Berkah CSR Pertamina Bagi Pendekar Adipala Cilacap

  • Bagikan
Dua perempuan yang tergabung dalam Program Pendekar, memasak gula menggunakan kompos gas yang bernama Kosaka (Kompor Sakti Karangsari). FOTO: Dok. Pertamina/Lingkar.co
Dua perempuan yang tergabung dalam Program Pendekar, memasak gula menggunakan kompos gas yang bernama Kosaka (Kompor Sakti Karangsari). FOTO: Dok. Pertamina/Lingkar.co

CILACAP, Lingkar.co – Membangun negeri dengan menyejahterakan manusia, alam, dan lingkungan, adalah wujud Tanggung Jawab Sosial Lingkungan (TJSL) yang mencakup program Corporate Social Responsibility (CSR) Pertamina secara berkelanjutan.

Oleh: M. Rain Daling *)

Salah satu inisiatif strategis sebagai wujud komitmen Pertamina, dengan  memberdayakan masyarakat Desa Karangsari, Kecamatan Adipala, Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah, melalui potensi unggulan.

Desa Karangsari yang terletak pada sekitar wilayah operasional Pertamina, mempunyai perkebunan pohon kelapa yang sangat luas.

Luas perkebunan mencapai kurang lebih 20 hektar. Sebagian besar atau seluas 9,27 hektar kebun kelap, dimanfaatkan sebagai bahan baku gula.

“Potensi Karangsari yang sangat menonjol adalah perkebunan pohon kelapa yang sangat luas, kurang lebih 20 sampai 30 hektar,” kata Kepala Desa (Kades) Karangsari, Nasukin, mengawali ceritanya, Kamis (21/10/2021).

Nasukin mengungkapkan, sebanyak 6,8 persen warga Karangsari, menggarap lahan tersebut, dengan berprofesi sebagai Penderes.

Penderes adalah sebutan bagi petani setempat yang mengambil air nira dari pohon kelapa untuk dijadikan gula.

Kendati demikian, kata Nasukin, para Penderes masih menggunakan metode lama dalam mengelola dan mengenbangkan potensi unggulan tersebut.

“Penggunaan Penderes yang masih menggunakan metode lama, yakni tungku kayu bakar sebagai alat memasak air nira,” ucapnya.

Metode lama tidak mampu meningkatkan ekonomi masyarakat setempat. Gula cetak memiliki nilai ekonomis rendah dan prosesnya menggunakan campuran bahan kimia

“Hal itu pun menjadi perhatian serius dari Pemerintah Desa Karangsari. Bagaimana caranya supaya penderes tersebut, berpotensi meningkatkan ekonomi yang lebih tinggi,” ujar Nasukin.

Ilustrasi Pendekar. FOTO: Tangkap Layar/Lingkar.co

PROGRAM PENDEKAR CSR PERTAMINA

Bak Gayung bersambut. Pada 2019, Pertamina FT Maos, menjalin komunikasi dengan Pemerintah Desa setempat, dalam rangka untuk membantu pengembangan potensi unggulan tersebut.

“Pada tahun 2019, sudah ada obrolan dengan Pertamina FT Maos, dengan pemerintah desa setempat. Dan, Alhamdulillah kemarin pada tahun 2020 ada tindaklanjutnya,” kata Nasukin.

Pertamina berkomitmen membantu pengembangan potensi lokal gula kelapa sebagai wujud Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) atau Corporate Social Responsibility (CSR).

Awalnya, Pertamina FT Maos menjaring informasi terkait potensi pengembangan masyarakat, melalui forum diskusi dengan para stakeholder sekitar wilayah operasional perusahaan.

Sehingga pada tahun 2020, Pertamina FT Maos, memutuskan membentuk Program Pendekar (Penderes Badeg Karangsari) sebagai program pemberdayaan masyarakat dalam pembuatan gula semut.

Kehadiran Pertamina FT Maos, dalam pembuatan gula semut membawa berkah bagi para penderes yang tergabung dalam Program Pendekar.

“Kami bersyukur dengan adanya Program Pendekar, kehidupan masyarakat kami jauh lebih baik,” tutur Nasukin.

Keterlibatan pertamina dalam Program Pendekar, yakni pendampingan, pelatihan dan pengadaan sarana penunjang kegiatan produksi

Hal tersebut diungkapkan Brasto Galih Nugroho, selaku Area Manager Communication, Relations, & Corporate Social Responsibility (CSR) PT Pertamina Patra Niaga Jawa Bagian Tengah Sub Holding Commercial & Trading PT Pertamina (Persero).

“Setidaknya ada 150 penderes dan 102 perempuan yang tergabung ke dalam program Pendekar yang kami jalankan,” ungkap Brasto, Kamis (21/10/2021).

Sejak 2020, melalui Program Pendekar, Pertamina dengan membina kelompok penderes setempat, hingga memperoleh dampak peningkatan aspek kesejahteraan ekonomi, sosial, dan lingkungan.

Brasto mengungkapkan, Program Pendekar bertujuan melestarikan budaya produksi gula, sekaligus meningkatkan kesejahteraan penderes melalui potensi lokal yang berbasis lingkungan.

“Manfaat yang diharapkan melalui program Pendekar mengacu pada Sustainability Compass. Harapannya program ini memiliki dampak positif terhadap Nature (lingkungan) melalui produksi gula dengan standar organik,” ucapnya.

“Pihak-pihak yang terlibat mendapatkan manfaat ekonomi, perluasan jaringan sosial yang imbasnya berdampak pada Well-being (Kesejahteraan),” ujarnya lagi.

Serah terima dapur kolektif dan alat produksi. FOTO: Dok. Pertamina/Lingkar.co
PERTAMINA BERI BANTUAN DAN PELATIHAN

Sebelum keterlibatan Pertamina, para penderes setempat masih menggunakan metode lama yang tidak efektif dan efisien, baik secara keekonomian maupun lingkungan.

Brasto mencontohkan, hasil produksi berupa gula cetak yang memiliki nilai ekonomi rendah, hingga penggunaan kayu pohon sebagai bahan bakar yang tidak ramah lingkungan.

Menilik hal tersebut, Pertamina memberikan pelatihan pengolahan gula dengan metode baru yang lebih efektif dan efisien juga lebih ramah lingkungan.

Brasto mengungkapkan, pihaknya membantu penyediaan sarana penunjang, seperti pongkor (wadah nira) dengan standar food grade, sabuk pengaman untuk memanjat pohon, wajan, kompor gas LPG dan ayakan stainless steel.

“Penggunaan kompor gas untuk menggantikan kayu bakar, dan pengolahan gula semut organik yang menghasilkan nilai ekonomi jauh lebih tinggi,” kata Brasto.

Selain ramah lingkungan, berkat konversi bahan bakar tersebut, kelompok penderes mampu menghemat biaya produksi hingga Rp700 ribu setiap bulan.

“Tidak hanya itu, Pendekar juga menyelamatkan pohon dari penebangan oleh penderes, setidaknya 600 kilogram setiap bulan,” kata Brasto.

Selain itu, kata Brasto, pihaknya juga memberikan pelatihan Kesehatan dan Keselamatan Kerja (K3).

“Pelatihan K3 untuk memastikan bahwa dalam produksi gula semut para penderes tetap memperhatikan aspek-aspek keselamatan sebagai bentuk penerapan core competency perusahaan,” jelasnya.

Dan yang terpenting, program tersebut juga mampu menciptakan pertukaran nilai tambah atau Creating Shared Value (CSV) antara Pertamina dengan kelompok penderes.

Kegiatan usaha penderes sebagai rantai nilai bisnis Pertamina melalui penggunaan produk LPG nonsubsidi, yaitu BrightGas.

Brasto mengungkapkan, Program CSR Pendekar adalah salah satu dari wujud komitmen Pertamina dalam mengimplementasikan aspek Environmental, Social, Governance (ESG).

“Sebagai perusahaan yang bergerak di bidang energi, Pertamina akan senantiasa berupaya untuk terus menghadirkan perbaikan kehidupan secara berkelanjutan, utamanya pada aspek ESG, salah satunya melalui program pemberdayaan masyarakat sekitar,” jelasnya.

