Green School, Environmental Awareness dan Perilaku Konsumsi Hijau

Karya Ilmiah Istighfaroh, Guru SMA Negeri 12 Semarang tentang Green school, Environmental Awareness dan Perilaku Konsumsi Hijau
Karya Ilmiah Istighfaroh, Guru SMA Negeri 12 Semarang tentang Green school, Environmental Awareness dan Perilaku Konsumsi Hijau

Gelombang panas atau heatwave telah melanda belahan benua Asia akhir-akhir ini. Walaupun Indonesia tidak termasuk pada wilayah yang terkena dampak gelombang panas, namun panas yang dirasakan juga termasuk meningkat signifikan.

Panas yang tidak biasanya hingga bisa menembus lebih dari 40 derajat Celsius. Fenomena gelombang panas tidak datang tiba-tiba sebagai fenomena alam.

Menurut pakar iklim, gelombang panas yang terjadi semakin tinggi dikarenakan pemanasan global dan perubahan iklim yang sangat signifikan.

2023-12-tgl-13-larangan-kampanye

Pemanasan global, seperti yang kita ketahui, juga dikarenakan gaya hidup, pola konsumsi, pertumbuhan penduduk yang tidak teratur. Peralihan hutan dan lahan hijau menjadi fungsi pemukiman, pertanian atau perkebunan hingga industri manufaktur menjadi penyebab signifikan pemanasan global.

Sebagai bentuk antisipasi, banyak pihak yang telah mendengungkan untuk “selamatkan bumi” dan gerakan kepedulian lainnya. Kampanye peduli lingkungan adalah upaya untuk memberikan edukasi kepada masyarakat untuk lebih peduli terhadap kelestarian hidup lingkungan sekitar.

2023-12-tgl-13-pihak-yang-dilarang-ikut-kampanye

Kampanye dilakukan dengan berbagai kegiatan kreatif untuk menggerakkan kesadaran masyarakat.

Png-20230831-120408-0000

Sekolah Hijau dan Kesadaran Lingkungan

Gerakan kesadaran lingkungan (environmental awareness) juga sangat terasa di lingkungan pendidikan seperti di sekolah dan perguruan tinggi. Keberadaan green school atau sekolah adalah wujud nyata dari upaya meningkatkan kesadaran lingkungan.

Kampanye ayo ciptakan sekolah hijau oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan adalah strategi untuk memosisikan sekolah sebagai pelopor dalam kontribusinya menciptakan kota hijau, kota sehat, dan kota berkelanjutan.

Banyak kegiatan pemeringkatan sekolah hijau dan universitas hijau untuk memberikan penghargaan kepada sekolah atau universitas yang mempunyai kebijakan dan implementasinya dalam rangka berkontribusi untuk menjaga kelestarian lingkungan atau konservasi alam.

Sekolah hijau adalah Gerakan komprehensif yang meliputi tampilan fisik sekolah dan program atau kebijakan berkelanjutan dari sekolah untuk meningkatkan kesadaran lingkungan bagi warga sekolah. Siswa, guru, tenaga kependidikan, hingga orang tua/wali harus memiliki keterlibatan aktif dalam Gerakan sekolah hijau ini.

Dengan demikian, dampaknya akan semakin nyata dirasakan. Warga sekolah harus mampu menginternalisasikan nilai-nilai konservasi alam untuk menjaga lingkungan sekitar dengan aktivitas nyata.

Ecoliteracy adalah satu hal penting yang harus ditingkatkan bagi warga sekolah. Data menunjukkan bahwa Indonesia adalah penyumbang sampah plastik terbesar di dunia.

Literasi lingkungan akan memberikan pengetahuan dan pemahaman yang lebih baik bagi warga sekolah untuk lebih arif dan bijak dalam bertindak. Kesadaran lingkungan yang baik akan menuntun warga sekolah untuk bersikap lebih baik.

Membuang sampah di tempatnya adalah hal yang penuh kesadaran dilakukan tanpa harus disuruh. Penggunaan air secukupnya juga merupakan perilaku yang menunjukkan ecoliteracy dan kesadaran lingkungan yang baik oleh warga sekolah.

