Lingkar.co – Pegiat Swarnaloka Indonesia, Mustaghfirin menyatakan siap memberikan lahan gratis serta mendampingi Fatayat NU melakukan kegiatan pemberdayaan perempuan lewat bertani atau berkebun.
“Kami fokus bergerak di pemberdayaan, jadi siapapun termasuk Fatayat kalau punya keinginan untuk berternak dan berkebun, kami menyediakan lahan gratis,” kata dia saat ditemui usai menjadi narasumber Pertemuan Rutin Triwulan Fatayat NU Kota Semarang di Kantor Kecamatan Tembalang, Kota Semarang, Jawa Tengah, Ahad (4/1/2026).
“Kami ada area 2,5 hektar di Cepoko, Gunungpati yang bisa digunakan fasilitasnya pada siapapun yang punya keinginan,” sambungnya.
Ia lantas menguraikan, ada 24 tenan. Ada dua titik yang beternak maggot, entok jumbo, ikan lele, nila, gurame, kambing, ayam petelor, ayam bangkok, ayam Jawa, dan sebagainya. Sedangkan yang menggarap perkebunan ada durian, nanas, melon, dan sebagainya.
“Ada jamur juga, tiap hari panen, ada budidaya anggrek, dan ada juga sayuran seperti bayam,” urainya.
Menariknya, dari sekian komunitas atau kelompok yang mengelola lahan juga diberi kesempatan untuk mengisi pelatihan.
Selain itu, lokasi tersebut juga menjadi kegiatan sekolah alam saat libur akhir pekan maupun libur semester. Kegiatan pengenalan perkebunan dan peternakan dikonsep dengan istilah tour garden
Terkait potensi kader Fatayat NU Kota Semarang, ia menilai di Gunungpati cukup potensial dan jaraknya lebih dekat dengan lokasi. Terlebih sudah ada Aniqotun Nafi’ah yang saat ini menjadi Ketua PAC Fatayat NU Kecamatan Tembalang. Ia sudah berpengalaman dan sering menjadi narasumber di bidang tersebut.
Menjawab waktu pelatihan, senior Banser Kota Semarang ini menyebut cukup singkat dengan metode pendampingan, “Kan gampang, mau nanam apa itu tinggal nanam aja. Nanti mentornya kita,” ujarnya.
Ia juga meyakinkan keamanan lokasi dari hewan predator. Sehingga tidak ada gangguan dalam peternakan.
Sampah Berkurang Signifikan
Salah satu narasumber Eni Purwatiningsih yang berbagi pengalaman mendirikan Bank Sampah Resik Sejahtera Kelurahan Sambiroto Tembalang. Ia memulai gerakan pilah dan pilih sampah berbasis para ibu PKK di lingkungan perumahan yang prihatin dengan adanya 15 Tempat Pengelolaan Sampah (TPS).
“Kalau bank sampah kami memang di awal itu kan memang karena keprihatinan dari kami ada lima belas TPS. Walaupun itu perumahan, tapi lingkungannya kumuh karena ada TPS,” ungkapnya kepada wartawan.
Ia mengungkapkan, pada tahun 2018 dirinya bersama para ibu yang peduli kebersihan lingkungan mulai dengan bank sampah, dan pada tahun 2019 mendapat dukungan Ketua RW setempat untuk membuat Lembaga Pengelola Sampah (LPS).
“Maka di awal itu kami memang mengelolanya untuk sampah itu kita tutup TPS-nya,” katanya.
Eny yang bekerja sebagai Staf Bappeda Jawa Tengah ini mengaku volume pembuangan sampah ke TPA Jati Barang berkurang signifikan setelah dua tahun tersebut.
“Volume yang dulu sampah itu 2 mobil pikap (bak terbuka), setiap 2 hari sekali pengambilan itu cuma jadi paling setengah atau 3/4 pikap setiap 2 hari. Jadi ada penurunan yang luar biasa,” urainya.
Terkait pengolahan sampah organik, Eni mengaku belum bisa menampung banyak karena produksi maggot (belatung lalat maggot) masih terbatas.
Meski begitu, produksi maggot masih mampu membuat siklus usaha lele, dan ayam. Jadi, kata dia, setelah lebih dari satu tahun ayam petelor diganti dengan bibit ayam baru, dan lele juga sudah beberapa kali panen, “Jadi maggotnya itu memang untuk lele sama untuk ayam,” paparnya. (*)
Penulis: Ahmad Rifqi Hidayat







