Kerahkan Alat Berat, Percepat Penanganan Pascabanjir di Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat

Eskavator UPT Kementerian Kehutanan Wilayah Aceh saat melakukan pembersihan kayu pascabanjir. Foto: dokumentasi/istimewa
Eskavator UPT Kementerian Kehutanan Wilayah Aceh saat melakukan pembersihan kayu pascabanjir. Foto: dokumentasi/istimewa

Lingkar.co – Kementerian Kehutanan (Kemenhut) melalui Unit Pelaksana Teknis (UPT) Koordinator Wilayah Aceh terus melakukan percepatan penanganan dampak bencana banjir berupa pembersihan tumpukan kayu dan material sisa banjir di sejumlah wilayah terdampak, meliputi Kabupaten Aceh Tamiang dan Aceh Utara (Provinsi Aceh), Kabupaten Tapanuli Selatan (Sumatra Utara), serta Kabupaten Agam dan wilayah Pantai Padang (Sumatra Barat).

Langkah ini dilakukan sebagai bentuk kehadiran negara dalam mempercepat pemulihan lingkungan dan membantu masyarakat terdampak bencana hidrometeorologi, khususnya akibat tumpukan kayu dan material yang menghambat aktivitas warga serta aliran sungai.

“Sesuai arahan dari Menhut, pagi hari ini kita mengadakan rapat terkait pembersihan material kayu terbawa banjir,” ujar Wakil Menteri Kehutanan, Rohmat Marzuki dalam siaran persnya, Minggu (21/12/2025).

Ia menekankan pentingnya evaluasi progres pembersihan material kayu terbawa banjir di Padang (Sumatra Barat), Aceh Tamiang dan Aceh Utara (Aceh), serta Tapanuli Selatan (Sumatra Utara), sekaligus mendorong percepatan agar proses berjalan lancar dan cepat. “Harapannya yang lokasi di Padang bisa jadi quick win dari pembersihan ini,” tambahnya.

Sebelumnya, siaran pers Kemenhut telah menyiapkan dukungan alat berat dan personel secara bertahap.

Penyediaan 14 eskavator dengan alokasi 7 eskavator di Tamiang dan 7 eskavator di Aceh Utara (tanggal 19 Desember 2025, dua unit telah tersedia, lima dalam proses sewa) untuk pembersihan kayu-kayu bekas banjir di Tamiang dan Aceh Utara, sebagaimana dilaporkan dalam perkembangan lapangan.

Pada Sabtu, 20 Desember 2025, dua unit alat berat bergerak dari Medan dan diperkirakan tiba di Kecamatan Karang Baru, Kabupaten Aceh Tamiang, pada siang hari. Empat unit tambahan menyusul dan diperkirakan tiba pada sore hari. Dengan demikian, pada Minggu, 21 Desember 2025, sebanyak enam unit alat berat dapat bekerja secara optimal di Aceh Tamiang.

Dukungan Personel

Selain itu, saat ini telah terdapat dua unit alat berat BPJN di lokasi Pesantren Darul Mukhlisin, Kecamatan Karang Baru, yang turut membantu percepatan pembersihan, dengan dukungan 30 unit dump truck untuk pengangkutan material hasil pembersihan.

Dari sisi personel, UPT Kementerian Kehutanan mengerahkan pegawai sebanyak 50 orang di Aceh Tamiang dan 40 orang di Aceh Utara dan akan ditambah dari BPBD dan instansi lainnya. Personel tersebut berasal dari Balai Besar Taman Nasional Gunung Leuser (BBTNGL), Balai Penegakkan Hukum (GAKKUM) Wilayah Sumatera, Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Aceh, Balai Pengelolaan Hutan Lestari (BPHL) Wilayah I Aceh, Balai Pemantapan Kawasan Hutan (BPKH) Wilayah XVIII, Manggala Agni, DLHK Aceh, serta mitra terkait.

Di Kabupaten Aceh Utara, tepatnya Kecamatan Langkahan, satu unit alat berat bergerak dari Medan dan diperkirakan tiba pada malam hari, sementara tiga unit lainnya yang berada di sekitar Aceh Utara dijadwalkan tiba pada sore hari. Seluruh alat berat tersebut direncanakan mulai bekerja pada Minggu, 21 Desember 2025.

Penanganan yang sama di Sumatra Utara, khususnya Kabupaten Tapanuli Selatan. Kegiatan penanganan dilaksanakan pada Sabtu–Minggu, 20–21 Desember 2025 dengan penyediaan 5 unit eskavator untuk pembersihan sisa-sisa kayu di rumah-rumah warga.

Selain itu, 1 unit damkar dan 100 personil untuk pembersihan lumpur dan sisa-sisa kayu di rumah warga oleh Kemenhut (BBKSDA Sumut, BTN Batang Gadis, Balai Pengendalian Kebakaran Sumut), serta 3 unit dump truck untuk mengangkut material sisa banjir dipindahkan ke lokasi di luar areal terdampak oleh Kemenhut.

Untuk mendukung pengamanan infrastruktur sungai, dilakukan pula pengerahan 9 unit excavator dan 4 unit excavator capit untuk mempertebal banwall untuk jembatan belly di alur Sungai Garoga dan membersihkan kayu-kayu sisa di rumah-rumah warga, dengan dukungan berbagai pihak, serta Kementerian/Dinas PU bersama TNI melakukan setting/pengaturan pembangunan jembatan belly di aliran baru SungaiGaroga.

Selanjutnya di Sumatra Barat, melakukan pembersihan kayu di wilayah Pantai Padang dan Kabupaten Agam.

Penyediaan 7 unit eskavator (tanggal 19 Desember, lima unit tersedia dan dua unit sedang dalam proses sewa) dan 10 dump truk untuk pembersihan kayu di Pantai Padang telah disiapkan untuk mendukung percepatan pekerjaan.

Dari sisi sumber daya manusia, Kemnhut mengerahkan 250 orang dari Kemenhut (3 peleton damkar dan UPT lain), Polri dan TNI untuk pembersihan kayu di Pantai Padang. Selain itu, sebagai bentuk dukungan kemanusiaan, Kemenhut juga menyediakan tenaga kesehatan di Kabupaten Agam, Sumatera Barat.

Komitmen Pemantauan Berkelanjutan

UPT Kementerian Kehutanan Koordinator Wilayah Aceh menegaskan akan terus melakukan pemantauan lapangan dan pembaruan informasi sesuai dengan perkembangan penanganan bencana di masing-masing wilayah.

UPT Kemenhut Koordinator Wilayah Aceh akan terus melakukan pemantauan dan pembaruan informasi sesuai dengan perkembangan penanganan di lapangan, sebagai bentuk komitmen Kementerian Kehutanan dalam mendukung percepatan pemulihan pascabencana dan menjaga fungsi lingkungan secara berkelanjutan.(*)