Kisah Horor Lawang Sewu Diangkat Menjadi Film

  • Bagikan
Poster Film Lawang Sewu Dendam Kuntilanak,MD Pictures/Lingkar.co
Poster Film Lawang Sewu Dendam Kuntilanak,MD Pictures/Lingkar.co

SEMARANG, Lingkar.co – Siapa yang tidak kenal dengan Lawang Sewu, landmark Kota Semarang, Jawa Tengah yang dulunya sebagai kantor pusat Perusahaan Kereta Api Hindia Belanda.

Nama Lawang Sewu mencuat karena bangunan tersebut tetap berdiri kokoh meski berusia ratusan tahun, sejuta kisah mistis dan mitos menyelimuti bangunan era kolonialisme itu.

Citra bangunan Lawang Sewu selalu kental dengan kisah horor, Konon menurut masyarakat sekitar, wanita belanda atau noni-noni belanda sering menampakan diri saat malam hari.

Konon katanya, noni-noni Belanda itu melakukan bunuh diri di dalam bangunan tersebut. Banyak kisah dan versi dari masyarakat terkait kisah noni-noni Belanda yang malang itu.

Bahkan, sebuah film horor tahun 2007 tahun lalu mengangkat kisah tragis dari noni-noni Belanda itu yang bertajuk Lawang Sewu: Dendam Kuntilanak.

Film itu mengisahkan, tujuh remaja dari Jakarta yang berada di Semarang untuk merayakan kelulusan mereka selepas SMA.

Sinopsis Film Lawang Sewu: Dendam Kuntilanak

Tujuh remaja tersebut bernama Diska, Yugo, Armen, Dinda, Naya, Onil dan Cika. Cerita berawal saat semua remaja itu, kecuali Diska, mabuk setelah pergi ke klub malam. Dalam perjalanan pulang ke rumah nenek Naya, Mbah Darmi, Armen, Onil dan Yugo meminta Diska menepi agar mereka bisa buang air kecil.

Kendaraan itu akhirnya berhenti di Lawang Sewu, lalu mereka buang air kecil ke dalam bangunan dari luar pagar. Cika yang harus buang air kecil merasa tidak nyaman jika buang air kecil pada luar bangunan.

Akhirnya, Cika memutuskan untuk memasuki area bangunan itu, Setelah bertanya-tanya mengapa Cika tidak kembali, mereka berenam masuk ke dalam bangunan untuk mencarinya. Hantu-hantu bermunculan dan marah karena mereka tidak menghargai bangunan tersebut, kemudian para hantu mulai menakuti mereka.

Pertama datang adalah hantu wanita Belanda, Noni van Ellen, yang merasuki Dinda dan membuatnya berteriak memarahi teman-temannya sendiri.

Setelah Dinda kembali normal, Diska memberitahunya bahwa Cika telah melanggar kesucian bangunan dengan masuk ke dalam saat sedang menstruasi.

Onil diminta membawa Dinda ke luar, tetapi sebelum mereka dapat meninggalkan bangunan, mereka diteror oleh kuntilanak dengan bola dan rantai yang melilit di kakinya sehingga Onil yang sangat ketakutan mengompoli celananya, lalu Onil dan Dinda saling berpelukan saat hantu mendekati mereka.

Alur Cerita Menegangkan

Sementara itu, Diska, Yugo, Armen dan Naya terkejut menemukan Cika yang sudah tidak bernyawa. Ketika mereka bersama-sama membawa Cika keluar dari gedung, kuntilanak datang dan mengejar mereka.

Diska telah keluar dari gedung, tetapi Armen, Yugo dan Naya dikejar ke ruang bawah tanah di mana kuntilanak meneror mereka. Diska pergi untuk meminta bantuan Mbah Darmi.

Ketika mereka kembali, mereka berusaha mengusir hantu dengan melakukan pengusiran setan, lalu hantu-hantu bangkit dan langsung menyerang Mbah Darmi hingga tewas, lalu hantu-hantu itu mengejar Diska ke ruang bawah tanah.

Di ruang bawah tanah, Diska bertemu Armen, Yugo dan Naya. Armen memberitahu kepada mereka yang tersisa bahwa ia mengetahui sosok kuntilanak itu adalah mantan kekasihnya, Ratih (Nuri Maulida).

Armen tidak sengaja menghamili Ratih sehingga Ratih diusir dari Jakarta oleh Armen dan teman-temannya dan Diska, yang waktu itu ingin membantunya, dihadang oleh Naya dan Cika.

Setibanya di kota kelahirannya di Semarang, Ratih tidak diakui oleh ayahnya (August Melasz) sehingga ia dengan putus asa bunuh diri dengan melemparkan dirinya ke sumur di Lawang Sewu.

Setelah mempelajari kebenaran tersebut, Diska berlari ke sumur untuk menutupnya. Segera setelah itu, sosok kuntilanak telah membunuh Naya dan Armen.

Saat kuntilanak bersiap untuk membunuh Yugo, Diska berhasil menutup sumur dan menghentikan sosok kuntilanak. Pada akhirnya, Diska dan Yugo pulang bersama ke rumah masing-masing dan melanjutkan kehidupan mereka.

Penulis : Rezanda Akbar D.
Editor : Rezanda Akbar D.

  • Bagikan