PMI Kota Semarang Dampingi Pasien Thalasemia

Ketua PMI Kota Semarang, awal Prasetyo saat berdialog dengan pasien thalasemia asal Boja Kendal di aula lt 4 gedung UDD PMI Kota Semarang. Foto: Rifqi Hidayat/Lingkar.co

Lingkar.co – Penderita thalasemia memiliki ketergantungan untuk hidup yang berkualitas dengan cara transfusi darah setidaknya 1 bulan sekali. Membantu penderita penyakit yang membutuhkan transfusi darah telah dilakukan oleh Palang Merah Indonesia (PMI) Kota Semarang sejak tahun 1995

Hal itu terungkap dari Shofa (21), salah satu penderita thalasemia asal boja, Kendal saat mengikuti diskusi tentang pelayanan hematologi onkologi (kasus kelainan darah), Minggu (17/9/2023).

Dialog tersebut digelar di aula lt.4 gedung UDD PMI Kota Semarang dalam rangka peresmian Klinik Utama dan bertepatan dengan hari lahir PMI ke 78.

Pada kesempatan itu, Shofa yang menderita thalasemia sejak usia 3 tahun ini mengaku rutin melakukan transfusi darah di klinik PMI Kota Semarang lebih dari 10 tahun.

“Sejak tahun 2010 mulai transfusi (nambah) darah di klinik PMI Kota Semarang,” ungkapnya.

Ia melakukan transfusi darah di klinik PMI Kota Semarang secara mandiri dengan nominal sekitar Rp500 ribu untuk sekali transfusi darah. Hal itu karena dirinya tidak bisa melakukan aktivasi BPJS Kesehatan dari pemerintah.

Png-20230831-120408-0000

“Pake biaya sendiri, ya sekitar lima ratus ribuan,” jawabnya.

Ketua Yayasan Kanker Anak Indonesia (YKI) Semarang Koordinator Jawa Tengah, Dr. dr. Eko Adi Pangarsa, Sp.PD, KHOM, dalam paparannya mengaku kasihan terhadap pasien thalasemia karena minimnya akses pengetahuan tentang penyakit tersebut.

Selain itu, juga keterbatasan akses obat dan pengobatan karena tidak semua bisa ditampung oleh rumah sakit. Sehingga perawatan pasien terpaksa dikembalikan kepada keluarga.

“Tidak semua pasien thalasemia ini bisa terakomodir di rumah sakit,” ujarnya.

Ketua PMI Kota Semarang, awal Prasetyo saat mendatangi MoU dengan YKI Semarang di aula lt. 4, gedung UDD PMI Kota Semarang. Foto: Rifqi Hidayat/Lingkar.co

Sementara, Ketua PMI Kota Semarang, Dr. dr. Awal Prasetyo, THT-KL, MKes mengatakan, klinik utama PMI Kota dipersiapkan dengan spesialisasi hematologi onkologi karena sebagai bagian dari penyaluran hasil mengolah darah agar tidak ada yang terbuang sebab kadaluarsa.

“Klinik Utama PMI Kota Semarang ini memang ditujukan upaya untuk hilirisasi produk darah yang dikoleksi dari kesukarelaan masyarakat kota Semarang sebagai pendonor darah di PMI Kota Semarang,” kata Awal.

Kepala Dinas Kesehatan Kota Semarang, M. Abdul Hakam menyambut baik hadirnya Klinik Utama PMI Kota Semarang.

“PMI sudah mau mengembangkan sayapnya di klinik utama pasti saya dukung dok,” kata Hakam yang langsung disambut tepuk tangan meriah hadirin.

Ia yakin PMI bersama BPJS bisa menjaga kualitas dan mutu pelayanan dengan standar keamanan dalam penanganan yang baik. Kendati demikian ia juga mengingatkan pentingnya akreditasi.

“Kalau sebagai klinik utama SIUPnya sudah keluar. Nah, supaya nanti bisa menjadi klinik utama yang melakukan transfusi. Kemudian habis itu bisa kerjasama dengan BPJS ditambah lagi dengan akreditasi,” pesannya.

Usai dialog, Awal Prasetyo dan Eko Adi Pangarsa melakukan penandatanganan kesepahaman bersama (MoU). Keduanya kemudian bersama para pengurus PMI Kota Semarang beserta staf, relawan dan tamu undangan menuju Markas PMI Kota Semarang untuk meresmikan Klinik Utama. (*)

Penulis: Ahmad Rifqi Hidayat

Dapatkan update berita pilihan dan terkini setiap hari dari lingkar.co dengan mengaktifkan Notifikasi. Lingkar.co tersedia di Google News, s.id/googlenewslingkar , Kanal Telegram t.me/lingkardotco , dan Play Store https://s.id/lingkarapps

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *