Lingkar.co – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Semarang mencatat tanah longsor menjadi bencana paling dominan sepanjang tahun 2025, dengan total 160 kejadian. Longsor mayoritas terjadi di wilayah kecamatan yang memiliki kontur perbukitan dan masuk kawasan rawan bencana.
Kepala BPBD Kota Semarang, Endro Pudyo Martanto, mengatakan sebaran longsor tersebut masih sesuai dengan peta Kawasan Rawan Bencana (KRB) yang telah dipetakan sebelumnya.
“Longsor masih didominasi wilayah-wilayah kecamatan yang berbukitan,” ujar Endro, Senin (5/1/2026).
Adapun wilayah dengan kejadian longsor terbanyak antara lain Kecamatan Candisari (Kelurahan Candisari), Kecamatan Ngaliyan (Wonosari), Kecamatan Gajahmungkur (Kelurahan Lempongsari), Kecamatan Tembalang (Kelurahan Tandang), Kecamatan Gunungpati (Sadeng).
“Wilayah-wilayah ini menjadi perhatian utama untuk upaya mitigasi ke depan,” tegasnya.
Selain tanah longsor, BPBD juga mencatat kejadian rumah roboh menempati posisi kedua dalam daftar bencana sepanjang 2025. Dari total 79 kejadian rumah roboh, sebanyak 27 rumah roboh akibat tertimpa pohon tumbang.
“Sekitar 40 kejadian lainnya disebabkan oleh longsor. Sisanya karena faktor usia bangunan yang sudah lapuk dan beberapa akibat puting beliung,” jelas Endro.
Terkait korban jiwa, BPBD Kota Semarang mencatat sembilan orang meninggal dunia akibat bencana sepanjang 2025. Mayoritas korban berasal dari peristiwa kebakaran.
“Korban meninggal paling banyak akibat kebakaran, ada tiga korban dalam satu kejadian karena peristiwa terjadi saat malam hari ketika korban sedang tertidur,” ungkapnya.
Selain itu, satu korban meninggal juga tercatat akibat bangunan roboh di wilayah Semarang Tengah, sementara kasus kebakaran yang menimpa satu keluarga terjadi di Semarang Timur.
Dibandingkan tahun 2024, Endro menyebut tren bencana di 2025 masih didominasi tanah longsor. Memasuki awal tahun 2026 dengan kondisi musim hujan dan cuaca ekstrem, BPBD mengimbau masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan.
“Terutama saat hujan deras disertai angin kencang. Hindari berteduh di bawah pohon karena rawan tumbang,” imbaunya.
Ia juga mengingatkan masyarakat pesisir, nelayan, dan pemancing agar lebih berhati-hati mengingat potensi gelombang tinggi dan cuaca ekstrem di laut masih terjadi.
“Keselamatan harus menjadi pertimbangan utama. Nelayan perlu selalu memperhatikan informasi cuaca dari BMKG dan Syahbandar,” pungkasnya. ***








