Arsip Tag: karya ilmiah populer

Literature Review: Strategi Pencegahan Cluster Perkantoran Berbasis Pengendalian Komunitas

*Oleh
Wahyu Wijanarko
RSUD dr Loekmono Hadi

ABSTRAK

Sebuah kantor pada dasarnya adalah sebuah komunitas, di mana terdiri dari komponen manusia, aktifitas dan tempat. Pada upaya pemutusan mata rantai penyebaran covid di sebuah komunitas, maka diperlukan pengendalian yang terpola dan efektif pada ketiga komponen di atas. Tulisan ini memperkenalkan konsep penanganan covid di kabupaten Kudus berupa strategi pencegahan cluster covid di kantor berbasis pengendalian komunitas. Pendekatan baru ini menata komunitas pada manusianya, aktifitas kegiatannya dan tempatnya. Manusianya dikelola untuk dilakukan penguatan pada unsur bodyware (fisik dan imunitas yang baik) dan unsur brainware (berpemahaman covid yang cukup). Aktifitas kegiatannya dikelola supaya selalu berjalan  berlandaskan tujuan pencegahan covid, dan ruangannya dikendalikan untuk selalu berada dalam kondisi tidak ramah dengan penularan covid.

PENDAHULUAN

Tercatat hingga akhir  November 2020 terdapat 54.991 kasus covid dengan  2.340 kematian 1. Data dari situs Kudus Tanggap Covid menyebutkan per tanggal 29 Nov 2020, terdapat total 2560 kasus dengan 282 kematian 2. Di kabupaten Kudus cluster covid pertama terjadi  pada bulan Juni 2020 disusul bulan September dan Oktober 2020 dan di antaranya terjadi di perkantoran 3.

Tulisan ini menawarkan pemecahan masalah yaitu sudut pandang baru dari konsep penanganan covid di kabupaten Kudus yaitu strategi pencegahan cluster covid di kantor berbasis pengendalian komunitas yaitu menata manusianya, aktifitas kegiatannya dan tempatnya. Manusianya dikelola untuk dilakukan penguatan pada unsur bodyware (fisik dan imunitas yang baik) dan unsur brainware (berpemahaman covid yang cukup) sehingga menjadi manusia berkarakter pencegahan covid. Aktifitas kegiatannya dikelola supaya selalu berjalan  dengan tujuan pencegahan covid, dan ruangannya dikendalikan untuk selalu berada dalam kondisi tidak kondusif terhadap penularan covid.  

Dalam lingkup yang lebih luas, strategi ini rasional untuk diimplementasikan ke komunitas yang lain yaitu sekolah, tempat ibadah, pasar, dan fasilitas publik. Dengan demikian harapan bahwa kabupaten Kudus dalam waktu relatif cepat dan permanen akan terhindar dari dampak lebih lanjut pandemi covid dan pandemi lainnya merupakan suatu keniscayaan.     

METODE

Sehubungan dengan keterbatasan waktu penyusunan, maka penulis menggunakan desain literatur view berjenis naratif.  Data didapatkan dari data base elektronik yaitu dari Pubmed, Google Scholar dan Springer. Tahun penerbitan 2010-2020. Berdasarkan judul dan abstrak, penyusun memasukkan artikel yang termasuk ke dalam kriteria inklusi yaitu berjenis jurnal, berkaitan dengan variabel manusia, variabel aktifitas dan variabel ruangan. Sedangkan artikel yang penyusun keluarkan karena sesuai kriteria eksklusi adalah yang berjenis selain jurnal, diterbitkan di luar 2010-2020, dan tidak berkaitan dengan ketiga variabel tersebut.  Penyusun memilih untuk menentukan artikel berjenis jurnal yang menjadi kriteria inklusi karena jurnal merupakan respon cepat kalangan ilmiah untuk menjawab kebutuhan akan kejelasan dasar ilmiah suatu tema permasalahan masyarakat yang terbaru.

PEMBAHASAN

Terdapat masing-masing 4 jurnal pada setiap variabel. Hasil studi dari jurnal digunakan sebagai pendukung kerangka konsep bahwa mata rantai penularan covid secara terpola lebih tepat diterapkan dalam penanganan covid.

Pada studi yang dilakukan Endang dkk 4 menjelaskan bahwa perilaku seseorang dipengaruhi oleh faktor demografi, pengetahuan, sikap, norma, kebiasaan, lingkungan, media. Sebagai contoh pengaruh adanya faktor perilaku yang kuat itu adalah pemakaian masker akan disiplin tetap dilakukan saat bekerja apabila karyawan memahami bahwa 81% pasien covid itu tanpa gejala atau hanya gejala ringan saja. 5 .

Hal lain yang penting dalam suatu penataan manusia adalah perlunya pemahaman tentang pentingnya  status imunitas yang baik. Studi yang dilakukan Sheng, et al menyatakan bahwa hipertensi (53,8%) dan diabetes (42,3%)  menjadi faktor komorbid yang menyebabkan kematian akibat covid 6. Manusia harus berupaya untuk selalu waspada dan rutin mengontrol faktor pemberat seperti tersebut agar bisa mengurangi resiko perburukan yang berakibat fatal jika suatu saat mereka terserang covid. Studi lain membantu kita untuk menyadari tentang pentingnya penataan manusia di kantor adalah bahwa manusia memang nyata secara ilmiah terbukti menjadi bagian utama dari mata rantai penularan covid di mana studi yang dilakukan Ye Yang et al di Tianjin China menyebutkan bahwa cluster perkantoran memicu penyebaran sekunder pada munculnya 4 cluster keluarga dari karyawan yang terserang covid sebelumnya7.

Tabel 1. Jurnal Pendukung Variabel Manusia 

NoStudi/AuthorNegaraTujuanDesainHasil
1.Characteristics of and Important Lessons From the Coronavirus Disease 2019 (COVID-19) Outbreak in China: Summary of a Report of 72 314 Cases From the Chinese Center for Disease Control and Prevention (Zunyou W.,Jenifer,M.)PUBMEDCharacteristics of and Public Health Responses to the Coronavirus Disease 2019ChinaMeringkas karakteristik epidemiologi covid 19Investigasi retrospektif81% adalah gejala ringan
2.Outbreak in China (Sheng,Q.D.,Hong,.J.P.)PUBMEDChinaMenyediakan data epidemiologis, patologi, klinis, terapi dan pencegahan covidInvestigasi retrospektifHipertensi (53,8%) dan Diabetes (42,3%)  menjadi faktor komorbid yang menyebabkan kematian akibat covid.
3.Epidemiological investigation on a cluster epidemic of COVID-19 in a collective workplace in Tianjin (Ye Zang,et al)ChinaMenganalisis karakteristik epidemiologis cluster COIVD-19 di tempat kerja di TianjinDeskriptifCluster kantor menyebabkan 4 keluarga karyawan terpapar covid
4.Analysis of Change Behavior Prevention of Covid-19 Transmission Based on Integrated Behavior ModelIndonesiaMenganalisa perubahan perilaku pencegahan covid dalam perilaku terintegrasiEksperimentalPerilaku seseorang dipengaruhi oleh faktor demografi, pengetahuan, sikap, norma, kebiasaan, lingkungan, media

Jurnal yang disusun Yang Liu et al mengemukakan bahwa penularan covid terjadi pada aktifitas sosial manusia di rumah, sekolah, tempat kerja/kantor dan fasilitas publik 8. Bahkan mekanisme airborne yang dihasilkan akibat aktifitas manusia memungkinkan terjadi melalui droplet nuklei di lingkungan ruangan tertutup9. Batuk dan bersin yang merupakan tampilan sehari-hari aktifitas manusia sangat mempengaruhi munculnya penyebaran infeksi virus covid melalui pernafasan 10

Studi retrospektif yang dilakukan Susan Lee et al melaporkan bahwa 17,9 % swab positif dari penumpang kapal Diamon Princess adalah tanpa gejala 11. Ini adalah contoh situasi yang harus kita jadikan fokus penyempurnaan strategi program pencegahan oleh karena bisa jadi karyawan yang merasa dirinya sehat sebenarnya mungkin saja dia pembawa covid yang tanpa gejala dan hawa pernafasan yang dia hasilkan saat beraktifitas dan mampu  menghasilkan droplet nuklei yang bisa bertahan selama 3 jam di udara seperti yang telah dilaporkan Doremalen et al1. Fan et al menyimpulkan transmisi lokal covid di suatu daerah salah satunya dipicu penularan yang dimungkinkan akibat pengaruh dampak aktifitas di tempat kerja 13.

Tabel 2. Jurnal Pendukung Variabel Aktifitas

NoStudi/AuthorNegaraTujuanDesainHasil
1.Asymptomatic carriage and transmission of SARS-CoV-2: What do we know?(Susan Lee, et al) PUBMED KanadaMeneliti bukti penyebaran SARS-CoV-2 tanpa gejala atau gejala sebelumnya, risiko penularan dari pasien tanpa gejala, dan risiko spesifik yang terkait dengan prosedur yang menimbulkan aerosolRetrospektif17,9% penumpang kapal DPC tes swab positif adalah tanpa gejala
2.Aerosol and Surface Stability of SARS-CoV-2 as Compared with SARS-CoV-1 (Doremalen,et al)InggrisMeneliti stabilitas virus covid di aerosolUji kuantitatifVirus covid stabil hidup 3 jam di udara (aerosol)
3.Work-related COVID-19 transmission in six Asian countries/areas: A follow-up studyFan-Yun LanHongkongMengidentifikasi pekerjaan yang berisiko tinggi terhadap penularan covidObservasionalTransmisi lokal penularan covid berkorelasi kuat dengan transmisi di tempat kerja.
4.What are the underlying transmission patterns of COVID-19 outbreak? An age-specific social contact characterizationYang LiuChinaMemeriksa aktifitas interaksi manusia dalam penularan covidEksperimentalPenularan covid terjadi d

Perkantoran yang pada umumnya berada di lingkungan perkotaan berpengaruh pada penyebaran covid dengan memicu munculnya cluster. Hal ini sesuai laporan yang disampaikan  Arijit et al yang melakukan studi di Calcuta India 14 . Bukti hasil studi lain yang mendukung hal ini adalah penelitian yang dilakukan Byung et al di Korea bahwa terdapat bukti kontaminasi di lingkungan sekitar orang yang terinfeksi covid 15. Ying Juan et al menyampaikan hasil studinya bahwa suhu udara dan kelembapan tinggi berpengaruh untuk menghambat penularan covid 16 . Hiroshi et al melaporkan bahwa menjaga jarak antar manusia di ruang tertutup sangat bermakna mengurangi resiko penularan 17. Upaya pengendalian atas hal-hal tersebut tentu harus menjadi perhatian para pengambil kebijakan yaitu melalui edukasi kepada masyarakat khususnya kalangan perkantoran tentang pentingnya tata lingkungan kantor yang baik.

Tabel 3.  Jurnal Pendukung Variabel Tempat

NoStudi/AuthorNegaraTujuanDesainHasil
1.Closed environments facilitate secondary transmission of coronavirus disease 2019 (COVID-19) (Hiroshi, et al) JepangMengidentifikasi ciri-ciri umum COVID guna lebih memahami faktor-faktor apa yang memicu transmisi sekunder superspreadingAnalisa deskriptifMeminimalkan kontak dekat di ruangan tertutup dapat mengurangi kejadian terbentuknya cluster.
2.Living environment matters: Unravelling the spatial clustering of COVID-19 hotspots in Kolkata megacity, IndiaAuthor links open overlay panel (Arijit, Das.,et al) Science directIndiaMeneliti dampak perburukan lingkungan perkotaan di CalcutaAnalisa deskriptifLingkungan yang buruk perkotaan berdampak kuat pada munculnya cluster covid di Calcuta
3.Environmental contamination of SARS-CoV-2 during the COVID-19 outbreak in South KoreaByung-Han RyuKoreaMenyampaikan bukti kontaminasi di lingkungan sekitar orang yang terkonfimasi covidEksperimentalTerdapat bukti kuat kontaminasi di  lingkungan di sekitar pasien terkonfirmasi covid
4.Evidence that high temperatures and intermediate relative humidity might favor the spread of COVID-19 in tropical climate: A case study for the most affected Brazilian cities(A.C. Auler, et al) GOG ScloarBrazilMenyampaikan bukti temperatur dan kelembabab berpengaruh pada transmisi covidAnalisis multivariatSuhu dan kelembaban yang tinggi yang diharapkan bisa mengurangi penularan COVID-19 tidak dapat diterapkan di daerah tropis dengan tingkat penularan yang tinggi
5.High Temperature and High Humidity Reduce the Transmission of COVID-19Jingyuan WangChinaMengukur pengaruh suhu dan kelembapan pada transmisi covidCrossectional RegresiSuhu dan kelembapan tinggi mengurangi penularan covid. 

