Pedagang Kecil: Kalau Disuruh Libur Tak Ada Solusi, Kami Makan Apa

  • Bagikan
PASRAH: Giyar, pedagang es kelapa muda di pinggir jalan raya Kebakkramat-Tasikmadu, Karanganyar. (PUJOKO/KORAN LINGKAR JATENG)
PASRAH: Giyar, pedagang es kelapa muda di pinggir jalan raya Kebakkramat-Tasikmadu, Karanganyar. (PUJOKO/KORAN LINGKAR JATENG)

KARANGANYAR, Lingkar.co- Pelaku usaha kecil di Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah (Jateng) merespon gerakan Jateng di Rumah Saja yang gagasan Gubernur Jateng Ganjar Pranowo Sabtu-Minggu (6-7/2) lalu.

Giyar, penjual es degan (kelapa muda, red) di pinggir Jalan Kebakkramat-Tasikmadu, Karanganyar menyebutkan, gerakan di rumah saja membuat pedagang kecil tidak bisa berjualan. Padahal pedagang itu punya keluarga yang harus dicukupi kebutuhan makannya setiap hari.

Ads Selamat Hari Raya Idul Fitri 2022

”Misalnya saya jualan gini, udah pandemi pas musim hujan pula. Kalau sebelum pandemi, jualan saya pas musim kemarau, kan buat nutup pendapatan pas musim hujan yang cenderung sepi kan,” ungkap Giyar

”Kalau pandemi gini sudah ngampet (bertahan, Red). Hujan kemarau sama saja.  Pada awal-awal pandemi itu sudah turun 60-70 persen. Yang mau jajan malah ada yang ketakutan,” imbuh Giyar yang tinggal di Wonorejo, Gondang Rejo tersebut.

Apalagi, kata Giyar, ia juga masih punya tanggungan bayar cicilan bank setiap bulan. Kalau di rumah saja, tidak jualan, bagaimana bisa membayar cicilan pinjaman bank.

”Pedagang kecil seperti saya ya lebih pilih nyari uang daripada corona. Kalau harus di rumah saja, tapi tidak ada solusi, kami mau makan apa,” kata Giyar soal gerakan Jateng di Rumah Saja menjadi upaya mengatasi pandemi Covid-19.

Bila ada kesempatan bertemu Gubernur Ganjar Pranowo, Giyar berharap, PPKM yang ada saat ini lebih longgar. Sehingga pedagang kecil bisa tetap berjualan. Seperti Karanganyar yang melonggarkan PPKM tahap 2 sehingga pedagang masih bisa bergerak.

Setiyoko penjual gorengan di pinggir jalan raya Kebakkramat-Tasikmadu mengaku, gerakan di rumah saja oleh Gubernur Jateng itu, tidak bisa untuk dijalankan.

Apalagi bagi Setiyoko yang punya tanggungan hutang bank yang harus bayar tiap bulan. Belum lagi harus bertanggung jawab terhadap kebutuhan harian anak istri.

”Namanya orang usaha punya hutang. Kalau di rumah tidak kerja sehari rasanya tidak mungkin. Padahal setoran (bank) tidak libur, setoran tetap setoran. Terus tanggung jawab anak istri, susu anak, ibarat kata telat 1 hari ngga bisa,” kata warga Desa Waru, Kebakkramat tersebut.

Setiyoko berharap kepada Gubernur Jateng, kalau memang hendak melakukan gerakan di rumah saja, mestinya juga memberikan kompensasi kepada masyarakat. Minimal kebutuhan makan masyarakat itu harus tercukupi.

”Kalau harus libur terus, pemerintah tidak ini tidak itu (tidak memberi bantuan), kalau tidak cari sendiri, dapat uang dari mana. Kalau saya libur, terus, tidak ada pendapatan ya tidak bisa,” kata Setiyoko.

Disinggung bahwa program Gerakan Jateng di Rumah Saja itu sebagai usaha menangani pandemi Covid-19, Setiyoko mengatakan, kalau virus corona yang dijadikan alasan, hal itu tergantung masing-masing.

”Ikut gerakan di rumah saja, tapi tidak ada pemasukan yang dijagakke keluarga, terus gimana?” kata Setiyoko. (jok/lut)

Sumber: Koran Lingkar Jateng

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.