55 Karya Dipamerkan, “Wara” Unnes Jadi Magnet Baru di Little Netherlands

Pengunjung abadikan momen saat menghadiri pameran Wara di Gedung Oudetrap di kawasan Little Netherlands Kota Semarang. (dok Alan Henry)
Pengunjung abadikan momen saat menghadiri pameran Wara di Gedung Oudetrap di kawasan Little Netherlands Kota Semarang. (dok Alan Henry)

Lingkar.co – Gedung Oudetrap di kawasan Little Netherlands Kota Semarang dipadati puluhan pengunjung pada Jumat (28/11/2025) malam. Mereka menyusuri ruang pamer yang dipenuhi puluhan lukisan serta instalasi seni yang tertata di berbagai sudut ruangan. Suasana hidup terasa sepanjang acara, dengan pengunjung yang bergantian memotret karya, berdiskusi, hingga duduk menikmati instalasi yang ditampilkan.

Pameran bertema “Wara” ini digelar mahasiswa Pendidikan Seni Rupa Universitas Negeri Semarang (Unnes) dan berlangsung selama tiga hari, mulai 28 hingga 30 November.

Salah satu pengunjung, Nindi Aprilia Maresca, datang setelah mendapat kabar dari sepupunya. Ia mengaku terpikat dengan karya-karya yang dipamerkan.

“Sebenarnya aku kenal dari sepupu, terus diundang ke sini. Aku cukup suka seni-seni seperti ini. Banyak lukisan, jadi sekalian cuci mata,” ujarnya.

Nindi datang bersama seorang temannya. Baginya, hampir seluruh karya yang ditampilkan meninggalkan kesan kuat.

“Jujur susah milih karena banyak yang bagus, tetapi yang paling dekat ini aku suka karena cantik dan terasa feminin banget,” katanya.

Kurator pameran, M. Rijalul Azka Arifin, menjelaskan bahwa kegiatan ini berangkat dari tugas akademik, namun dikembangkan menjadi ruang berkesenian yang lebih terbuka bagi publik.

“Tema Wara adalah panggilan untuk menuntut perhatian. Wara juga bergerak dari ‘Radas’, atau keterbalikan dari kata ‘Sadar’. Kami sering menjalani hidup secara otomatis,” ujarnya.

Ia menegaskan bahwa konsep tersebut kemudian bersinggungan dengan Warsa, yaitu waktu yang terus berjalan dan menjadi bahan refleksi atas kesadaran diri.

Menurutnya, terdapat 55 karya yang dipamerkan, terdiri dari karya mahasiswa dan seniman undangan.

“Dari seniman undangan ada 15 karya. Semua berkolaborasi menyukseskan pameran ini,” jelasnya.

Beberapa karya turut dijual melalui art market dan lelang, baik secara langsung maupun daring. Sebagian lainnya tidak diperjualbelikan.

“Kami ingin mereka merasakan apa yang ingin kami sampaikan dalam pameran ini. Bukan soal pencapaian besar, tetapi soal kesadaran bersama,” imbuhnya.

Sekretaris Disbudpar Kota Semarang, Samsul Bahri Siregar, menilai seni rupa masih sangat diminati masyarakat.

“Di Semarang, seni rupa itu masih sangat diminati. Beberapa bulan lalu sempat ada pameran yang mengundang beberapa negara. Hari ini, teman-teman mahasiswa Unnes membuat karya luar biasa,” katanya.

Ia menegaskan bahwa Pemkot Semarang berkomitmen mendukung perkembangan seni, terutama di kalangan anak muda.

“Pemerintah membuka peluang itu. Ibu Wali Kota juga sudah menyampaikan bahwa seni budaya menjadi salah satu program prioritas pada 2026, termasuk seni lukis dan seni rupa,” ujarnya. ***