SIMPULAN

Pola pengendalian komunitas bisa menjadi strategi baru pencegahan cluster covid perkantoran di Kudus. Karyawannya dikelola dengan baik agar menjadi manusia berkarakter pencegahan covid yaitu yang ber-bodyware kuat di performa fisik dan imunitas yang prima, serta ber-brainware yang baik dengan mempunyai pengetahuan prinsip dasar covid yang cukup. Semua aktifitas rutin yang berjalan di dalam kantor tersebut diupayakan selalu berjalan dalam tujuan pencegahan covid sehingga terbentuk atmosfer cegah covid. Ruangan kantor yang menjadi tempat bekerja juga dikelola agar menjadi tempat yang covid resistant yaitu lingkungan yang tidak kondusif pada penularan covid. Dan ini rasional diterapkan untuk berbagai jenis komunitas yang lain di masyarakat Kudus.(*)

Gus Yasin Minta Pembaruan Data Kemiskinan, Galakkan Program Satu Desa Binaan Satu OPD

Efektivitas Aplikasi EDMODO dalam Mengoptimalkan Pembelajaran Daring bagi Siswa Sekolah Dasar

*Oleh
Fitria Novita Sarie, S.Pd., M.Pd.
Guru SD 1 Tanjungkarang Kec. Jati Kab. Kudus
sariefitria44@gmail.com

Mewabahnya Corona Virus Disease atau lebih dikenal dengan COVID-19 membuat pengalaman baru dalam dunia pendidikan. Virus corona adalah jenis baru dari coronavirus yang menyebabkan penyakit menular ke manusia. Corona Virus Disease 2019 (COVID-19) pertama kali ditemukan di kota Wuhan, China pada akhir Desember 2019. Virus ini menular sangat cepat dan telah menyebar hampir ke semua negara, termasuk Indonesia, hanya dalam waktu beberapa bulan saja. Sehingga WHO pada tanggal 11 Maret 2020 menetapkan wabah ini sebagai pandemi global. Sebagai upaya untuk mencegah pandemi Covid-19, pemerintah mengeluarkan kebijakan agar sekolah-sekolah meminta siswanya untuk belajar di rumah. Mulai 16 Maret 2020 sekolah menerapkan metode pembelajaran siswa secara daring.

Sistem pembelajaran daring (dalam jaringan) merupakan sistem pembelajaran tanpa tatap muka secara langsung antara guru dan siswa tetapi dilakukan melalui online yang menggunakan jaringan internet. Guru harus memastikan kegiatan belajar mengajar tetap berjalan, meskipun siswa berada di rumah. Solusinya, guru dituntut dapat mendesain media pembelajaran sebagai inovasi dengan memanfaatkan media daring (online). Sistem pembelajaran daring yang umum dilaksanakan yaitu guru yaitu menggunakan aplikasi Whats App (WA) karena dianggap mudah dan biasa dipakai oleh siswa. Guru membuat grup kelas kemudian mengirim materi dan tugas melalui group tersebut.

Berdasarkan hasil evaluasi pembelajaran melalui WA selama setengah semester, pembelajaran daring melalui WA dianggap menjenuhkan oleh siswa karena tidak di dukung oleh fitur-fitur yang memadahi. Siswa kurang bersemangat karena mereka hanya sebatas dapat membaca pesan dan menggunakan voice note, diskusi antar teman juga terasa kurang optimal akibatnya hanya beberapa siswa saja yang aktif saat pembelajaran daring berlangsung. Untuk mengatasi permaslahan tersebut maka peneliti mencoba untuk memanfaatkan salah satu aplikasi pembelajaran gratis yaitu Edmodo.

Edmodo merupakan salah satu hasil dari sebuah perkembangan teknologi informasi yang membantu dan menyongsong pendidikan abad 21 yang merupakan sebuah perusahaan yang memberikan layanan media sosial untuk mendukung sistem pembelajaran online bagi para pegiat pendidikan. Di dalam platform Edmodo ini baik pengajar maupun siswanya dapat saling berinteraksi dengan mudah. Siswa, guru, dan orangtua dapat mengakses aplikasi ini dengan mudah yaitu dengan mendownload di playstore kemudian mendaftar. Manfaat bagi guru adalah akan memudahkan dalam mengelola pembelajaran karena terdapat Fitur-fitur yang dapat membantu kinerja para guru, mulai dari pembagian tugas yang bisa menyertakan berbagai resources, penugasan kuis atau ujian yang bisa dilakukan secara online, dan pengelolaan nilai siswa apabila telah mengumpulkan tugas.

Sedangkan manfaat bagi siswa, Edmodo ini akan membantu mereka untuk lebih disiplin dan kolektif dalam pembelajaran sebab biasanya pemberian tugas yang diberikan oleh pengajar diberikan tenggat waktunya. Menggunakan aplikasi Edmodo sama halnya dengan menggunakan facebook.  Layaknya sosial media bagi para pegiat pendidikan, Edmodo membantu siswa untuk berkomunikasi dengan siswa lainnya meskipun berbeda daerah bahkan negara. Hal ini tentu memberikan dampak positif bagi dunia pendidikan dimana ada wadah berbagi dan berdiskusi sehingga wawasan yang dimiliki semakin luas. Selain guru dan siswa, orangtua siswa juga dapat menggunakan aplikasi Edmodo ini untuk meninjau perkembangan belajar siswa. Berdasarkan analisis tersebut penelitian ini bertujuan untuk mengoptimalkan pembelajaran daring yang mudah dan menyenangkan bagi siswa Sekolah Dasar yaitu dengan aplikasi Edmodo.

Telah dilakukan penelitian dengan metode quasi eksperimen menggunakan desain pre-test and post-test group design. Teknik pegumpulan data menggunakan tes dan nontes. Tes dalam penelitian ini digunakan untuk mengukur hasil belajar kognitif peserta didik. Teknik non tes dilakukan dengan  teknik observasi. Observasi digunakan untuk mengamati aktivitas siswa menggunakan instrumen berupa check list. Analisis data menggunakan analisis deskriptif kuantitatif dan analisis deskriptif kualitatif.  Hasil penelitian menunjukkan bahwa pembelajaran daring menggunakan aplikasi Edmodo menunjukkan peningkatan aktivitas belajar siswa dari sebelumnya. Sebelum penelitian, persentase aktivitas belajar daring siswa hanya sebesar 45%. Sebagian besar siswa tidak aktif atau enggan mengikuti pembelajaran daring karena dirasa membosankan. Setelah menggunakan aplikasi edmodo, aktivitas eblajar siswa meningkat 35% menjadi 80%. Siswa sangat antusias mengikuti pembelajaran karena mereka senang dengan fitur-fitur yang ada di Edmodo. Selain aktivitas belajar siswa, hasil belajar kognitif siswa sebelum dan sesudah penelitian juga meningkat. Terjadi peningkatan Ketuntasan Klasikal Hasil Belajar Siswa sebesar 30% sebelum dan sesudah penelitian. Sebelum penelitian dilakukan, siswa yang tuntas KKM hanya 50%.  Setelah dilakukan penelitian meningkat sebesar 30% yaitu mencapai 80%.

Aplikasi Edmodo  menjadi sarana yang efektif dalam mengoptimalkan pembelajaran daring bagi siswa Sekolah Dasar. Hal ini dibuktikan dengan antusiasme siswa yang sangat baik pada saat pembelajaran berlangsung dan meningkatnya hasil belajar siswa.(*)

Gus Yasin Minta Pembaruan Data Kemiskinan, Galakkan Program Satu Desa Binaan Satu OPD

Kepuasan Terhadap Pelaksanaan Pembelajaran Daring selama Pandemi COVID-19 pada Siswa di SD 3 Ngembal Kulon

*Oleh
Nanang Sulistyo Utomo, S.Pd
SD 3 Ngembal Kulon
nanangsulistyo10@gmail.com

Dewasa ini dunia tengah dilanda bencana akan wabah penyakit COVID-19. Meski bukan kali pertama adanya wabah, COVID-19 kali ini dianggap sebagai pandemi global yang penyebarannya sangat cepat. Fatma Dewi (2020) menjelaskan bahwa Coronavirus  merupakan keluarga besar virus yang menyebabkan penyakit mulai dari gejala ringan sampai berat. Lebih lanjut Julio Torales dalam (Sukma Erni, dkk, 2020) menjelaskan bahwa Novel Coronavirus adalah penyakit yang menyerang manusia dengan gejala umum seperti  produksi dahak, sakit kepala, hemoptisis dan diare.  Mewabahnya COVID-19 di Indonesia menimbulkan dampak terhadap berbagai aspek kehidupan masyarakat. Mulai dari bidang sosial, ekonomi, pariwisata, dan pendidikan. Pemerintah sebagai lembaga eksekutif bergegas merumuskan berbagai kebijakan untuk menekan penyebaran wabah tersebut.  Mulai dari pembatasan aktivitas fisik di luar rumah, anjuran memakai masker, anjuran menjaga jarak, penutupan tempat pariwisata dan hiburan, hingga melakukan sistem kerja Work Form Home (bekerja dari rumah).

Kebijakan yang dibuat juga berlaku bagi sistem pendidikan di Indonesia. Pada tanggal 24 Maret 2020 Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia  mengeluarkan surat edaran nomor 4 tahun 2020 tentang proses pembelajaran yang dilaksanakan melalui pembelajaran jarak jauh/daring sebagai kebijakan yang diambil dalam masa darurat penyebaran COVID-19.  Pembelajaran daring merupakan kegiatan pembelajaran yang dilakukan secara onlinse melalui media digital. Fatma Dewi (2020) menjelaskan bahwa  kegiatan pembelajaran daring dapat dilakukan guru dan peserta didik dengan menggunakan aplikasi seperti classroom, video conference, live chat, zoom, google meet, maupun whatsApp. Aturan tersebut menjadi titik balik perubahan sistem pendidikan di Indonesia. Terdapat pihak yang menyambut baik, tetapi banyak pula yang tidak karena asing dengan pembelajaran ini. Pembelajaran yang selama ini dilakukan secara tatap muka beralih ke dalam ruang digital. Siswa tidak dapat lagi bertemu dengan guru dan teman-temanya secara langsung, tidak saling bersenda gurau, dan bersosialisai satu sama lain. Kegiatan pembelajaran dilakukan di rumah dengan memandangi hp atau laptop, dan berdiskusi secara online. Pada dasarnya belajar memang dapat dilakukan tanpa harus bertemu secara langsung. Hal itu sejalan dengan pendapat Putu Nilayani (2020) yang menyatakan bahwa kegiatan belajar dapat dilakukan di manapun dan kapanpun. Meskipun demikian, kondisi ini tetap menjadi hal yang baru bagi siswa dalam belajar.

Belajar merupakan suatu kegiatan yang dilakukan untuk mengembangkan potensi yang dimiliki. Lebih rinci Komalasari, (2015: 2) menjelaskan bahwa belajar merupakan suatu perubahan tingkah laku dalam pengetahuan, sikap, dan keterampilan yang diperoleh dalam jangka waktu yang lama dan dengan syarat bahwa perubahan yang terjadi tidak disebabkan oleh adanya kematangan ataupun perubahan sementara karena suatu hal. Untuk mencapai perubahan dalam pengetahuan, sikap, dan keterampilan tersebut, perlu ada hubungan yang baik antara pendidik dan siswa. Syamsuddin Makmun, (2015: 156) menjelaskan bahwa dalam proses pembelajaran tidak berlangsung dari satu arah (one way system) melainkan terjadinya timbal balik (interactif, two way traffic system) di mana kedua pihak berperan dan berbuat secara aktif di dalam suatu kerangka kerja (frame work) dengan menggunakan cara dan kerangka berpikir (frame of reference) yang seyogyanya dipahami dan disepakati bersama. Perlu adanya hubungan yang baik antara guru, siswa, dan orang tua. Pada situasi sekarang ini, peran orang tua sangat dibutuhkan untuk membantu siswa belajar di rumah. Sebagai pendidik, guru juga perlu memacu diri untuk belajar mencari media digital yang paling tepat digunakan dalam pembelajaran daring. Guru perlu mempertimbangkan kondisi orang tua dan siswa dalam memilih media pembelajaran yang dianggap sesuai. Jangan sampai media yang dipilih tidak dapat dijangkau oleh siswa maupun orang tua. Meskipun demikian, siswa dan orang tua juga perlu memahami bahwa pembelajaran daring adalah hal yang baru bagi sebagian guru, terlebih pada guru senior yang kurang update dalam mengikuti perkembangan teknologi komunikasi. Perlu adanya komunikasi satu sama lain agar pembelajaran daring dapat terlaksana dengan baik.

 Keberhasilan pembelajaran secara daring dapat dilihat dari kepuasan siswa terhadap pembelajaran yang dilakukan. Berdasarkan survei yang dilakukan pada siswa di SD 3 Ngembal Kulon, kepuasan siswa terhadap pembelajaran daring mencapai rata-rata skor 4,02 dengan kriteria puas. Kuesioner disebar kepada seluruh siswa SD 3 Ngembal Kulon melalui google form. Dari 45 siswa, terdapat 23 siswa yang berkenan mengisi kuesioner tersebut.  Instrumen pengukuran kepuasan siswa terdiri dari 20 pernyataan dengan spesifikasi 4 pernyataan mengenai sarana dan prasarana, 4 pernyataan terkait inovasi guru, 4 pernyataan terkait pelayanan, 6 pernyataan terkait sikap dan tanggapan, 1 pertanyaan terkait aplikasi digital pembelajaran daring, dan 1 pertanyaan terkait harapan pembelajaran ke depan.

Aspek pertama adalah sarana dan prasarana, sarana dan prasarana merupakan hal yang sangat penting dalam pelaksanaan pembelajaran daring. Liu, et.al dalam Napitupulu (2020) menjelaskan bahwa akses terhadap teknologi berperan penting dalam PJJ. Berdasarkan hasil penelitian, skor rata-rata kepuasan siswa dalam faktor sarana dan prasarana adalah 4,07 dengan kriteria “Puas”. Hasil analisis menunjukkan bahwa semua informan telah mimiliki Hp yang mampu digunakan mengakses internet dengan baik. Meskipun demikian, terdapat 1 informan yang menyatakan keberatan dalam membeli kuota internet. Bicara mengenai hal tersebut, pihak sekolah dan pemerintah telah memberikan bantuan kuota kepada siswa. Hal itu dilakukan untuk meringankan beban orang tua. Bantuan kuota dari sekolah dan pemerintah pun disambut baik. Hal itu terlihat dari jawaban informan yang menyatakan setuju bahwa bantuan kuota tersebut sangat membantu dalam penyediaan akses internet.

Aspek kedua adalah inovasi, aspek inovasi ini terkait dengan penggunaan media digital dan variasi materi yang disampaikan dalam pembelajaran daring. Skor rata-rata kepuasan yang didapat dari aspek ini sebesar 3,70 dengan kriteria “Puas”. Meskipun dalam kriteria puas, terdapat 2 informan yang menyatakan bahwa materi tidak tersampaikan dengan baik, dan 1 informan yang menyatakan bahwa guru kurang inovatif dalam menyampaikan materi. Hasil tersebut menunjukkan bahwa guru kurang optimal dalam memberikan dan menjelaskan materi kepada siswa dalam pembelajaran daring. Guru kurang mampu menggunakan media yang efektif untuk menjelaskan materi. Padahal penggunaan media yang tepat sangat berpengaruh terhadap kualitas informasi dan layanan yang diterima oleh siswa. Hal tersebut sesuai dengan pendapat Parwirosumarto (2016) yang menyatakan bahwa metode PJJ yang tepat berpengaruh pada kualitas sistem, kualitas informasi, dan kualitas layanan yang diterima oleh siswa.

Selanjutnya adalah aspek pelayanan, skor rata-rata yang diperoleh pada aspek pelayanan adalah 4,29 dengan kriteria “Sangat Puas”. Informan disajikan 4 pernyataan terkait dengan pelayanan guru dalam memberikan motivasi, konsultasi, dan ruang dalam menyampaikan pendapat. Pemberian pelayanan perlu dilakukan untuk membantu proses belajar siswa. Hal tersebut sejalan dengan pendapat Komalasari (2015: 5) yang menjelaskan bahwa unsur psikologis berupa minat, kecerdasan, bakat, dan motivasi menjadi faktor keberhasilan belajar siswa. Sehingga layanan motivasi, pemberian semangat, dan konsultasi sangat diperlukan dalam proses pembelajaran daring.

Aspek yang terakhir adalah sikap dan tanggapan, aspek sikap dan tanggapan erat kaitanya dengan interaktivitas antara guru dan siswa. Hasil penelitian menunjukkan bahwa skor rata-rata yang diperoleh sebesar 4,00 dengan kriteia “Puas”. Berdasarkan hasil penelitian, mayoritas informan merasa aktif bertanya dan mudah berkomunikasi dengan guru dalam pembelajaran daring. Melalui interaktivitas yang baik, siswa akan lebih mudah memahami materi yang diajarkan guru. Guru juga akan mampu mengidentifikasi sejauh mana tahapan belajar yang telah dilakukan siswa. Pernyataan tersebut sesuai dengan pendapat Syamsuddin Makmun (2015: 230) yang menjelaskan bahwa dengan mengidentifikasi perilaku siswa, guru akan dapat mengidentifikasi pada tahap belajar manakah atau tipe belajar manakah yang telah dijalani siswanya.

Berdasarkan uraian kepuasan siswa pada tiap aspek di atas, secara umum kepuasan siswa SD 3 Ngembal Kulon terhadap pelaksanaan pembelajaran daring yang dilakukan guru mencapai skor 4,02 dengan kriteria “Puas”. Skor tersebut diperoleh dari rata-rata tiap aspek kepuasan siswa dalam hal sarana dan prasarana, inovasi guru, pelayanan, serta sikap dan tanggapan siswa terhadap pelakasanaan pembelajaran daring. Meskipun demikian, dari hasil survei juga menunjukkan bahwa 60,9% informan menginginkan agar kegiatan pembelajaran dapat segera dilakukan secara face to face.(*)

Peneliti RCMG Yakin Kementan Telah Antisipasi Dampak Banjir dan Kekeringan bagi Petani

Dampak COVID-19 dalam Pengelolaan Sekolah

*Oleh
Sholihul Afif
SD 2 Ternadi

Indonesia merupakan salah satu negara terdampak wabah covid-19 sehingga menjadikan social distancing dan physical distancing sebagai kebijakan pembatasan jarak sosial dan fisik yang berdampak pada penghentian proses pembelajaran di sekolah. Seluruh penyelenggaraan pendidikan diliburkan, bahkan ujian nasional juga terancam. Krisis di depan mata sedang berlangsung memaksa semua komponen pendidikan menginovasi pembelajaran jarak jauh melalui daring atau pembelajaran dalam jaringan. Hal ini dimaksudkan agar proses pembelajaran tetap berlangsung di tengah mewabahnya pademi Covid-19. (Mansyur, 2020) dengan tidak adanya pembelajaran tatap muka disekolah, tentunya hal ini berdampak pula pada pengelolaan sekolah selama pandemi Covid-19.

Dalam lingkup sekolah yang merupakan pelaksana pendidikan, banyak dampak yang muncul terkait kebijakan yang mewajibkan siswa belajar dari rumah. Berbagai kendala saling terkait satu dengan yang lainnya, sehingga untuk mengurai masalah tersebut tidaklah muda. Mulai dari guru, siswa, kurikulum, pembiayaan, sarana prasana, serta hubungan sekolah dengan orang tua siswa mengalami perubahan yang cukup signifikan. Di satu sisi, pandemi covid-19 tersebut memiliki sisi negatif tetapi disisi lain, hal tersebut memiliki dampak positif terhadap pengelolaan sekolah.

Dengan adanya pandemi Covid-19, pembelajaran yang biasa dilakukan dengan tatap muka, sekarang digantikan dengan pembelajaran secara online/daring. Sehingga, setiap guru dituntut untuk mampu menguasai teknologi informasi dan komunikasi dalam menyampai pembelajaran secara online. Penguasaan teknologi informasi dan komunikasi bagi guru merupakan salah satu kompetensi yang wajib dimikili guru. Guru tentunya harus selalu mengembangkan kompetensinya sehingga mampu memberikan pembelajaran yang optimal kepada para siswa.

Dalam pelaksanaan pembelajaran online, Guru pun harus proposional dalam memberikan tugas kepada para siswa, sehingga siswa tidak merasa terbebani secara fisik dan mental. Guru juga harus mampu menyatukan persepsi dan konsentrasi siswa selama pembelajaran online. Hal ini dilakukan supaya dalam pembelajaran terjalin komunikasi yang baik serta pelajaran dan pesan yang disampaikan guru dapat diterima dengan baik.

Selama pembelajaran online, siswa harus beradaptasi dengan teknologi serta dituntut mandiri dalam menyelesaikan berbagai tugas yang diberikan guru selama dirumah. Siswa harus yakin akan kemampuan yang dimilikinya dalam melaksanakan tugas yang diberikan. Kemandirian siswa merupakan terbentuk dari kemauan dan kesadaran dari dalam diri siswa. Hal ini tentunya menjadi perhatian guru dan orang tua untuk memotivasi siswa untuk selalu bersemangat dalam melaksanakan tugasnya.

Disisi lain, Siswa memiliki lebih banyak waktu bersama keluarga selama belajar dari rumah. Hal ini tentunya dapat memberikan semangat kepada siswa untuk menjalin hubungan keluarga yang lebih intens bersama anggota keluarga yang lain. Berbagai hal dapat dilakukan bersama selama di urmah bersama keluarga, seperti membersihkan rumah, berkebun, mengahabiskan waktu bersama dirumah dan berbagai hal lainnya. Perubahan yang terjaid pada kurikulum telah merubah penataan kelas, proses pembelajaran serta system evaluasi pembelajaran. Hal tersebut telah berubah menjadi pembelajaran berbasis online. Perubahan proses pembelajaran tentunya merubah strategi, metode, teknik, serta suasana pembelajaran. Hal ini tentunya menjadi perhatian guru dalam melaksanakan pembelajaran secara online.  

Dengan tidak adanya pembelajaran tatap muka, setiap kegiatan yang di biasa dilaksanakan di lingkungan sekolah akhirnya juga di tiadakan. Kegiatan tersebut misalnya kegiatan ekstrakurikuler, upacara bendera, perkemahan, maupun kegiatan lainnya, padahal kegiatan-kegiatan tersebut dapat membantu siswa dalam mengasah softskill yang dimilikinya. Perubahan kurikulum merupakan keniscayaan yang harus dilaksanakan segera. Selain dikarenakan pandemic covid-19, hal ini perlu dilakukan untuk menyongsong perubahan era revolusi industri 4.0 dan era Society 5.0. Dan yang menjadi catatan pentingnya adalah tetap menanamkan kecintaan terhadap kebudayaan asli Indonesia didalam kurikulum.

Pembiayaan sekolah sepenuhnya menggunakan dana dari Bantuan Operasional Sekolah (BOS). Dalam Permendikbud Nomor 19 Tahun 2020 tentang Petunjuk Teknis Bantuan Operasional Sekolah Reguler, bahwa selama masa penetapan status Kedaruratan Kesehatan Masyarakat Covid-19 yang ditetapkan Pemerintah Pusat, sekolah dapat menggunakan dana BOS Reguler dapat digunakan untuk pembiayaan langganan daya dan jasa serta pembiayaan administrasi kegiatan sekolah. Pembiayaan langganan daya dan jasa dapat digunakan untuk pembelian pulsa, paket data, dan/atau layanan pendidikan daring berbayar bagi pendidik dan/atau peserta didik dalam rangka pelaksanaan pembelajaran dari rumah. Sedangkan pembiayaan administrasi kegiatan sekolah dapat digunakan untuk pembelian cairan atau sabun pembersih tangan, pembasmi kuman (disinfectant), masker atau penunjang kebersihan lainnya. (Permendikbud No 19 Tahun 2020)

Perubahan penggunaan dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS) bagi sekolah tentu dirasakan cukup bermanfaat bagi guru dan siswa. Hal ini karena keleluasaan sekolah dalam mengalokasikan dana BOS guna membeli pulsa, data, dan paket internet dalam menunjang proses pembelajaran secara online. Tidak hanya itu, dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS) dapat digunakan untuk pembiayaan administrasi kegiatan sekolah dapat digunakan untuk pembelian cairan atau sabun pembersih tangan, pembasmi kuman (disinfectant), masker atau penunjang kebersihan lainnya, seperti membuat tempat cuci tangan, pembuatan poster ajakan menjaga kebersihan diri dan cara cuci tangan yang baik dan benar.

Perangkat pendukung teknologi jelas mahal. Banyak di daerah Indonesia yang guru pun masih dalam kondisi ekonominya yang menghawatirkan. Kesejahteraan guru maupun murid yang membatasi mereka dari serba terbatas dalam menikmati sarana dan prasarana teknologi informasi yang sangat diperlukan dengan musibah Covid-19 ini. Disisi lain, Jaringan internet yang benar-benar masih belum merata di pelosok negeri. Tidak semua lembaga pendidikan baik Sekolah dasar maupun sekolah menengah dapat menikmati internet. Jika ada pun jaringan internet kondisinya masih belum mampu mengkover media daring. (Aji, 2020)

Tidak dapat dipungkiri bahwa sarana prasarana dalam pembelajaran daring sangat vital, sebab tanpa adanya sarana prasarana yang memadai tentunya tidak akan terjadi pembelajaran daring yang optimal. Selain didukung perangkat gawai, pembelajaran daring juga membutuhkan jaringan internet sebagai sarana utamanya. Kealpaan gawai dan jaringan internet tentunya akan menghambat proses pembelajaran secara online. Sedangkan tidak semua siswa juga memiliki gawai serta keterbatasan jaringan internet dalam mencapai pelosok-pelosok desa menjadi salah satu kendala yang cukup menghambat proses pembelajaran secara daring.

 Mayoritas  orang  tua  merasa  nyaman  dengan  adanya  program  belajar  di rumah ini. Mereka menyadari bahwa hal ini terjadi karena adanya penyebaran virus corona atau  covid  19  ini. Meskipun  demikian,  mayoritas  orang  tua  juga  berharap  agar  virus  ini segera  selesai  sehingga  anak-anak  bisa  belajar  lagi  di  sekolah.  Sebagian  besar  orang  tua mengalami  kendala  dalam  mendampingi  anak-anaknya  belajar  di  rumah. Kendalanya   adalah   kesulitan mengkondisikan   anak,   keterbatasan   waktu,   kesulitan   memahami   dan   memberikan pemahaman materi, dan kendala faktor lingkungan serta sumber daya yang dimilikinya. (Sabiq, 2020)

Selama belajar dari rumah, hubungan antara sekolah dan orang tua cukup bagus. Hal ini ditunjukkan dengan adanya komunikasi secara intensif antar pihak sekolah denga orang tua melalui whatsapp dalam memantau pembelajaran siswa selama dirumah. Dengan komunikasi yang terbangun dari pihak sekolah dan orang tua siswa ini, dapat mempererat hubungan keduanya.

Pendemi Covid-19 ini memberikan dampak terhadap guru, siswa, kurikulum, pembiayaan sekolah, sarana prasana, dan hubungan sekolah dengan orang tua siswa. Setiap dampak memiliki keterkaitan satu dengan yang lainnya, sehingga di dalam mengatasi setiap permasalahan yang muncul membutuhkan kejelian dalam memetakan dampak yang muncul, Setiap komponen sekolah memiliki dampak positif dan negatif, sehingga dalam pengelolaan sekolah sendiri dapat lebih fleksibel sesuai dengan kebutuhan dan kondisi yang terjadi.

Pengelola sekolah diharapkan tidak gagap dalam menangani situasi ini, sebab setiap sekolah tentunya miliki karakteristik sendiri-sendiri. Hal ini tentunya dapat menjadi acuan pengelola sekolah dalam menidentifikasi setiap masalah yang muncul di dalamnya, serta mencari solusi yang tepat guna memecahkan solusi tersebut sesuai dengan lingkungan sekolahnya. Adaptasi terhadap perubahan juga perlu dilakukan untuk tetap produktif di masa paandemi Covid-19 ini, Sehingga setiap hal terjadi disekolah dapat ditangani dengan baik sesuai dengan tujuan pendidikan secara umum dan tujuan pembelajaran secara khusus.

Peneliti RCMG Yakin Kementan Telah Antisipasi Dampak Banjir dan Kekeringan bagi Petani

Inovasi Pembelajaran E-Learning Berbasis EDMODO pada Jenjang Sekolah Dasar

*Oleh
Kusmiati
SD 1 Gulang
e-mail : miasunardi1616@gmail.com

Coronavirus disease 2019 (COVID-19) merupakan wabah jenis penyakit baru terjadi pertama kali di kota Wuhan China. Coronavirus yang berasal dari negara China kemudian menyebar melanda ke berbagai negara di dunia termasuk Indonesia. Untuk mencegah penularan COVID-19, pemerintah Indonesia menghimbau masyarakat melarang berkerumun, menjaga jarak, mewajibkan memakai masker pada saat berpergian dan rajin cuci tangan atau menggunakan handsanitizer. UNESCO mencatat setidaknya 1,5 milyar anak usia sekolah yang terkena dampak COVID-19 dari 188 negara termasuk 60 juta diantaranya ada di negara Indonesia (Putria dkk, 2020). Namun sistem pembelajaran di sekolah saat ini terhambat, hal itu disebabkan Indonesia telah dilanda penyakit yang bernama Coronavirus disease 2019 (COVID-19) yang menyebabkan proses belajar tidak bisa bertatap muka secara langsung. Melalui Surat Edaran Kementrian dan Kebudayaan No. 4 tahun 2020 mengeluarkan tentang pelaksanaan kebijakan pendidikan dalam masa darurat penyebaran coronavirus desiase (COVID-19), dalam surat edaran menjelaskan bahwa proses belajar dari rumah melalui daring/jarak jauh dilaksanakan guna memberikan kebermaknaan bagi siswa pada masa pandemi COVID-19.

Dengan adanya Surat Edaran Kemdikbud, pembelajaran dilaksanakan dengan media pembelajaran online, salah satu media pembelajaran online dengan jarak jauh adalah daring. Permasalahan pada saat ini, aktivitas pembelajaran yang semula tatap muka diganti dengan pembelajaran jarak jauh membuat guru disibukkan dengan aturan yang baru seperti merubah sistematika perencanaan pembelajaran, membuat aturan bersama untuk alokasi waktu selama pembelajaran, dan menerapkan pembelajaran melalui aplikasi untuk belajar jarak jauh. Perubahan pola belajar dan mengajar tak terlepas dari peran guru terutama perubahan pola pembelajaran daring (Collie et al., 2011; Najeemah M Yusof, 2012; Thien et al., 2014; Zacharo et al., 2018) dalam (Wahyono dkk, 2020). Berbagai permasalahan yang ada, perlunya sebuah inovasi pembelajaran yang relevan dengan pembelajaran jarak jauh/daring agar tujuan pembelajaran tercapai, meskipun hasil pembelajaran tatap muka dengan jarak jauh berbeda. Wilayah Kabupaten Kudus terutama pada jenjang SD menerapkan sistem pembelajaran daring selama pandemi coronavirus. Berbagai sistem pembelajaran online dibuat dan banyak juga lembaga atau institusi pendidikan yang mulai menerapkan dan menambahkan system e-learning dalam pembelajaran formal dan reguler. Salah satu pembelajara e-learning adalah edmodo. Menurut SEAMOLEC edmodo adalah platform media sosial yang sering digambarkan sebagai facebook untuk sekolah dan dapat berfungsi lebih banyak lagi sesuai dengan kebutuhan.

Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian kualitatif. Menurut Sugiyono metode penelitian kualitatif adalah metode penelitian yang digunakan untuk meneliti pada kondisi obyek yang alamiah, dimana peneliti adalah sebagai instrumen kunci, teknik pengumpulan data dilakukan secara triangulasi (gabungan), analisis data bersifat induktif, dan hasil penelitian kualitatif lebih menekankan makna dari pada generalisasi. Data penelitian ini diperoleh dari siswa kelas 4 yang berjumlah 34 anak yang sudah memiliki akun di Edmodo. Sedangkan informasi yang diterima berasal dari berbagai peristiwa dan observasi langsung selama pembelajaran jarak jauh. Pembelajaran IPA dengan memanfaatkan media pembelajaran e-learning berbasis edmodo ini dimulai dengan melakukan pembuatan grup, yang terdiri dari siswa kelas 4 sejumlah 34 siswa. Siswa bisa saling memberikan pendapatnya pada grup tersebut. Group yang telah dibuat merupakan sarana penyampaian materi yang diajarkan. Kemudian menambahkan anggota yang terdiri dari siswa yang berada di kelas tersebut. Dalam pembelajaran IPA guru dapat menyampaikan materi atau tugas pada grup yang telah dibuat tersebut, dengan menyebutkan kelas dan judul materi yang disampaikan. Ssiswa dapat memberikan komentar atau tanggapan terhadap materi yang disampaikan tersebut pada tempat untuk menulis komentar.

Edmodo lebih banyak dimanfaatkan oleh guru untuk memberikan assignment dan juga quiz kepada siswa. Assignment yang diberikan bervariasi dapat berupa makalah juga assignment yang dikerjakan individu maupun kelompok. Guru dapat menyampaikan materi dan quiz pada grup yang telah dibuat tersebut, siswa dapat memberikan komentar atau tanggapan terhadap materi yang disampaikan tersebut pada tempat untuk menulis komentar. Demikian juga ketika guru memberikan quiz, siswa dapat menjawab soal kuis tersebut pada kolom replay. Dapat diketahui bahwa guru lebih sering memberikan assignment melalui fitur assigment yang dikerjakan secara kelompok agar mahasiswa terbiasa bekerja dalam tim dan dapat saling menghargai ide atau gagasan teman kelompoknya.

Pembelajaran yang dilakukan dengan media pembelajaran edmodo dikelas digunakan ketika guru akan memberikan materi. Sebelum memberikan materi, biasanya guru mengirim materi tersebut ke edmodo sehari sebelumnya sehingga siswa dapat mempelajari materi tersebut. Pada hari berikutnya ketika proses pembelajaran, siswa lebih mudah mengerti dibuktikan ketika guru memberikan latihan-latihan, siswa mampu menyelesaikannya dengan baik baik itu menjawab latihan tersebut didepan teman-teman maupun di edmodo. Begitu juga ketika guru memberikan pemmbelajaran IPA tentang gaya, siswa telah banyak melakukan kegiatan di rumah, seperti mencari contoh benda kongkrit yang ada disekitar yang berkaitan dengan materi gaya. Selain itu guru juga menugaskan siswa bekerja sama dalam grup untuk presentasi. Sebelum melakukan presentasi materi yang telah ditetapkan, terlebih dahulu siswa wajib mengirim materi presentasi mereka di edmodo.

Edmodo juga sangat membantu dalam memberikan tugas, kuis dan penilaian kepada siswa. Kuis yang diberikan melalui Edmodo dapat diketahui langsung hasilnya oleh guru. Selain itu, guru juga dapat melihat kemajuan belajar para siswa dengan memanfaatkan fitur progress yang ada dalam Edmodo. Bagi orang tua yang sudah memiliki akun Edmodo dapat dimanfaatkan untuk melihat perkembangan belajar anaknya disekolah. Berdasar hasil wawancara dengan orang tua, mereka menyatakan bahwa keuntungan menggunakan e-learning, khususnya Edmodo salah satunya adalah pembelajaran menjadi tidak terbatas dalam kelas saja, artinya guru dan siswa tetap dapat berkomunikasi untuk membahas materi-materi pelajaran tanpa harus terkendala oleh ruang dan jarak, Edmodo juga dapat diakses melalui handphone selama tersambung dengan jaringan internet. Sehingga orang tua dirumah bisa langsung memantau apapun yang dikerjakan oleh anak.

