Lepas Tim NU Peduli Jateng ke Aceh, Rais PWNU Ingatkan Pentingnya Jaga Mentalitas Relawan

Rais Syuriah PWNU Jateng, KH Ubaidillah Shadaqah saat menyampaikan pesan dan arahan dalam 'Apel Pelepasan Relawan NU Peduli Jateng ke Aceh' yang dilaksanakan di halaman kantor PWNU Jateng, Jl. dr. Cipto 180, Kota Semarang, Jawa Tengah, Sabtu (10/1/226) sore. Foto: Rifqi/lingkar.co
Rais Syuriah PWNU Jateng, KH Ubaidillah Shadaqah saat menyampaikan pesan dan arahan dalam 'Apel Pelepasan Relawan NU Peduli Jateng ke Aceh' yang dilaksanakan di halaman kantor PWNU Jateng, Jl. dr. Cipto 180, Kota Semarang, Jawa Tengah, Sabtu (10/1/226) sore. Foto: Rifqi/Lingkar.co

Lingkar.co – Rais Syuriah Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Tengah, KH Ubaidillah Shadaqah mengingatkan para relawan NU Peduli Jateng yang akan melaksanakan misi kemanusiaan di Aceh. Ia berpesan mentalitas sebagai relawan harus dijaga saat di lokasi bencana.

“Anda harus sabar di sana (Aceh) sebab secara psikologis, orang yang sedang tertimpa musibah pada umumnya mudah tersinggung dan enggan bekerja,” pesan Kiai Ubaid, sapaan akrabnya.

Ia menyampaikan pesan itu sebelum doa ‘Apel Pelepasan Relawan NU Peduli Jateng ke Aceh’ yang dilaksanakan di halaman kantor PWNU Jateng, Jl. dr. Cipto 180, Kota Semarang, Jawa Tengah, Sabtu (10/1/226) sore.

“Mungkin anda semua akan mendapati orang lain atau korban bencana yang hanya duduk-duduk saja, sementara anda menjalankan pekerjaan. Maka itu ujian untuk keikhlasan Anda,” paparnya.

“Jangan menyeloteh, atau menggerutu jika menemukan hal demikian,” sambungnya.

Ia lanjut menjelaskan, orang yang sedang bersedih hati karena rumahnya roboh, maka tidak mungkin bergerak untuk mendirikan rumah itu lagi. Hal itu karena orang tersebut sedang diliputi rasa duka.

“Maka tetangganyalah yang harus membantu, mendirikan rumah itu lagi,” terangnya.

Selain itu, pengasuh Pesantren Al Itqoon Bugen Tlogosari Wetan Pedurungan Kota Semarang ini juga mengingatkan, kemanusiaan sebagai landasan beragama, “Misi kemanusiaan adalah misi agama, ya agama itu agama kemanusiaan,” jelasnya.

Ia menuturkan, agama mengajarkan agar manusia sebagai makhluk Tuhan meletakkan posisi diri sebagai manusia yang memiliki kelebihan dan kelemahan.

“Ketika terjadi bencana, maka kita harus mendudukkan posisi sebagai manusia, yaitu menolong mengentaskan manusia lain dari bencana tersebut,” ujarnya.

Bahkan, lanjutnya, ketika mendengar orang yang butuh pertolongan seperti ada minta tolong akan tercebur sumur, atau terjebak dalam kebakaran, namun sedang menjalankan salat fardhu. Maka, yang harus dilakukan adalah meninggalkan salat terlebih dahulu untuk menyelamatkan orang.

“Ini pentingnya hablum minannas yang tidak bisa dipisahkan dengan hablum minallah. Artinya misi kemanusiaan ini sangat lekat sekali dengan dimensi ketuhanan,” jelasnya.

Allah, lanjutnya, menolong manusia melalui tangan manusia yang tergerak hatinya. Apalagi menolong sesama muslim, tentu membutuhkan perhatian yang tersendiri. (*)

Penulis: Ahmad Rifqi Hidayat