Kasus Kemanusiaan Marak, PMI Kota Adakan Seleksi Duta Kemanusiaan

Para peserta seleksi Duta Kemanusiaan PMI Kota Semarang saat mengikuti tes tertulis di aula lt.3, Markas PMI Kota Semarang. Foto: Rifqi/Lingkar.co

Lingkar.co – Palang Merah Indonesia (PMI) Kota Semarang prihatin dengan kembali maraknya kasus kemanusiaan, seperti kasus bullying, pembacokan guru di sekolah hingga yang terbaru mahasiswi diduga bunuh diri.

Oleh karena itu, pada momen kegiatan bulan kemanusiaan PMI Kota Semarang mengadakan seleksi Duta Kemanusiaan di aula markas PMI Kota Semarang, Senin (16/10/2023).

Kepala Markas PMI Kota Semarang, Mugiyanto menerangkan, ada 50 peserta calon Duta Kemanusiaan PMI Kota Semarang yang mengikuti sesi tes tertulis dan wawancara pada hari ini.

Mereka berasal dari Palang Merah Remaja (PMR) Mula (setingkat SD), PMR Madya (SLTP), PMR Wira (SLTA), dan Korp Sukarela (mahasiswa) yang telah mengikuti sosialisasi di sekolah.

“Untuk pelaksanaan Duta Kemanusiaan, awalnya kita melakukan road show ke masing-masing sekolahan untuk menyampaikan terkait kegiatan (Bulan Kemanusiaan), tagline kita adalah Humanity for Children and Youth,” ujarnya.

Setelah itu, lanjutnya, peserta mulai mendaftar secara online dengan menyertakan akun media sosial pribadi sebagai salah satu item penilaian.

Png-20230831-120408-0000

“Intinya adalah menyebarluaskan informasi terkait konten kemanusiaan. Setelah tanggal 17 (September) kita tutup, kemudian kita lakukan penilaian terhadap konten tersebut,” paparnya.

Tes tertulis dan wawancara pada hari, lanjutnya, adalah bagi peserta yang lulus dalam seleksi tahap awal.

“Ada dua hal, pertama adalah seleksi tertulis, kemudian ada seleksi wawancara yang meliputi tentang etika, pengetahuan dan keterampilan. Nanti hasilnya akan kita ambil dua orang putra dan putri masing-masing tingkatan,” jelasnya.

Terkait kegiatan Duta Kemanusiaan, Mugiyanto menyebut konsep tersebut muncul lantaran adanya fenomena bahwa pengetahuan yang disampaikan teman lebih mudah diterima daripada pengetahuan yang disampaikan oleh orangtua dan guru

“Karena seperti halnya yang kita ketahui pendidikan remaja sebaya atau rekan sebaya itu lebih mengena daripada dilakukan oleh orang usianya jauh lebih tinggi karena itu sifatnya adalah pendidikan non formal,” jelasnya.

Sekretaris PMI Kota Semarang, Ratnaningdyah Hasna Zahari, SH, MH mewanti-wanti, peserta yang terpilih sebagai Duta Kemanusiaan bukan untuk ajang penampilan fisik, melainkan harus mampu menyuarakan misi kemanusiaan di masyarakat.

Bukan Ajang Tampilan Fisik

“Kalau harapnya dari PMI, mereka itu jadi duta kemanusiaan itu bukan hanya untuk ajang lomba ganteng-gantengan, cantik-cantikan,” kata Ratna disela kegiatan.

“Tapi pada intinya mereka itu mengerti dan bisa menyuarakan tentang kemanusiaan dan bisa mewakili PMI Kota Semarang,” sambungnya.

Menjawab terkait segmentasi pelajar dan mahasiswa, Ratna menyatakan tema dalam kegiatan bulan kemanusiaan tiap tahun bisa berbeda.

“Karena setiap tahun kita punya tema. Tema tahun kemarin Sound for Humanity kemudian tema tahun ini Humanity for Children and Youth,” tandasnya.

“Kenapa kita pilih tema itu karena kemarin dan saat ini banyak anak-anak remaja itu melakukan pembullyan kekerasan kepada teman lainnya, atau kepada orang,” jelai.

Sehingga, lanjutnya, PMI sebagai organisasi kemanusiaan harus ikut berperan aktif di barisan paling depan dalam mereduksi aksi kekerasan tersebut.

Oleh karena itu ia kembali menegaskan hal yang utama dilakukan oleh Duta Kemanusiaan adalah menyuarakan kemanusiaan hingga seluruh penjuru dunia.

“Harapan kami dari PMI Kota Semarang, mereka ini besok bisa jadi juru bicara PMI baik ke luar (kota) maupun di luar negeri,,” ulangnya menegaskan. (*)

Penulis: Ahmad Rifqi Hidayat

Dapatkan update berita pilihan dan terkini setiap hari dari lingkar.co dengan mengaktifkan Notifikasi. Lingkar.co tersedia di Google News, s.id/googlenewslingkar , Kanal Telegram t.me/lingkardotco , dan Play Store https://s.id/lingkarapps

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *