Pemkab Kudus Wacanakan Tutup Tempat Wisata selama Libur Nataru

  • Bagikan
MENYENANGKAN: Sejumlah wisatawan nampak bersenang-senang menaiki river tubing di tempat wisata Cengkir Manis, baru-baru ini. (DIMAS ELSHIHAB/LINGKAR JATENG)
MENYENANGKAN: Sejumlah wisatawan nampak bersenang-senang menaiki river tubing di tempat wisata Cengkir Manis, baru-baru ini. (DIMAS ELSHIHAB/LINGKAR JATENG)

KUDUS, Lingkar.co  – Pelaksana tugas (Plt) Bupati Kudus Dr. HM Hartopo mewacanakan akan menutup semua tempat wisata selama libur Natal dan Tahun Baru (Nataru). Hal tersebut dilakukan untuk mencegah penyebaran virus Covid-19, dimana angka kasusnya masih tergolong tinggi.

Wacana penutupan tempat wisata tersebut murni merupakan usulan pribadi Hartopo. Pasalnya, hingga saat ini, belum ada keputusan akhir dari Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kudus.

Ads Selamat Hari Raya Idul Fitri 2022

“Kita koordinasikan terlebih dulu dengan Forkopimda. Ide saya, tahun baru semua pariwisata akan kita tutup. Itu dari saya, tapi keputusan nanti hasil koordinasi bersama,” kata Hartopo kepada awak media saat ditemui di lingkungan Pendapa Kabupaten Kudus, belum lama ini.

Lebih lanjut, Hartopo mengungkapkan, rencana tersebut masih perlu di kaji lebih lanjut. Menurutnya, penutupan tempat wisata juga akan berdampak pada sektor wisata di Kudus.

“Hasilnya belum tahu nanti jadi ditutup atau tidak. Kalau saya seperti itu terlalu ekstrim, sembarang kita tutup. Kalau saya pengennya seperti itu, tapi tergantung nanti,” ujarnya.

Orang nomor satu di Kabupaten Kudus itu memang memiliki alasan tersendiri mengenai rencana penutupan tempat wisata. Menurutnya, penutupan tempat wisata bisa mengantisipasi kelonjokan kasus penyebaran virus Covid-19 di Kabupaten Kudus. 

“Supaya tidak berpergian ke objek wisata. Dibatasi agar tidak memunculkan kerumunan demi menekan angka temuan kasus Covid-19 di Kudus semakin berkurang,” ungkapnya.

Kasus penyebaran virus Corona di Kudus memang masih terus mengalami lonjakan. Kendati demikian, Kudus saat ini masih berada di zona oranye. Rendahnya kesadaran masyarakat untuk menerapkan protokol kesehatan menjadi salah satu faktor penyebabnya.

“Naik terus, sehari 10 sampai 25 kasus baru terkonfirmasi Covid-19. Perlu pemahaman kepada masyarakat. Bagaimana penularan virus ini sendiri. Sehingga perlu untuk meningkatkan menerapkan protokol kesehatan mencuci tangan, memakai masker, dan menjaga jarak,” tandas Hartopo. (mg4/dim/aji)

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.