Pada dasarnya pembelajaran dengan memanfaatkan Edmodo berjalan seperti pembelajaran yang dilakukan dengan tatap muka secara langsung. Hal tersebut diuraikan oleh guru menyatakan bahwa pembelajaran yang dilakukan melalui Edmodo, kontrol kelas sepenuhnya ada pada guru yang membuat grup tersebut. Guru yang membuat kelas, dan guru pula yang bisa memasukkan siswa untuk dapat bergabung dalam grup, siswa baru bisa bergabung dengan grup ketika sudah diberikan kode grup dan disetujui guru untuk bergabung. Guru juga dapat meremove siswa dalam suatu grup, apabila terdapat siswa yang bukan berasal dari kelas yang diajar. Grup yang sudah memenuhi kuota sesuai dengan jumlah siswa pada kelas nyata, maka guru dapat mengunci grup tersebut sehingga tidak ada siswa atau akun lain yang dapat masuk grup tersebut.

Menurut Umaroh (dalam Basori, 2013) kelebihan dari Edmodo antara lain: 1) Membuat pembelajaran tidak bergantung pada waktu dan tempat, 2) Meringankan tugas guru untuk memberikan penilaian kepada siswa, 3) Memberikan kesempatan kepada orang tua atau wali siswa untuk memantau aktivitas belajar dan prestasi dari putra-putrinya, 4) Membuat kelas lebih dinamis karena memungkinkan interaksi guru dan siswa maupun siswa dengan siswa dalam hal pelajaran maupun tugas, 5) Memfasilitasi kerja kelompok yang multidisiplin, 6) Mendorong lingkungan virtual kolaboratif yang membantu pembelajaran berbasis proses. Edmodo selain digunakan untuk siswa dan guru, dapat juga dimanfaatkan oleh orang tua untuk memantau perkembangan belajar anaknya dengan mendaftar akun sebagai orang tua.Orang tua siswa yang sudah memiliki akun Edmodo dapat bergabung pada group dimana anaknya terdaftar dalam group tersebut dengan meminta persetujuan guru terlebih dahulu. Terkait dengan penggunaan Edmodo sebagai media pembelajaran e-learning, baik siswa dan guru memiliki harapan yang hampir sama yakni ingin proses pembelajaran dengan Edmodo dapat berjalan lebih baik saat proses pembelajaran terhalang jarak.

Edmodo sebagai salah satu inovasi e-learning yang digunakan dalam pembelajaran sekolah dasar di SD N 1 Gulang, dalam masa pandemic corona ini, dimana guru sering memberikan tugas-tugas dan kuis melalui Edmodo. Tugas yang sering diberikan adalah tugas kelompok. Dengan menggunakan Edmodo guru tidak lagi mengalami kesulitan dalam memberikan tugas atau kuis kepada siswa. Karena tugas dan kuis dapat diberikan tanpa harus menunggu jadwal tatap muka terlebih dahulu. Selain itu juga guru dapat memberikan ringkasan-ringkasan materi pelajaran agar dapat digunakan belajar mandiri oleh siswa. Sebagai media pembelajaran yang baru bagi siswa kelas 4 SD N Gulang 1, respons yang diberikan siswa mengenai penggunaan Edmodo sebagai media pembelajaran e-learning sangat bagus. Menurutsiswa, Edmodo itu mudah dan menyenangkan. Sebagai media pembelajaran e-learning, Edmodo memiliki banyak kelebihan dibandingkan dengan media pembelajaran e-learning yang lain. Kelebihan itu diantaranya adalah fitur-fitur yang yang ditawarkan sangat membantu guru, mudah dipahami dan digunakan bahkan untuk guru aupun siswa yang baru mengenal Edmodo. Penggunaannya juga dapat disesuaikan degnan kebutuhan guru dan kelas. Untuk kekurangan dari Edmodo sebagai media pembelajaran e-learning hampir tidak ada, kekurangannya hanya Edmodo sangat bergantung dengan jaringan internet sehingga siswa maupun guru yang berada pada daerah dengan akses internet yang sulit tidak bisa menggunakan Edmodo.(*)

Peneliti RCMG Yakin Kementan Telah Antisipasi Dampak Banjir dan Kekeringan bagi Petani

COLS Multiple Intellegences dalam Penguatan Pendidikan Karakter pada Pembelajaran Jarak Jauh

*Oleh
Izzatun Nada, S.Pd
SD 2 Mejobo

Pandemi covid-19 masih meresahkan masyarakat dunia hingga saat ini, khususnya di Indonesia. Dari data satuan tugas covid-19 Indonesia disebutkan, kasus terkonfirmasi covid-19 di Indonesia mencapai 522.581 kasus per November 2020. Kasus ini terus bertambah dengan rata-rata penambahan 4000 kasus setiap harinya. Dampak dari wabah pandemi covid-19 terus meluas mempengaruhi berbagai sisi kehidupan, termasuk sektor pendidikan. Menyikapi hal tersebut, kementerian pendidikan dan kebudayaan mengeluarkan surat edaran nomor 36962/MPK.A/HK/2020 mengenai kegiatan pembelajaran dari rumah (Learning from home). Kegiatan pembelajaran yang semula dilakukan secara tatap muka di sekolah, beralih kepada pembelajaran jarak jauh (PJJ) baik dengan mode dalam jaringan (daring) maupun luar jaringan (luring).

PJJ memang tidak mudah dilakukan pada saat ini, dikarenakan tenaga pendidik, sekolah, siswa dan orang tua yang belum siap. Keterbatasan komunikasi menyebabkan pemerolehan informasi menjadi terbatas. PJJ memiliki beberapa keunggulan dan kelemahan. Keunggulan dari PJJ yaitu siswa menjadi lebih fleksibel dalam belajar, tergantung pada kondisi dan situasi siswa. Sementara itu, kelemahannya siswa tidak dapat bersosialisasi secara nyata dengan guru dan teman lainnya sehingga berdampak pada emosional siswa itu sendiri.

 Terlepas dari baik buruknya PJJ, maka pendidikan dikembalikan pada esensinya. Tertuang dalam UU No 20 tahun 2003 bahwa pendidikan berfungsi untuk mengembangkan dan membentuk watak peradaban bangsa yang bermartabat. Dalam hal ini pendidikan dimaknai sebagai usaha sadar dan terencana melalui proses belajar aktif agar peserta didik dapat mengembangkan potensi diri untuk memiliki kekuatan spiritual, kepribadian serta keterampilan. Berdasarkan hal tersebut, pendidikan mengarah pada pembentukan watak dan budi pekerti. Sehingga dalam penyelenggaraan kegiatan pendidikan wajib memasukkan pendidikan karakter sebagai satu kesatuan.

Pemerintah telah menyinggung pendidikan karakter pada Peraturan Presiden Nomor 87 tahun 2017, yang dikenal dengan istilah Penguatan Pendidikan Karakter (PPK). PPK menitikberatkan pada karakter berasaskan pancasila seperti religius, jujur, toleran, disiplin, bekerja keras, kreatif, mandiri, demokratis, rasa ingin tahu, semangat kebangsaan, cinta tanah air, menghargai prestasi, komunikatif, cinta damai, gemar membaca, peduli lingkungan, peduli sosial, dan bertanggung jawab. Semua sikap tersebut merupakan penjabaran dari 5 (lima) nilai pokok yaitu religiusitas, nasionalisme, kemandirian, gotong royong, dan integritas.

Di sekolah, penguatan pendidikan karakter telah diimplementasikan dengan menyelipkan nilai karkater pada setiap aktivitas pembelajaran (Dalyono & Lestariningsih, 2017). Akan tetapi, hal tersebut tidak berjalan maksimal karena pendidikan karkater harus melibatkan semua aspek lingkungan secara garis besar yaitu sekolah, keluarga dan masyarakat (Supranoto, 2015). Hal ini menjadi semakin terhambat dengan adanya pandemi COVID19. Guru dituntut untuk adaptif, mampu menciptakan lingkungan belajar dalam upaya perkembangan etika, tanggung jawab dan karakter peserta didik. Sementara itu, guru terbiasa mengevaluasi karakter peserta didik dengan metode observasi secara langsung perubahan sikap dan perilaku. Ditambah lagi, guru dihadapkan dengan kendala penguasaan teknologi serta inovasi pengintegrasian pendidikan karakter melalui PJJ.

Persoalan-persoalan lain terkait pendidikan karakter pada PJJ diantaranya: peserta didik sengaja membolos karena tidak tertarik dengan pembelajaran, tidak mengumpulkan tugas karena merasa tidak paham dengan materi, pura-pura berdoa sebelum memulai aktivitas, bertutur kata semaunya karena menganggap di dunia maya lebih bebas, dan kreativitas yang kurang terlihat karena lingkungan belajar yang kurang mendukung. Lingkungan belajar yang dimaksud seperti menjaga adik karena ditinggal orang tua bekerja, membantu pekerjaan orang tua di rumah, suasana rumah yang ramai karena banyak anggota keluarga, serta faktor lingkungan seperti teman sebaya yang memiliki hobi bermain game online. Dari pihak guru, pembelajaran yang monoton dan sistem belajar dengan take and give tugas (guru memberi tugas, peseta didik mengerjakan) juga menghambat kreativitas.

 Faktor lain yang mempengaruhi datang dari orangtua dan keluarga. Bagi orang tua yang bekerja di luar rumah, mereka tidak dapat mendampingi atau mengontrol penuh anaknya. Tidak adanya pendampingan inilah yang membuat peserta didik kehilangan kontrol belajarnya. Orangtua juga mengaku merasa lelah setelah bekerja sehingga kurang memperhatikan kegiatan belajar yang telah dilakukan sang anak. Begitu pula faktor pendidikan orang tua, kurangnya penguasaan kompetensi berpengaruh pada kurang optimalnya tugas peserta didik.

Berdasarkan paparan diatas, maka peran serta orang tua dalam mengontrol peserta didik selama belajar dari rumah dinilai sangat penting. COntrolling, sebagai peran serta keluarga sangat urgen untuk menciptakan keluarga sebagai sarana proses pendidikan kontinu yang melahirkan generasi cerdas dan berakhlak (Jailani, 2014). Peran serta yang ditunjukkan orang tua meliputi: Membangun regulasi diri untuk anak memiliki kemampuan mengatur proses belajar sendiri di rumah, mendiskusikan aturan di rumah, memberikan arahan mengenai perilaku sewajarnya, jika anak menunjukkan perilaku emosional maka menunjukkan cara mengatasi dan akibat yang ditimbulkan, mengajak anak untuk menyiapkan alat belajar, berkomunikasi terbuka, menanyakan kesulitan anak, mengajak anak untuk mengeksplore ide kreatifnya, mendampingi belajar anak dengan waktu fleksibel, membiasakan diri berdoa bersama anak dalam beraktivitas, membacakan buku cerita yang mendidik, membantu anak mengerjakan tugas-tugas dari sekolah, mengecek isi gawai anak secara berkala serta memberikan reward and punishment terhadap keberhasilan belajarnya. Kualitas komunikasi orang tua dan anak yang semakin baik akan meningkatkan kepercayaan anak terhadap orang tuanya (Badudu, 2019). Guru juga dapat turut membantu dengan controlling, seperti melakukan home visit setiap 2—3 kali dalam seminggu. Anak nantinya mulai percaya dan merasa adanya dukungan dari orang tua. Bila anak telah memulai membangun penguatan di dalam dirinya sesuai dengan tugas-tugas pembelajaran yang dijalaninya hal ini akan memberikan dampak yang signifikan bagi diri anak. (Subarto, 2020).

Adapun Learning Strategi (strategi belajar) yang digunakan guru yaitu didasarkan pada teori Multiple Intellegences (MI) oleh Dr. Howard Gardner. Strategi Pendidikan Karakter bisa dilakukan melalui strategi Multiple Intelligences (Oemori, 2015). Ada 8 tipe kecerdasan diantaranya : cerdas bahasa (linguistic Intelligence) kecerdasan ini fokus pada berpikir dalam kata-kata. Logika-matematika (logical-matematical intelligence) berfikir dengan penalaran atau logika. Visual-spasial (visual or spasial intelligence) berpikir dalam cerita dan gambar. Musikal (musical iantelligence) berpikir dalam melodi. Gerak-tubuh/kinestetik (body/kinesthetic intelligence) berpikir melalui sensasi dan gerak tubuh. Alam (natural intelligence) berpikir dalam alam. Interpersonal (interpersonal intelligence) berpikir melalui komunikasi dengan orang lain. Intrapersonal (intrapersonal in intelligence) berfikir secara reflektif (Santika, 2020). Untuk menerapkan strategi ini, perlu dilakukan assesmen non kognitif awal guna mengetahui minat belajar peserta didik. Cara mengajar maupun tugas yang diberikan berorientasi pada minat dan disesuaikan dengan kompetensi dasar yang diajarkan.

