Dari Belanda Ajak Pelajar Kota Pekalongan Aktif Jaga Lingkungan dan Cegah Banjir dari Hal Sederhana

Foto bersama perwakilan Blue Deal dan para pelajar SD-SMP di Kota Pekalongan. Foto: dokumentasi
Foto bersama perwakilan Blue Deal dan para pelajar SD-SMP di Kota Pekalongan. Foto: dokumentasi

Lingkar.co – Pemerintah Belanda (water authorities) dan Indonesia memiliki kerja sama program Blue Deal untuk pengelolaan air berkelanjutan jangka panjang)l (2018-2030). Dari Belanda,

Blue Deal mengajak para pelajar SD dan SMP se-Kota Pekalongan Jawa Tengah untuk lebih peduli terhadap lingkungan sebagai langkah awal dalam mencegah banjir dan rob.

Perwakilan Blue Deal, Marcel memberikan edukasi dan bertukar informasi terkait pengelolaan air di Belanda kepada para pelajar di Ruang Serba Guna SMP Negeri 1 Kota Pekalongan, Kamis (2/4/2026).

Marcel menjelaskan,, Belanda merupakan negara yang memiliki tantangan besar dalam pengelolaan air karena sebagian wilayahnya berada di bawah permukaan laut. Untuk mengatasi potensi banjir,

Katanya, Belanda menerapkan berbagai strategi, seperti pembangunan tanggul dan bendungan, serta penggunaan rumah pompa untuk mengalirkan air keluar dari daratan.

“Sistem ini dirancang untuk menghadapi kenaikan permukaan laut dan potensi banjir di masa depan. Pengelolaan air harus dilakukan secara terintegrasi dan berkelanjutan,” ungkapnya.

Menurut dia, kondisi Kota Pekalongan memiliki tantangan tersendiri, di antaranya penurunan muka tanah yang mencapai sekitar 10–15 cm per tahun, serta persoalan sampah yang turut memperparah banjir. Oleh karena itu, diperlukan langkah strategis yang dimulai dari identifikasi wilayah rentan.

“Tidak semua wilayah memiliki tingkat kerentanan yang sama, sehingga penting untuk menentukan area mana yang paling terdampak,” jelasnya.

Selain itu, Marcel juga menekankan pentingnya mencari sumber air alternatif sebagai solusi jangka panjang. Ketergantungan terhadap air tanah dinilai dapat mempercepat penurunan muka tanah, sehingga perlu dialihkan ke sumber lain seperti air sungai yang telah diolah. Namun demikian, pemanfaatan air sungai harus diiringi dengan upaya menjaga kebersihannya.

“Masyarakat harus berhenti membuang sampah ke sungai. Ini membutuhkan perubahan perilaku yang dimulai dari diri sendiri,” tegasnya.

Untuk mendukung hal tersebut, pembangunan infrastruktur seperti instalasi pengolahan air limbah (IPAL) juga menjadi bagian penting dalam menjaga kualitas air sebelum dialirkan kembali ke sungai.

Sementara itu, perwakilan Blue Deal lainnya, Britt, menyoroti pentingnya peran generasi muda dalam mendukung program pemerintah terkait pengelolaan air dan pencegahan banjir. Menurutnya, langkah sederhana yang dapat dilakukan pelajar adalah dengan mengelola sampah dengan baik.

“Tindakan paling sederhana adalah mengumpulkan sampah dan memastikan tidak dibuang sembarangan, karena sampah dapat menghambat aliran air dan memicu banjir,” ujarnya.

Di kesempatan yang sama, Kabid SMP Dinas Pendidikan Kota Pekalongan, Mualim, menyampaikan bahwa, kegiatan ini sangat relevan mengingat Kota Pekalongan merupakan wilayah yang rawan bencana, khususnya banjir dan rob.

Ia berharap, edukasi yang diberikan tidak hanya berhenti pada peserta kegiatan, tetapi juga dapat disebarluaskan kepada teman-teman mereka di sekolah maupun lingkungan sekitar.

“Kami ingin menanamkan kesadaran sejak dini kepada siswa-siswi agar memiliki kepedulian terhadap lingkungan. Dengan begitu, mereka bisa menjadi agen perubahan di masyarakat,” tuturnya.

Mualim juga mengingatkan, kondisi geografis Kota Pekalongan yang kerap dilanda banjir, baik akibat rob maupun curah hujan tinggi, menjadi tantangan tersendiri.

Bahkan, kata dia, dalam beberapa kondisi, air hujan sulit mengalir ke laut karena kondisi air laut yang naik (pasang). Oleh karena itu, pihaknya terus mendorong penerapan kurikulum kebencanaan di jenjang SD dan SMP sebagai bagian dari upaya edukasi berkelanjutan.

“Kegiatan ini sangat selaras dengan kurikulum kebencanaan yang sedang kami dorong. Harapannya, siswa memiliki pemahaman dan kepedulian terhadap lingkungan, seperti membuang sampah pada tempatnya dan menjaga kebersihan lingkungan,” imbuhnya.

Ia bersyukur, setelah sesi pemaparan, para pelajar tampak antusias mengikuti kegiatan. Mereka aktif bertanya serta menjawab kuis yang diberikan oleh narasumber, menunjukkan tingginya minat dan kepedulian terhadap isu lingkungan.

“Melalui kegiatan ini, diharapkan tumbuh kesadaran kolektif dari generasi muda untuk menjaga lingkungan, dimulai dari hal-hal sederhana, guna menciptakan Kota Pekalongan yang lebih bersih, sehat, dan tangguh terhadap bencana di masa mendatang,” harapnya. (*)