Dianggap Lebih Aman, Vape Ternyata Simpan Risiko Serius

Ilustrasi - Seorang menikmati Vape. Foto: Istimewa.

Lingkar.co – Anggapan bahwa rokok elektronik atau vape lebih aman dibandingkan rokok konvensional kembali dipatahkan oleh pakar kesehatan. Ketua Majelis Kehormatan Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI), Prof. Dr. Tjandra Yoga Aditama, menegaskan bahwa vape tetap menyimpan berbagai risiko bagi kesehatan.

Menurut Tjandra, rokok elektronik mengandung nikotin serta sejumlah zat toksik yang tidak hanya membahayakan pengguna, tetapi juga orang di sekitarnya yang terpapar.

“Rokok elektronik mengandung nikotin dan berbagai bahan toksik lainnya yang berdampak buruk bagi pengguna maupun perokok pasif,” ujarnya.

Ia menjelaskan, berdasarkan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), rokok elektronik diklasifikasikan menjadi dua jenis, yakni electronic nicotine delivery system (ENDS) dan electronic non-nicotine delivery system (ENNDS). ENDS diketahui mengandung nikotin dan menghasilkan emisi berbahaya, sementara ENNDS yang diklaim bebas nikotin dalam beberapa kasus tetap ditemukan mengandung zat adiktif tersebut.

Lebih lanjut, Tjandra menyoroti dampak nikotin yang dapat berbahaya, terutama bagi kelompok rentan seperti ibu hamil, janin, serta anak-anak dan remaja. Ia mengingatkan bahwa paparan nikotin pada usia muda dapat mengganggu perkembangan otak dan memengaruhi kemampuan belajar serta kondisi psikologis.

Selain itu, kandungan bahan kimia dalam vape juga berpotensi memicu berbagai penyakit kronis. Mulai dari gangguan paru-paru, penyakit jantung, hingga risiko kanker dalam jangka panjang.

Tjandra juga mengutip temuan dari Centers for Disease Control and Prevention (CDC) yang menyebutkan bahwa aerosol rokok elektronik mengandung partikel halus dan zat berbahaya yang dapat masuk hingga ke bagian dalam paru-paru.

Meski penelitian mengenai dampak jangka panjang vape masih terus berkembang, ia menegaskan bahwa sejumlah kandungan dalam rokok elektronik sudah terbukti memiliki potensi risiko serius.

Karena itu, masyarakat diimbau untuk tidak menganggap vape sebagai alternatif yang lebih aman, serta tetap waspada terhadap dampak kesehatannya. (*)