Strategy MI dipilih sebagai strategi belajar yang menjadikan peserta didik dapat mengeksplorasi minat bakatnya, sehingga menunjukkan karakter kreatif dalam dirinya. Kedepannya, diharapkan melalui COLS Multiple Intellegences, pendidikan karakter peserta didik pada PJJ menjadi lebih baik.  Belajar melalui 8 tipe kecerdasan ini juga dapat dipadukan dengan beragam model pembelajaran lain, disesuaikan dengan tujuan belajar dan penguatan karakter yang dituju.(*)

Peneliti RCMG Yakin Kementan Telah Antisipasi Dampak Banjir dan Kekeringan bagi Petani

Belajar Sambil Bermain: Metode Baru dalam Pembelajaran Berbasis E-Learning Melalui Media Sosial Bagi Generasi Milenial

*Oleh
Dian Ismawati, S.Pd., M.Pd
Guru Bahasa Inggris SMP 1 Kaliwungu

Kemunculan wabah Covid-19 di penghujung tahun 2019 telah mengubah semua aspek kehidupan manusia (Al-okaily, dkk, 2020; Vinkers dkk., 2020). Covid-19 ini kemudian menjadi pandemi dunia pada awal tahun 2020 setelah ditetapkan oleh WHO pada 30 Januari 2020. Darurat wabah Covid-19 di Indonesia dimulai pada awal Maret 2020. Pemerintah telah melakukan beberapa tindakan untuk mengantisipasi penyebaran virus ini, diantaranya Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB). Kebijakan ini juga diterapkan di bidang pendidikan. Mulai Maret tahun ini, kegiatan belajar mengajar dilakukan dari rumah, sesuai anjuran Kementrian Pendidikan Indonesia. Kebijakan ini menjadikan pendidikan berbasis pembelajaran online (e-learning) (Brem, Viardot, & Nylund, 2020).

Berbagai platform pembelajaran ditawarkan oleh pemerintah untuk melaksanakan pembelajaran berbasis e-learning, diantaranya Rumah Belajar, Google Classroom, Edmodo, Quipper School, Microsoft Office 365, Zoom, Telegram, WhatsApp, Instagram, Twitter, Facebook dan media lainnya. Semua platform ini memiliki kelebihan dan kekurangan (Harahap, 2015; Tomczyk, 2020). Maing-masing institusi pendidikan dipersilakan menggunakan platform apa saja yang sesuai dengan kondisi sekolah.

SMP 1 Kaliwungu Kudus memilih WhatsApp dalam melakukan pembelajaran berbasis e-learning. Pilihan platform ini mempertimbangkan keakraban siswa dengan media sosial WhatsApp. Selain itu platform ini lebih dapat diterima dan efektif bagi siswa (Agustin & Mulyani, 2016; Nugroho et al., 2019). Namun, ada beberapa kendala yang dihadapi guru dalam pengimplementasiannya. Salah satunya adalah kebosanan siswa selama mengikuti proses pembelajaran e-learning. Selain itu kurangnya kreativitas guru dalam menyampaikan materi melalui WhatsApp juga berpengaruh. Terkadang siswa hanya hadir pada saat awal pembelajaran selama beberapa menit, kemudian mereka meninggalkan kelas/tidak aktif di WhatsApp kelas. Terlebih lagi, ketika ada seorang guru yang memberikan PR hanya sedikit siswa yang mengerjakan PR tersebut.

Salah satu alternatif untuk mengatasi masalah tersebut adalah penggunaan media sosial kreatif dalam proses belajar mengajar. Dalam hal ini, Instagram dipilih sebagai salah satu inovasi e-learning untuk meningkatkan kemampuan berbicara siswa. Sebagai salah satu media sosial kreatif, Instagram sangat terkenal di kalangan pelajar. Sebagian besar siswa memiliki akun Instagram dan platform ini mudah diakses. Selain itu, Instagram memiliki fitur untuk mengunggah video. Fitur ini dapat digunakan dalam proses belajar mengajar selama pandemi. Guru dapat mengunggah materi serta tugas dalam bentuk video. Kemudian siswa dapat menyelesaikan tugasnya juga dengan menguploadnya melalui Instagram. Hal tersebut diharapkan dapat meningkatkan motivasi siswa dalam mengerjakan tugas khususnya untuk keterampilan berbicara (Juliani & Harunasari, 2019; Rakhmanina & Yuneva, 2018; Wulandari, 2019).

Pembelajaran Bahasa Inggris pada kelas IX KD 3.4 dan 4.4 fokus pada teks procedure dengan menganalisis fungsi sosial dan unsur kebahasaan pada teks procedure baik secara lisan maupun tulisan. Guru memberikan materi berupa video tentang apa itu text procedure, generic structure, dan language features yang digunakan. Dalam video tersebut guru juga memberikan contoh-contoh text procedure. Siswa diminta untuk menyimak materi tersebut. Setelah siswa menyimak materi guru mempersilakan siswa untuk menanyakan hal yang belum diketahui/belum jelas. Proses tanya jawab ini berlangsung dalam chat grup di WhatsApp. Guru menjawab pertanyaan siswa dengan cara texted ataupun voice note.

Pengambilan penilaian ketrampilan speaking khususnya pada KD 3.4 dan 4.4  dilaksanakan melalui penugasan proyek. Dalam hal ini setelah siswa menguasai materi yang diberikan maka guru memberikan tugas proyek untuk membuat sebuah video tentang text procedure dengan durasi waktu 10 hari. Ketentuan tugas proyek ini adalah bahwa siswa merekam kegiatan mereka saat melakukan aktifitasnya membuat sesuatu (how to make something) dan mengupload video mereka di media sosial Instagram dengan meng-tag @dian_ismawati_kudus. Guru mengharuskan siswa untuk mengupload tugas mereka ke Instagram dengan harapan siswa menjadi lebih berani dan percaya diri saat berbicara dengan menggunakan Bahasa Inggris.

Setelah penugasan proyek ini siswa merasa lebih tertarik karena mereka tidak monoton belajar melalui WhatsApp saja akan tetapi mereka bisa eksis di Instagram dan menunjukkan kemampuan mereka dalam speaking. Dengan upload video mereka di Instagram siswa memperoleh feedback ataupun masukan dari guru atau teman lainnya. Penugasan proyek ini memberikan dampak yang positif bagi siswa. Siswa merasa lebih berani dan percaya diri saat melakukan perekaman video. Dan skor nilai speaking mereka juga bertambah lebih baik dibandingkan ketika di awal mereka hanya menggunakan voice note.

Efektifitas penggunaan Instagram ini juga dapat dilihat dari statistik quisioner yang diberikan kepada siswa. Data statistik menunjukkan bahwa siswa merasa lebih senang dengan penggunaan Instagram dalam pembelajaan e-learning ini. Siswa menjadi lebih bersemangat dalam mengupload video mereka sehingga mereka tidak merasa bosan selama proses belajar mengajar. Hal ini didukung oleh features yang dimiliki Instagram seperti post feed and instastories. Features tersebut menjadikan siswa termotivasi dalam belajar, khususnya pembelajaran speaking. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa kreatifitas guru dalam pembelajaran berbasis e-learning sangat diperlukan untuk meningkatkan motivasi dan hasil belajar siswa.(*)

QUIZIZZ: Aplikasi Edukasi Berbasis Smartphone untuk Meningkatkan Motivasu Belajar Matematika Siswa Selama Pandemi COVID-19

*Oleh
Galih Kurniadi
SD 2 Puyoh

Berdasarkan instruksi dalam surat edaran dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 3 Tahun 2020 tanggal 9 Maret 2020, untuk mencegah perkembangan dan penyebaran Covid-19 di lingkungan satuan pendidikan, sistem pembelajaran yang biasanya dilakukan secara tatap muka diharuskan diubah dalam bentuk online atau pembelajaran. dari rumah. Ini dilakukan untuk meminimalkan interaksi semua orang (Pratama dkk, 2020).

Permasalahan yang dihadapi saat ini adalah pelaksanaan proses pembelajaran online memiliki banyak kendala. Salah satunya adalah dalam pembelajaran matematika. Banyak siswa yang beranggapan bahwa matematika merupakan mata pelajaran yang sulit karena sifatnya yang abstrak, logis, sistematis dan penuh dengan simbol dan rumus yang membingungkan. Kesulitan yang ada pada matematika menuntut kreativitas guru untuk mengembangkan pembelajaran matematika agar lebih menarik pada saat pandemi Covid-19.

Salah satu faktor yang dapat mempengaruhi keefektifan pembelajaran adalah motivasi. Motivasi merupakan upaya secara sadar untuk melakukan tindakan, belajar, dan mewujudkan perilaku terarah untuk mencapai tujuan yang diharapkan dalam interaksi pembelajaran (Nurhasanah dan Sobandi, 2016). Dalam pembelajaran matematika, motivasi diperlukan untuk menumbuhkan kebutuhan belajar yang kuat, menumbuhkan perhatian dan minat matematika, melatih ketekunan dalam menghadapi kesulitan dan menumbuhkan keinginan untuk sukses (Setiawan dan Soeharto, 2020).

Di era revolusi industri 4.0, teknologi merupakan motor utama dalam perkembangan dunia pendidikan. Salah satu inovasi teknologi untuk membuat pembelajaran menjadi lebih menarik bagi siswa dan dapat digunakan dalam pembelajaran jarak jauh pada saat pandemi Covid-19 adalah dengan menggunakan aplikasi quizizz. Quizizz adalah aplikasi edukasi berbasis smartphone yang menghadirkan aktivitas multiplayer ke dalam kelas dan menjadikan latihan di dalam kelas menjadi interaktif dan menyenangkan (Pahamzah sama sekali, 2020).

Dengan quizizz, siswa dapat melakukan banyak latihan di smartphone. Keistimewaan dari game quizizz ini adalah memiliki berbagai macam karakteristik seperti musik, tema, meme yang sangat menghibur dalam proses pembelajaran. Siswa dimungkinkan untuk saling bersaing dalam pembelajaran dengan menggunakan quizizz. Hal tersebut dapat meningkatkan motivasi mereka dalam proses pembelajaran. Beberapa penelitian yang relevan menunjukkan bahwa quizizz dapat meningkatkan partisipasi aktif siswa dan meningkatkan hasil belajar siswa (Setiyani sama sekali, 2020).

Penggunaan media Quizizz dalam pembelajaran matematika dapat diterapkan pada saat pandemi covid-19 termasuk di SD 2 Puyoh. Berdasarkan observasi dan wawancara dengan beberapa guru di SD 2 Puyoh menunjukkan bahwa motivasi belajar matematika di kelas IV masih rendah. Siswa tidak tertarik untuk belajar matematika. Mereka lebih suka melakukan kegiatan lain yang tidak ada hubungannya dengan pembelajaran selama belajar dari rumah.

Berdasarkan uraian di atas, maka penting dan perlu untuk menerapkan inovasi dalam pembelajaran matematika untuk meningkatkan motivasi belajar siswa di SD 2 Puyoh yaitu dengan memanfaatkan media Quizizz dalam pembelajaran matematika. Penelitian ini bertujuan untuk menerapkan media Quizziz dalam pembelajaran matematika untuk meningkatkan motivasi belajar matematika siswa kelas IV Sekolah Dasar.

Manfaat dari penelitian ini adalah adanya penambahan variasi penggunaan media pembelajaran matematika pada saat pandemi covid-19 sehingga diharapkan mampu menyelesaikan salah satu permasalahan pendidikan di Indonesia khususnya motivasi belajar matematika siswa sekolah dasar selama pandemi covid-19.

Penelitian ini menggunakan jenis penelitian deskriptif kuantitatif yang bertujuan untuk mendeskripsikan motivasi belajar siswa selama pembelajaran online dengan menggunakan media quizizz dalam mata pelajaran matematika. Populasi penelitian adalah seluruh siswa SD 2 Puyoh dengan jumlah sampel 10 siswa kelas IV. Penelitian dilaksanakan selama 4 hari pada mata pelajaran matematika. Instrumen pengumpulan data menggunakan tes hasil belajar siswa pada setiap akhir pertemuan dengan menggunakan kuis dan angket motivasi matematika. Tes hasil belajar siswa digunakan untuk mengetahui hasil belajar siswa pada materi tertentu dengan menggunakan media quizizz.

Angket motivasi digunakan untuk mengukur motivasi belajar matematika siswa. Kuesioner dibagikan kepada siswa pada setiap pertemuan. Hasil angket motivasi belajar matematika menggunakan tingkat motivasi belajar matematika siswa yang dianalisis dan dikonversikan ke dalam empat kategori yaitu sangat baik, tinggi, sedang, rendah dan buruk. Berikut tabel konversi data motivasi belajar matematika siswa.

Pelaksanaan penelitian diawali dengan menyusun empat RPP untuk empat pertemuan mata pelajaran matematika dengan menggunakan kuis.

Langkah pelaksanaan pembelajaran online dengan quizizz dimulai saat guru membagikan materi melalui media whatsapp group. Kemudian siswa mempelajari materi yang disampaikan oleh guru. Jika siswa merasa ada yang kurang memahami materi yang diberikan, siswa dapat bertanya langsung kepada guru. Di akhir pertemuan, guru mengecek hasil belajar siswa dengan mengadakan kuis melalui media quizizz. Dalam penggunaan kuis, guru berperan sebagai penyelenggara kuis (pembawa acara kuis) dengan mengakses quizizz.com. Guru dapat menjadi editor kuis sehingga guru dapat membuat kuis sendiri. Semuanya akan disimpan di fitur “my library“. Guru juga dapat membagikan kuis mereka dengan rekan kerja. Quizizz memiliki fitur, “explore”, yang berisi perpustakaan kuis umum yang dapat dicari oleh guru untuk kuis berdasarkan nama kuis atau nama pengguna pembuat kuis. Para guru dapat memilih kuis dari perpustakaan kuis umum. Dalam penelitian ini, guru melakukan permainan kuis dengan membuat kuis sendiri dan melaksanakannya di kelas dengan live mode.

Ketika para guru mengadakan kuis, mereka membagikan tautan ke grup whatsapp dan kemudian siswa dapat memasuki permainan kuis dengan mengklik tautan itu. Ketika semua peserta telah terdaftar dalam permainan, guru memulai kuis. Siswa menjawab dengan menekan tombol pilihan seperti yang terlihat di layar smartphone. Mereka harus menyelesaikan kuis dengan cepat karena ada batasan waktu pada setiap pertanyaan. Quizizz otomatis menilai semua siswa jawaban siswa. Semua hasil kuis siswa dirangkum dalam laporan. Guru dapat mengunduh dan mencetak laporan ini dalam berbagai format.

Berdasarkan hasil penelitian, rata-rata hasil angket motivasi belajar matematika siswa dalam kategori sangat baik. Selain itu, diperoleh kesimpulan bahwa penerapan pembelajaran matematika dengan media quizizz dapat meningkatkan motivasi belajar matematika siswa. Hal ini dikarenakan siswa mencoba mengerjakan kuis dan bersaing dengan teman-temannya. Hasil ini sejalan dengan penelitian Barus dan Sadewo (2014) yang menyatakan bahwa pembelajaran dengan media interaktif membuat siswa lebih bersemangat, senang, tidak bosan dan dapat berpartisipasi aktif. Hal tersebut berhasil memicu persaingan yang “sehat” di dalam kelas. Siswa termotivasi untuk menjadi juara karena namanya terpampang di layar monitor (smarth phone), sehingga mereka merasa lebih diperhatikan selama proses pembelajaran (Licorish dkk 2017). Di sisi lain, Setiawan dan Soeharto (2020) mengatakan bahwa pembelajaran berbasis game berpengaruh positif terhadap motivasi belajar siswa. Sebagai media interaktif, quizizz berhasil memacu motivasi belajar matematika siswa. Setelah belajar melalui quizizz, siswa lebih tertarik untuk belajar matematika. Kecepatan berhitung mereka juga meningkat karena mereka tidak ingin kalah dengan teman-temannya saat menjawab pertanyaan. Dari penelitian ini terbukti bahwa quizizz merupakan media yang dapat dilakukan oleh siapapun, dimanapun dan kapanpun yang cocok untuk digunakan dalam pembelajaran pada saat pandemi Covid-19.

Hasil dari penelitian ini, quizizz dapat meningkatkan motivasi dan hasil belajar siswa kelas IV SD 2 Puyoh. Berdasarkan penelitian ini sebaiknya kuis diterapkan di sekolah dasar sebagai media interaktif pada saat pandemi Covid-19. Ini bisa menjadi kegiatan yang menyenangkan dalam belajar matematika. Guru yang akan menggunakan quizizz sebagai media pembelajaran harus mengetahui cara penggunaannya dan mampu melakukan evaluasi melalui quizizz.(*)

Pemanfaatan BLOG dalam Pembelajaran di Masa Pandemi COVID-19

*Oleh
Triyono, S.Pd. M.Pd.
Guru Bahasa Inggris SMP 5 Kudus

Wabah Covid-19 sekarang mulai menyebar ke dunia pendidikan. Kementerian Pendidikan dan budaya telah menyiapkan beberapa skenario, termasuk mendorong pembelajaran secara online untuk siswa. Secara umum Covid-19 memiliki dampak yang signifikan pada dunia pendidikan, termasuk dalam sistem pendidikan di Indonesia. Pembelajaran tradisional dan rutin yang menekankan interaksi guru dan siswa di kelas dan di luar kelas bergeser ke pembelajaran dalam jaringan (daring) (Abidah et al., 2020).

Sementara itu, perkembangan teknologi dimanfaatkan oleh sekolah untuk menyiasati keadaan yang tak diduga yang mempengaruhi kegiatan belajar mengajar pada masa pandemi COVID-19. Berbagai macam media pembelajaran banyak tersedia untuk membantu pembelajaran daring. Salah satu media pembelajaran yang dapat digunakan dalam proses belajar mengajar secara daring adalah pemanfaatan blog. Penggunaan blog sebagai media pembelajaran sekaligus sebagai sumber belajar sedikitnya akan mengubah cara belajar dan teknik pembelajaran agar tidak monoton sehingga dapat memotivasi siswa dalam belajar di masa pandemi COVID-19.

Penggunaan blog untuk mengajar dan pembelajaran telah dipilih untuk beberapa alasan. Pertama, lebih dari alat media sosial lainnya, blog dapat meningkatkan interaksi antara siswa dan guru, meningkatkan keterlibatan dalam pembelajaran, dan meningkatkan kebersamaan dalam pembelajaran. Blog juga dapat menciptakan dinamika menarik yang tidak terdapat dalam media sosial lain (Makhmudova & Agzamovna, 2020).

Kehadiran media blog dalam dunia pembelajaran akan memberikan inovasi baru pada proses pembelajaran di sekolah. Penggunaan media blog dalam proses pembelajaran menyebabkan pembelajaran terjadi semakin menarik dan dinamis, karena guru dan siswa memperoleh bantuan dalam penyampaian materi. Media blog dapat membantu guru menyampaikan bahan pembelajaran dan meningkatkan kreativitasnya dalam merencanakan pembelajaran, karena guru dapat mengekspresikan semua ide dan gagasannya dalam pengorganisasian media blog. Bagi siswa dengan hadirnya blog memberikan keleluasan dalam mengakses sumber belajar dan mendownload sumber belajar tersebut yang telah tersaji dalam blog sehingga siswa mudah memperoleh bahan dan sumber belajar yang dibutuhkan untuk menambah wawasan dan keilmuan siswa (Salim et al., 2020).

Sulasmianti (2018) mengungkapkan pemanfaatan blog dalam pembelajaran akan membuat guru menjadi lebih kreatif karena adanya tuntutan untuk melakukan pengorganisasian konten seperti mengupload bahan pembelajaran, menyiapkan kuis interaktif, dan melakukan interaksi tanya jawab dengan siswa. Wahyudi (2014) mengatakan blog menjadikan pembelajaran menjadi menarik, interaktif, dan dapat mengatasi kesulitan siswa dalam mengumpulkan sumber informasi dalam pembelajaran.  Penggunaan blog dalam pembelajaran bagi guru merupakan batu loncatan kemajuan yang cepat, namun terdapat hambatan dan kesiapan guru dalam mengimplementasikannya pada kelas pembelajaran. Untuk mengatasi hambatan dan ketidakksiapan guru dalam menerapakan blog diperlukan pelatihan dan pendampingan yang terjadwal, tersusun secara sistematis serta perlunya pemetaan konten yang harus dikuasai guru dalam menggunakan blog.

Menurut Kristiyanti (2012) jika pengajar sudah memiliki blog, maka yang harus difikirkan adalah bagaimana mengintegrasikan blog dalam proses belajar mengajar. Ada beberapa cara, diantaranya para pengajar dapat menggunakan blog untuk menampilkan informasi materi yang akan diberikan, bahan ajar yang siap diunduh pebelajar, daftar hyperlink sebagai referensi, memberikan tugas dan menampilkan hasil penelitan pengajar. Karena fitur pada blog memungkinkan memberikan pertanyaan dan komentar atas artikel atau bahan ajar yang tersedia, maka komunikasi pun akan berjalan dua arah dan interaktif, baik dari pengajar ke pebelajar atau sebaliknya. Cara yang lain adalah ketika memberikan tugas kepada pebelajar, maka pengajar tersebut menerangkannya secara lisan dan kemudian menampilkannya pada blog. Pebelajar yang akan mengumpulkan tugas diminta untuk menampilkan jawaban dari tugas dalam blog pribadi pebelajar tersebut. Penilaian diberikan dengan cara pengajar tersebut mengunjungi blog pebelajar untuk kemudian memberikan komentar tentang jawaban tugas yang telah dibuat oleh pebelajar. Cara ini memberikan arti bahwa pebelajar tidak hanya bertanggung jawab atas jawaban tugas kepada pengajar saja, melainkan bertanggung jawab pula kepada publik/pengguna internet sebagai pembaca.

Lestari & Siskandar (2020) menambahkan model pembelajaran blended learning dengan blog memiliki tiga tahapan yaitu (1) Seeking of information, pencarian informasi dari berbagai sumber informasi yang tersedia secara online maupun offline dengan berdasarkan pada relevansi, validitas, reliabilitas konten dan kejelasan akademis. (2) Acquisition of information menemukan, memahami, serta  mengkonfrontasikannya dengan ide atau gagasan yang telah ada dalam pikiran kemudian menginterpretasikan informasi/pengetahuan dari berbagai sumber yang tersedia, sampai mereka mampu mengkomunikasikan kembali dan menginterpretasikan ide-ide dan hasil interpretasinya menggunakan fasilitas online/offline. (3) Synthesizing of knowledge, mengkonstruksi/merekonstruksi pengetahuan melalui proses asimilasi dan akomodasi bertolak dari hasil analisis, diskusi dan perumusan kesimpulan dari informasi yang diperoleh. Kembali dan menginterpretasikan ide-ide dan hasil interpretasinya menggunakan fasilitas online/offline.

Pendapat lain dari Sulasmiati (2018) menyampaikan beberapa langkah yang dilakukan guru untuk memanfaatkan blog sebagai media pembelajaran adalah: (1) Guru membuat  rencana pembuatan blog yang memuat: Nama Guru, Satuan Pendidikan, Kelas, Mata Pelajaran, Alamat Blog. (2) Guru membuat laman blog untuk mata pelajaran yang diampuhnya. Pembuatan blog memang relatif mudah dan sederhana. Yang harus dilakukan pertama adalah memastikan bahwa kita yang akan membuat blog telah memiliki akun google atau memiliki gmail. Memiliki akun gmail sebagai langkah awal untuk masuk membuat blog. Seterusnya kita buat blog baru. Dalam membuat blog guru dipersilahkan memberi nama blognya sendiri. (3) Guru mensosialisasikan kepada peserta didiknya bahwa salah satu media yang digunakan dalam proses pembelajaran adalah blog. Hal ini dimaksudkan agar pemanfaatan blog sebagai media pembelajaran dapat dilakukan secara optimal. Peserta didik harus mengetahui alamat blog yang digunakan, seterusnya peserta didik diharapkan mampu materi apa yang harus dibaca dan didownload. Pada waktunya peserta didik juga mampu mengerjakan evaluasi belajar berupa quiz online yang telah diupload oleh sang guru. (4) Guru mengupload materi pelajaran melalui blog dalam bentuk tulisan, gambar dan video. (5) Guru membuat kuiz interaktif dan mengupload ke blog agar dapat dikerjakan oleh peserta didik.

