“Paling tidak nanti bisa petik cabe atau sayuran sendiri untuk masak,” ujar Bu nyai Ponpes Al Asror Gunungpati ini.
Ia menyebut bank sampah dan urban farming milik kader Fatayat NU di Dukuh Genting, RW 6, Kelurahan Meteseh, Kecamatan Tembalang siap dijadikan percontohan. Dari situ, nantinya menjadi fokus program pemberdayaan kader pada tahun 2026.
“Kedepannya akan ada beberapa titik di kecamatan yang merupakan basis percontohan, sekarang sudah mulai ada di RW 6 Kelurahan Meteseh Tembalang,” ucapnya
Sementara, Aniqotun Nafi’ah yang telah berhasil mengelola Bank Sampah dan pengolahan sampah organik dengan budidaya maggot mengaku target di tingkat RW lebih realistis karena butuh konsentrasi pada titik tertentu di Semarang.
Menjawab pertanyaan wartawan, ia juga mengaku ada permintaan dari Dinas Pertanian Kota Semarang untuk membentuk kelompok tani Fatayat NU di sejumlah titik.
“Kemarin waktu saya waktu jadi narasum dengan Dinas Pertanian. Itu kita sempat ngobrol, kita diminta memang untuk membuat semacam kelompok tani Fatayat gitu,” jawabnya.
“Saya rasa kota Semarang bisa membentuk suatu kelompok tani untuk kita (Fatayat), bisa program 2026 ini,” imbuhnya.
Terkait konsep pertanian modern berbasis perkotaan yang minim lahan perlu inovasi konsep pertanian vertikal, ia juga menyebut ada dorongan dari dinas pertanian ke arah tersebut.
“Kita biar mau melakukan pertanian vertikal atau jenis pertanian horizontal gitu, kita bisa pakai itu di rumah-rumah,” jelasnya. (*)
Penulis: Ahmad Rifqi Hidayat