Perilaku Konsumsi Hijau atau Pro Lingkungan bagi Siswa

Ecoliteracy mencakup empat aspek yang harus diperhatikan, yaitu the head, the heart, the hands dan the spirit. The had menunjukkan pemahaman yang baik, the heart adalah perwujudan dari emosi, the hand adalah tindak lanjut berupa tindakan nyata dan the spirit merupakan semangat untuk learning to live together.

Dengan demikian, ecoliteracy akan semaking menguatkan kesadaran lingkungan masyarakat, termasuk siswa di sekolah. Upaya untuk meningkatkan ecoliteracy harus dilakukan secara berkelanjutan dengan berbagai strategi dan bentuk kegiatan.

Warga sekolah, khususnya siswa harus mendapatkan perhatian khusus karena merupakan generasi masa depan. Fenomenanya menunjukkan sikap unik dari generasi Z saat ini, kadang terasa sangat acuh, namun kesadaran mereka masih bisa untuk disentuh dan dibentuk.

Berbagai pihak di sekolah, di antaranya guru dan manajemen sekolah harus mampu memberikan kontribusi nyata untuk memberikan sentuhan khusus bagi siswa untuk meningkatkan ecoliteracy dan kesadaran lingkungan mereka.

Guru ekonomi bisa mengampanyekan perilaku konsumsi hijau bagi siswa dan warga sekolah lainnya. Perilaku konsumsi hijau adalah perilaku etis yang kompleks bagi seseorang sebagai bentuk tanggung jawab sosialnya terhadap lingkungan.

Perilaku konsumsi hijau adalah tindakan nyata seseorang untuk mengonsumsi produk hijau atau produk ramah lingkungan. Siswa, dengan pemahaman yang cukup tentang kondisi lingkungan saat ini seharusnya mampu memilih dan menentukan mana produk yang lebih baik untuk dikonsumsi.

Artinya, produk yang dikonsumsi tidak akan sembarangan apalagi akan berdampak buruk bagi lingkungan sekitarnya. Siswa sebagai konsumen cerdas saat ini akan melihat produk yang ia konsumsi apakah merusak lingkungan atau telah menggunakan bahan ramah lingkungan.

Bagaimana cara menumbuhkan perilaku konsumsi hijau bagi siswa? Beberapa penelitian menunjukkan bahwa terdapat faktor dominan mempengaruhi perilaku konsumsi atau pembelian produk hijau di antaranya adalah pengetahuan dan tanggung jawab lingkungan.

Artinya Kembali ke ecoliteracy yang telah diuraikan sebelumnya. Peningkatan ecoliteracy akan berdampak signifikan pada perilaku konsumsi hijau siswa. Upaya menyeluruh untuk terus mengedukasi siswa menjadi langkah strategis untuk menjaga ecoliteracy dan kesadaran lingkungan (environmental awareness) siswa.

Mari bersama kita ubah perilaku konsumsi kita, untuk lebih menuju pola perilaku konsumsi hijau. Sebagai bentuk kontribusi kita dalam mewujudkan Sekolah Hijau dan Kesadaran Lingkungan.

P5 Gaya Hidup Berkelanjutan

Diantara upaya mewujudkan Green School, SMA Negeri 12 Semarang melaksanakan Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P5) dengan mengambil tema Gaya Hidup Berkelanjutan. Dimana kegiatan yang dipilih adalah mengolah sampah anorganik dan membuat biopori dan komposting.

Waktu pelaksanaan P5 gaya hidup berkelanjutan dilaksanakan selama dua minggu. Dengan memberikan teori sekaligus praktek tentang composting dan pengolahan sampah anorganik . Peserta didik belajar dan mempraktekkan reuse, reduce dan recycle memilah milah sampah dan juga mengumpulkan tutup botol berkas dijadikan tempat sampah yang sangat artistik.

Karya ilmiah ini ditulis oleh:

Istighfaroh

Guru SMA Negeri 12 Semarang

Dapatkan update berita pilihan dan terkini setiap hari dari lingkar.co dengan mengaktifkan Notifikasi. Lingkar.co tersedia di Google News, s.id/googlenewslingkar , Kanal Telegram t.me/lingkardotco , dan Play Store https://s.id/lingkarapps

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *