Lingkar.co – Kelurahan Sarijadi, Kecamatan Sukasari, Kota Bandung, Jawa Barat memiliki program Samber Ceu Pilah (Sampah Habis di Sumber, Cegah, Pilah, dan Olah). Program ini digerakkan langsung oleh warga, khususnya di RW 01 hingga RW 11 Kelurahan Sarijadi.
Menurut Lurah Sarijadi, Evi Sjopiah Tusti, Samber Ceu Pilah dimulai dari sosialisasi masif kepada warga untuk memilah sampah sesuai jenisnya dan mengolahnya secara mandiri di rumah atau bersama-sama di lingkungan RW.
“Bagi rumah warga yang sudah melaksanakan pemilahan sampah, kami tempelkan stiker Ceu Pilah sebagai tanda bahwa sampahnya sudah selesai di sumber,” jelasnya Evi dalam siaran pers Pemkot Bandung, Selasa (30/12/2025).
Melalui pola ini, katanya, Sarijadi berhasil menekan pembuangan sampah ke Tempat Pengolahan Sampah (TPS) dan Tempat Pembuangan Akhir (TPA), sekaligus mengubah sampah menjadi sumber daya yang bernilai ekonomi dan ekologis.
Ia lanjut menerangkan, untuk sampah anorganik bernilai atau rongsok, warga menyedekahkannya kepada petugas sampah untuk kemudian didaur ulang. Jenis rongsok yang dikumpulkan meliputi duplex, arsip, dus, kaleng, emberan, besi, kabel, aro, beling, hingga daimatu.
Berdasarkan perhitungan, volume sampah an-organik jumlahnya mencapai sekitar 167 kilogram setiap dua hari. Sampah ini tidak lagi menjadi beban lingkungan, melainkan sumber penghasilan bagi petugas dan komunitas pengelola.
Sedangkan sampah anorganik residu diolah menjadi biomasa dan dijual ke pabrik tekstil untuk dijadikan bahan bakar co-firing limbah batubara.
“Manfaatnya bukan hanya untuk warga, tetapi juga industri. Pabrik menjadi lebih efisien karena limbah batubara bisa dikurangi,” ujar Evi.
Setiap dua hari, pengelolaan sampah an-organik residu ini mencapai sekitar 289 hingga 300 kilogram, yang sebelumnya berpotensi menumpuk di TPS.
Jadi Pupuk dan Ketahanan Pangan
Evi melanjutkan, potensi terbesar Samber Ceu Pilah justru datang dari sampah organik berupa sisa makanan, seperti; tulang, duri, biji, cangkang, sisa nasi, dan sisa sayuran. Seluruhnya diolah menjadi Mikro Organisme Lokal (MOL), Pupuk Organik Cair (POC), serta kompos atau Pupuk Organik Padat (POP).
Dijelaskannya, MOL dan POC bermanfaat untuk menghilangkan bau sampah, mempercepat proses pembusukan, dan menyuburkan tanaman, baik sayuran, buah, dan bunga.
Sedangkan kompos atau POP dimanfaatkan sebagai media tanam dan pupuk organik. Dalam dua hari, volume sampah organik yang diolah mencapai sekitar 240 hingga 300 kg. Hasilnya, warga mampu menanam kebutuhan pangan sendiri tanpa harus membeli sayuran, sekaligus mengembangkan Tanaman Obat Keluarga (TOGA).
“Ini bukan hanya soal sampah, tapi soal ketahanan pangan masyarakat,” tegasnya.
Ia mengakui, keberhasilan Samber Ceu Pilah tidak lepas dari peran aktif ibu-ibu PKK yang menjadi motor penggerak perubahan perilaku.
Edukasi dilakukan berjenjang dari kelurahan, RW, hingga RT, dan dipantau melalui laporan harian aktivitas pemilahan sampah.
Wali Kota Bandung, Muhammad Farhan mengapresiasi pendekatan tersebut. Menurut dia, para ibu memiliki peran penting dalam membangun perubahan perilaku hidup bersih dan sehat.
“Kalau sampah selesai di rumah, kota ini akan jauh lebih ringan bebannya. Dan yang paling konsisten menggerakkan perubahan itu memang ibu-ibu,” ujar Farhan.
Dengan pengurangan signifikan timbulan sampah, peningkatan ekonomi warga, hingga kontribusi terhadap ketahanan pangan dan industri ramah lingkungan, Samber Ceu Pilah Sarijadi dinilai layak menjadi model pengelolaan sampah berbasis RW dan kelurahan di Kota Bandung.
Farhan pun mendorong agar praktik ini terus diperkuat dan direplikasi ke wilayah lain, sejalan dengan target Kota Bandung menuju kota yang lebih bersih, sehat, dan berkelanjutan. (*)








