasilitas kesehatan terdekat.

“Kota Tangerang memiliki jaringan puskesmas yang siap melayani, bahkan ada puskesmas dengan layanan UGD 24 jam. Jangan menunggu parah, segera periksakan ke tenaga medis,” tegasnya.

“Kami mengajak seluruh elemen masyarakat Kota Tangerang untuk kembali menghidupkan budaya gotong royong dalam menjaga kebersihan,” pungkasnya. (*)