Berikutnya dia menambahkan bahwa blog memberikan sebuah peluang agar kegiatan belajar lebih menarik dan interaktif. Melalui blog, sumber-sumber materi yang relevan dapat dipublikasikan sehingga bisa diakses oleh siswa. Dengan demikian kesulitan siswa dalam mengumpulkan sumber-sumber informasi yang dibutuhkan dalam proses pembelajaran dapat diatasi. Oleh karena itu, blog merupakan salah satu media pembelajaran yang strategis untuk meningkatkan proses pembelajaran yang aktif dan interaktif. Blog dikatakan sebagai media pembelajaran yang efektif apabila dikelola dengan baik sehingga dapat memenuhi prinsip bahan ajar, yaitu a) kebenaran, b) sesuai dengan perkembangan anak, c) up to date, d) keseimbangan diantara luas dan kedalaman bahan.  

Sementara itu menurut pendapat Arif (2013) menyatakan bahwa blog yang telah dikembangkan dengan baik akan memberikan beberapa layanan pembelajaran online, diantaranya: (1) Blog menyajikan materi pembelajaran yang dapat diunggah oleh peserta didik, maupun hanya digunakan saat menggunakan blog. (2) Blog mampu memonitor perkembangan pembelajaran siswa melalui tugas dan kegiatan pembelajaran yang dilaksanakan dengan media blog. (3) Lewat blog, pengajar mampu memberikan informasi seputar pembelajaran, seperti jadwal pembelajaran, nilai dan informasi lainnya dengan mudah. (4) Materi yang dimuat di blog, secara tidak langsung akan tersimpan di internet, yang artinya materi tersebut lebih aman dan bisa digunakan dalam jangka waktu yang lama.

Pendapat yang disampaikan Falaq (2020) bahwa satu hal yang paling mendasar yang membedakan antara pembelajaran menggunakan internet dengan pembelajaran konvensional adalah dalam hal fleksibilitasnya. Melalui media pembelajaran berbasis blog materi pembelajaran dapat diakses kapan saja, dimana saja, darimana saja, disamping itu materi juga sangat mudah dan dapat diperkaya dengan berbagai sumber belajar termasuk multimedia. Dengan menjadikan blog sebagai media pembelajaran guru dapat menuliskan materi pelajaran maupun pengayaaan materi melalui blog pribadinya. Guru juga bisa memberikan tugas tambahan bagi peserta didik bahkan melakukan ulangan harian melalui online. Dengan media blog pula antara guru dan siswa dapat saling berkomunikasi, berdiskusi, tentang apa saja, khususnya seputar materi pelajaran.

Sekolah dan guru melaksanakan kebijakan pemerintah untuk belajar dari rumah sebagai upaya memperlambat penyebaran COVID-19 namun sekaligus tetap memastikan peserta didik dalam kegiatan konstruktif melalui pembelajaran daring. Berbagai platform digunakan dalam pembelajaran daring, sementara guru, peserta didik, dan orang tua diharapkan terus melakukan penyesuaian seiring berjalannya waktu. Berbagai respon positif disampaikan peserta didik terkait pembelajaran daring karena dirasa lebih santai, menyenangkan, fleksibel, efisien, singkat, praktis, cepat, tepat, aman, mudah, hemat waktu, dan hemat tenaga. Pembelajaran dapat dilakukan secara jarak jauh, orang tua bisa mengawasi anak-anaknya belajar, membuat peserta didik menjadi melek teknologi, dan lebih kreatif.

Namun demikian pelaksanaan pembelajaran daring memiliki hambatan/kendala baik dari aspek sumber daya manusia maupun sarana-prasarana khusunya pelaksanaan proses belajar mengajar. Permasalahan pelaksanaan proses belajar mengajar secara daring pada masa pandemi Covid-19 dapat diatasi dengan memanfaatkan blog dalam pembelajaran.  Namun hal ini pun masih terkendala oleh masih banyak guru yang belum memahami bagaimana dan apa tahapan pemanfaatan blog dalam pembelajaran.  Langkah utama yang harus ditempuh adalah dengan membuat para guru mampu membuat blog pribadinya. Setelah itu para guru dituntut untuk mampu melakukan tahapan pemanfaatan blog untuk menciptakan proses pembelajaran yang efektif dan efisian di masa pandemi Covid-19.(*)

Metode TAGASI untuk Menulis Laporan

*Oleh
Dra. Tri Murniati,M.Pd.
Guru Mapel Bahasa Indonesia
SMP 2 Mejobo, Kudus

Tantangan  menghadapi era abad 4.0. ini siswa harus lebih terampil dalam menyikapi kehidupan. Mereka harus mampu mencerna, memilih, mengomunikasikan apa yang dibaca, dilihat atau dengarnya. Hal ini tak lepas dari keterkaitan materi pembelajaran keterampilan berbahasa. Salah satunya yaitu menulis. Pembelajaran Bahasa Indonesia diarahkan agar peserta didik memiliki keterampilan untuk berkomunikasi baik secara lisan maupun tertulis. Pembelajaran menulis khususnya menulis laporan , seringkali dianggap sebagai pembelajaran yang tidak penting dan membosankan. Ketika mereka mendapat tugas menulis laporan mereka merasa kesulitan menuangkan idenya, sehingga tidak tahu apa yang harus mereka tulis. Untuk itu, pembelajaran menulis memerlukan perhatian serius.

Menilik permasalahan tersebut, guru harus dapat menentukan strategi, metode, dan media yang dapat menjadi perantara pembelajaran dengan baik, serta memotivasi peserta didik supaya mereka lebih bergairah dalam mengikuti pembelajaran. Hal ini selaras penelitian Kitao (1997) yang  berjudul  “Selecting and Developing Teaching / Learning Materials” mengemukakan bahwa dalam pembelajaran ada hal pokok yang harus ada dan sesuai dengan kebutuhan siswa, yaitu metode pengajaran, bahan ajar, dan evaluasi. Harapannya tujuan pembelajaran dapat terwujud.

Salah satu solusi untuk meningkatkan prestasi belajar menulis yaitu menggunakan Metode Tagasi. Alasan penulis memberikan solusi tersebut karena dalam pembelajaran diawali dengan mencermati tayangan peristiwa hingga melakukan investigasi. Sehingga pelaksanaan pembelajaran menyenangkan. Selain itu, metode pembelajaran ini menuntut adanya kreativitas peserta didik. Peserta didik merasa dilibatkan dalam pembelajaran. Mereka bukan dijadikan objek tetapi mereka sebagai subjek dalam pembelajaran. Harapannya pembelajaran Bahasa Indonesia, khususnya ketrampilan menulis, akan menjadi pembelajaran yang aktif, kreatif, efektif, dan menyenangkan, sehingga prestasi belajar peserta didik lebih meningkat.

  • Kemampuan Menulis Laporan.

Menurut Tarigan (2008:3-4) menulis merupakan kegiatan yang produktif dan ekspresif untuk mengungkapkan ide,pikiran,gagasan dan pengetahuan. Penulis di dalam kegiatan menulis harus terampil  memanfaatkan  grafologi, struktur bahasa, dan kosakata. Kegiatan  menulis disebut sebagai  kegiatan  produktif  karena  kegiatan ini menghasilkan tulisan, dan disebut sebagai kegiatan yang ekspresif karena kegiatan menulis adalah  kegiatan yang  mengungkapkan ide, gagasan, pikiran, dan pengetahuan penulis kepada pembaca.

Menulis yang baik memerlukan penguasaan beberapa keterampilan, yaitu ketepatan dan kelayakan tata bahasa,sehingga hubungan penulis dan pembaca lebih mudah. Selain itu, dalam menulis sebuah tulisan diperlukan kosakata yang sesuai dengan pokok persoalan tingkat penulisan, sikap penulis dan karangannya. Yang terpenting bagaimana menyusun kosakata menjadi suatu kalimat yang jelas, sebab tulisan yang baik memerlukan struktur ide-ide yang teliti.

 Menulis merupakan kegiatan yang membutuhkan proses. Terkadang saat pertama kali kita akan menulis kita mersa kebingungan akan memulai darimana. Berkali kali kita menulis kalimat,berkali-kali juga kita menghapusnya kembali. Hal ini menunjukkan bahwa menulis merupakan proses.

Adapun langkah-langkah menulis laporan adalah menentukan topik laporan dan menentukan tujuan laporan. Hal yang perlu diperhatikan dalam  menyusun laporan yaitu apa yang dilaporkan, siapa yang melaporkan, bahasa laporan yang meliputi penggunaan kata yang tepat, kalimat pendek, singkat dan jelas, bahasa yang sederhana dan mudah dipahami, menghindari penggunaan istilah-istilah yang membingungkan dan kurang dipahami oleh umum,memperhatikan etika, estetika dan logika bahasa.

  • Metode Tagasi

Menurut Joni dalam Anitah (2014: 1.24) metode adalah berbagai cara kerja yang bersifat relatif umum yang sesuai untuk mencapai tujuan tertentu. Solchan (2014: 3.9) menyatakan bahwa metode pada umumnya diartikan sebagai cara mengajar atau Metode mengajar. Sedangkan pada hakikatnya metode adalah suatu prosedur untuk mencapai sesuatu tujuan yang telah di tetapkan.

Berdasarkan beberapa pendapat di atas, dapat penulis simpulkan bahwa metode pembelajaran adalah cara yang digunakan oleh guru untuk menyampaikan materi pembelajaran dalam upaya mencapai tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan.

Tagasi merupakan akronim dari tayangan hingga investigasi. Tayangan artinya sesuatu yang ditayangkan (dipertunjukkan) atau pertunjukan (film dsb)  Investigasi artinya penyelidikan dengan mencatat dan merekam fakta, melakukan peninjauan, percobaan,

Berdasarkan istilah tersebut yang dimaksud  dengan Metode “TAGASI” (dari tayangan hingga investigasi).Pembelajaran menggunakan metode tagasi diawali dengan penayangan rekaman melalui layar telivisi atau LCD, kemudian peserta didik diminta mencermati tayangan tersebut. Kegiatan selanjutnya adalah peserta didik melakukan investigasi di luar kelas dalam bentuk wawancara dengan sumber dan tinjauan  lokasi atau observasi. Pada saat melaksanakan investigasi kita memberi kesempatan kepada mereka mencari data untuk  menulis laporan.

Keunggulan metode tagasi yaitu peserta didik lebih aktif karena mereka diberi kesempatan untuk beraktivitas, tidak hanya sekadar mendengarkan pelajaran saja, pembelajaran lebih menarik karena dengan tayangan peserta didik lebih tertarik dalam belajar, peserta didik lebih percaya diri karena diberi kesempatan untuk melakukan investigasi

Langkah –langkah  pembelajaran menulis laporan dengan Metode “TAGASI” (dari tayangan hingga investigasi) adalah :a) pembelajaran menulis laporan yang diawali dengan penayangan rekaman peristiwa melalui layar telivisi atau LCD,b) kemudian peserta didik diminta mencermati tayangan tersebut,c) Setelah mencermati tayangan tersebut, peserta didik membaca teks laporan (model teks laporan) yang isinya pemberitaan peristiwa yang ada dalam tayangan tersebut, c) setelah membaca laporan, peserta didik mengadakan diskusi untuk menemukan dan menentukan unsur-unsur laporan serta bentuk susunan laporan yang dibacanya,d) setelah menemukan dan memahami unsur-unsur laporan serta bentuk susunan laporan yang dibacanya, peserta didik berlatih menulis laporan tentang peristiwa yang baru saja terjadi/dialami di kelasnya, e) kegiatan selanjutnya adalah peserta didik melakukan investigasi di luar kelas dalam bentuk wawancara dengan sumber laporan dan tinjauan lokasi/observasi ke tempat peristiwa yang dijadikan bahan laporan, f) Setelah melakukan investigasi peserta didik menulis laporan dengan bahasa yang singkat, padat, dan jelas sesuai dengan hasil investigasinya.

Berdasarkan paparan tersebut dapat penulis simpulkan bahwa strategi,metode dan media memang sangat diperlukan dalam pembelajaran agar tujuan pembelajaran tercapai sesuai dengan harapan.Tagasi adalah bentuk metode pembelajaran yang dapat digunakan untuk pembelajaran menulis laporan. Dengan mengajak peserta didik mengamati tayangan hingga mereka diajak berinvestigasi dengan lingkungan, pembelajaran menjadi lebih menarik dan tidak membosankan, karena peserta didik merasa dilibatkan. Harapan penulis Tagasi akan meningkatkan pembelajaran khususnya pembelajaran menulis laporan.(*)