Proses pembuatan Laru (injet dan tatal nangka). FOTO: Dok. Pertamina/Lingkar.co
PENDERES MENGGUNAKAN METODE BARU

Ketua Kelompok Tani Nira Cahaya Sejahtera, Asim Mohamad Nuruddin, bersyukur dengan bantuan Pertamina FT Maos, para penderes mendapat pelatihan pengolahan gula dengan metode baru.

“Yang semula menggunakan sulfit, kini para Penderes menggunakan laru (injet dan tatal nangka), sebagai pengganti Sodium Metabisulphite untuk pengawet air nira dan mencegah fermentasi,” ucap Asim, Jumat (22/10/2021).

Kemudian, ujar dia, yang tadinya menggunakan kaleng bekas cat, berganti menggunakan Pongkor (wadah nira) dengan standar Food Grade.

“Penggunaan minyak jelantah dalam pembuatan gula juga diganti dengan VCO untuk mengurangi buih,” ujar Asim.

Bahkan kata dia, untuk mencuci alat masak pun tidak lagi menggunakan sabun, melainkan menggunakan serabut kelapa.

“Penggunaan ayak juga harus berbahan stainless steel,” ujarnya.

Cara memasak pun kata Asim, tidak lagi menggunakan tungku kayu bakar. FT Maos, menggantinya dengan menggunakan kompos gas yang bernama Kosaka (Kompor Sakti Karangsari).

Kosaka merupakan hasil kolaborasi koperasi dan pertamana yang mendesain kompor LPG, sesuai spesifikasi kebutuhan para penderes. Kosaka, juga hasil inovasi masyarakat untuk memaksimalkan hasil produksi gula semut.

“Sebelum mendapat bantuan kompor gas dari pertamina, kelompok kami menggunakan kayu bakar. Tiap hari saya harus menebang pohon. Padahal hal tersebut tidak ramah lingkungan,” ucap Asim.

Dengan metode tersebut, para Penderes memproduksi gula semut yang ramah lingkungan dengan nilai jual yang tinggi.

Hal tersebut sejalan dengan tujuan pemerintah Karangsari, untuk mengembalikan identitas produksi gula semut organik.

“Setelah adanya program Pendekar, saya bisa mendistribusikan gula kami ke koperasi. Sehingga nilai jualnya menjadi lebih tinggi,” kata Asim.

Produk Gula Semut Organik. FOTO: Tangkap layar/Lingkar.co
PEMBENTUKAN DAN PEMBERDAYAAN KOPERASI NCS

Seiring dengan berlangsungnya Program Pendekar, Koperasi Nira Cahaya Sejahtera (NCS) terbentuk. Koperasi ini telah punya akta pendirian pada 2020.

Pembentukan Koperasi NCS untuk memperkuat jaringan pemasaran produk gula semut dari para penderes.

Ketua Koperasi NCS, Ahmad Setioko, mengungkapkan, koperasi berfokus kepada proses hilir dari program Pendekar, yaitu untuk distribusi dan pemasaran produk.

Dengan adanya pendampingan dari Pertamina, kata Ahmad, koperasi banyak mengadopsi dan mengimplementasikan sistem supervisi yang ada di perusahaan.

“Dalam program ini kami mendapatkan wawasan untuk membentuk sistem manajemen produk untuk quality control (kontrol kualitas),” kata Ahmad, Jumat (22/10/2021).

Manajemen Kontrol kualitas, yaitu dengan menerapkan Internal Control System (ICS), yang berfungsi untuk standardisasi produk.

“Penerapan ICS bertujuan agar setiap produk gula semut organik yang dihasilkan telah memenuhi standar,” kata Ahmad.

Dengan adanya sistem manajemen tersebut, kata Ahmad, meningkatkan efisiensi produksi oleh kelompok penderes.

“Setidaknya 3,5 ton per minggu diproduksi oleh kelompok penderes untuk kemudian dipasarkan dan didistribusikan oleh Koperasi Nira Cahaya Sejahtera,” jelasnya.

Sementara itu, Brasto mengatakan, pada proses ini, koperasi memiliki tim ICS (Internal Control System).

“Jika di Pertamina FT Maos fungsinya seperti Spv. QQ (Quantity and Quality) untuk memastikan proses produksi gula organik sesuai dengan standar/checklist,” kata Brasto, Kamis (21/10/2021).

Saat ini, produk gula semut dari para penderes, telah bersertifikat organik dari Control Union Belanda, sebagai lisensi distribusi produk gula organik.

Pelaksanaan program CSR Pendekar, merupakan komitmen pemberdayaan masyarakat, yang sifatnya berkelanjutan.

Tidak hanya itu, Pertaminan FT Maos juga melatih dan mendampingi dalam proses alur distribusi, hingga alur pemenuhan kebutuhan pasar.

Pertamina juga membantu promosi produk, baik secara internal melalui penggunaan produk gula semut saat acara yang dilaksanakan oleh perusahaan.

Selain itu, bentuk promosi secara eksternal melalui expo atau pameran yang diikuti oleh Pertamina.

Seorang Penderes menggunakan sabuk pengaman untuk memanjat pohon kelapa. FOTO: Tangkap Layar/Lingkar.co

BERKAH BAGI PENDEKAR

Kini, Program Pendekar membawa berkah. Pendapatan para penderes jauh meningkat ketimbang sebelum adanya program CSR Pertamina FT Maos tersebut.

“Setidaknya pendapatan yang kami peroleh sedikitnya Rp2,2 juta per bulan untuk setiap orangnya,” kata Asim.

Namun yang terpenting kata dia, banyak pemuda setempat yang semula merantau untuk mencari nafkah, kini bisa mencari nafkah di desa sendiri.

“Tidak hanya itu, banyak pemuda di wilayah kami yang semula harus merantau untuk mencari pekerjaan, kini bisa mencari nafkah di tempat sendiri,” ujar Asim.

Selain itu, menurut Asim, program Pendekar ini telah membantu masyarakat setempat memaksimalkan potensi lokal yang ada di Desa Karangsari.

Ia pun berharap, program tersebut terus berkelanjutan, demi kesejahteraan masyarakat Karangsari.

“Terima kasih Pertamina atas program CSR yang telah dijalankan di tempat kami,” ucap Asim.

Hal tersebut juga diamini oleh Regenerasi Pendekar/Pendekar Muda, Kusdi. Ia mengaku, sebelumnya ia merantau ke Jakarta untuk bekerja.

“Sebelum saya menjadi Pendekar, saya bekerja di fotokopi di Jakarta. Karena pandemi saya pulang ke Desa Karangsari,” ujarnya.

Setelah pulang, Kusdi bercerita mendapatkan pelatihan untuk membuat Laru dari tatal nangka, untuk dimasukkan ke dalam pongkor sebagai wadah air nira.

“Saya mendapat pelatihan dari Pak Asim, untuk membuat Laru dari tatal nangka, untuk dimasukkan ke dalam pongkor sebagai wadah air nira,” ujarnya.

Selain itu, ia juga mendapatkan pelatihan khusus untuk memasak air nira menjadi gula semut yang baik dan benar.

Tidak hanya itu, ia juga mendapat pelatihan memanjat pohon kelapa menggunakan Safety Belt atau sabuk pengaman.

“Demi keamanan, saya naik pohon kelapa menggunakan tali pengaman,” ucapnya.

Ia pun sangat bersyukur dengan pendapatannya saat ini sebagai penderes yang tergabung dalam program Pendekar.

“Alhamdulillah, kami mendapatkan penghasilan yang cukup dari profesi penderes. Saya juga bisa dekat dengan keluarga,” tuturnya.

Program Pendekar, juga mampu membantu lima pemuda terdampak Covid-19, dengan pendapatan per bulan Rp2.200.000 per orang.***

*) Tulisan ini Diikutsertakan dalam Anugerah Jurnalistik Pertamina (AJP) 2021 dengan mengusung tema “Energizing You”.

  • Bagikan