Rupiah Melemah, Pernyataan Prabowo soal ‘Warga Desa Tak Pakai Dolar’ Dinilai Abaikan Dampak Nyata

Presiden RI, Prabowo Subianto. (Istimewa)

Lingkar.co – Pernyataan Presiden Prabowo Subianto bahwa masyarakat desa tidak menggunakan dolar AS saat menanggapi pelemahan rupiah menuai kritik dari sejumlah pengamat ekonomi. Mereka menilai pernyataan tersebut terkesan menyederhanakan persoalan dan berpotensi memperburuk kepercayaan pasar terhadap rupiah.

Meski masyarakat pedesaan tidak bertransaksi langsung menggunakan dolar, berbagai kebutuhan pokok dan sektor produksi tetap bergantung pada barang impor yang harganya dipengaruhi kurs mata uang Amerika Serikat.

Nilai tukar rupiah diketahui sempat menembus Rp17.600 per US$1 pada Jumat (15/5/2026), memicu kekhawatiran terhadap kenaikan harga barang serta penurunan daya beli masyarakat.

Namun, Prabowo menilai kondisi ekonomi nasional masih relatif aman, khususnya pada sektor pangan dan energi.

“Rupiah begini, rupiah begini, apa? Eh, dolar begini. Orang rakyat di desa enggak pakai dolar kok, iya kan? Pangan aman, energi aman, ya. Banyak negara panik, Indonesia masih oke,” ujar Prabowo.

Hingga laporan ini ditulis, pihak pemerintah belum memberikan penjelasan tambahan terkait pernyataan tersebut.

Pernyataan Prabowo soal Pelemahan Rupiah

Saat meresmikan Museum Marsinah di Nganjuk, Jawa Timur, Prabowo menanggapi pelemahan rupiah terhadap dolar AS dengan nada santai.

Ia menyebut sebagian besar masyarakat desa tidak memakai dolar dalam aktivitas sehari-hari sehingga dampak kurs dinilai tidak dirasakan secara langsung.

“Sekarang ada yang selalu… sebentar-sebentar Indonesia akan collapse, akan chaos, rupiah begini, dolar begini… Mau dolar berapa ribu kek, orang rakyat di desa enggak pakai dolar kok,” kata Prabowo.

Prabowo juga meminta masyarakat tidak terlalu khawatir selama Menteri Keuangan, Purbaya Yudhi Sadewa, masih terlihat tenang menghadapi situasi tersebut.

Menurutnya, pihak yang paling terdampak adalah masyarakat yang sering bepergian ke luar negeri dan kalangan pengusaha.

“Yang pusing yang itu, yang suka ke luar negeri. Hayo siapa ini? Mbak Titik (Siti Hediati Hariyadi) pusing ini. Sakti Wahyu Trenggono… Anindya Bakrie, lu pusing gua lihat, pengusaha pusing.”

“Percaya lah, ekonomi kita kuat, fundamental kita kuat. Orang mau ngomong apa, Indonesia kuat,” lanjutnya yang disambut tepuk tangan hadirin.

Pengamat: Dampak Dolar Tetap Terasa hingga Desa

Analis senior Indonesia Strategic and Economic Action Institution (ISEAI), Ronny Sasmita, menilai persoalannya bukan soal masyarakat memegang dolar atau tidak.

Menurutnya, pelemahan rupiah tetap memengaruhi harga barang yang digunakan masyarakat desa karena banyak komoditas bergantung pada impor dan transaksi berbasis dolar.

Ia mencontohkan pupuk, bahan bakar minyak, pakan ternak, obat-obatan, mesin pertanian, hingga sebagian bahan pangan yang harganya sensitif terhadap pergerakan kurs.

Ketika rupiah melemah hingga Rp17.600 per dolar AS, biaya produksi meningkat dan akhirnya berdampak pada harga kebutuhan sehari-hari.

“Artinya, masyarakat desa tetap terkena dampaknya mesti tidak pernah melihat dolar secara fisik…”

“Dalam ekonomi, rakyat kecil sering kali menjadi pihak yang paling akhir menyadari gejolak kurs, tapi paling cepat merasakan dampak kenaikan harga,” ujar Ronny Sasmita, Minggu (17/5/2026).

Ia menilai narasi pemerintah yang terlalu menyederhanakan persoalan justru berisiko menimbulkan persepsi keliru di tengah situasi ekonomi yang sensitif.

Investor Dinilai Membaca Risiko Fiskal

Ekonom Yanuar Rizky menilai pernyataan Prabowo menunjukkan upaya menenangkan publik dengan menampilkan sikap percaya diri terhadap kondisi ekonomi nasional.

Namun, menurutnya, pasar tetap melihat kondisi fiskal Indonesia yang sedang menghadapi tekanan.

“Bahwa dia tidak takut, kurang lebih begitu,” kata Yanuar Rizky.

Ia membandingkan gaya komunikasi Prabowo dengan Presiden AS, Donald Trump, yang kerap memengaruhi sentimen pasar lewat pernyataan publik.

Meski begitu, Yanuar menilai kondisi Indonesia berbeda karena investor tetap fokus pada indikator fiskal, termasuk pelebaran defisit anggaran dan tingginya belanja negara.

Defisit APBN periode Januari–Maret 2026 tercatat mencapai Rp240 triliun. Sementara pemerintah tetap menjalankan program prioritas seperti Makan Bergizi Gratis (MBG) dan Koperasi Desa Merah Putih (KDMP).

Menurut Yanuar, kondisi tersebut membuat pelaku pasar melihat risiko fiskal Indonesia meningkat sehingga memicu penurunan kepercayaan terhadap rupiah.

Ia juga menyoroti langkah Bank Indonesia yang beberapa kali menurunkan batas transaksi dolar, dari US$100.000 menjadi US$50.000 lalu US$25.000.

“Itu bisa dibaca sebagai tanda bahwa semakin banyak orang mulai memindahkan uangnya dari rupiah ke dolar di dalam negeri…”

“Artinya kepercayaan terhadap rupiah mulai menurun. Karena itu, menurut saya, langkah dan pernyataan pemerintah yang ingin menunjukkan keberanian justru akan berbalik menjadi bumerang,” jelasnya.

Risiko terhadap Pasar dan Kepercayaan Publik

Ronny Sasmita menilai pernyataan yang terkesan meremehkan pelemahan rupiah bisa berdampak pada persepsi investor dan masyarakat.

Menurutnya, pasar keuangan tidak hanya melihat data ekonomi, tetapi juga bagaimana pemimpin negara memahami risiko ekonomi yang sedang terjadi.

Jika pemerintah dianggap tidak memiliki sense of urgency terhadap stabilitas rupiah, tekanan terhadap pasar keuangan dapat meningkat dan arus modal keluar berpotensi bertambah.

Selain itu, masyarakat dinilai sangat sensitif terhadap kenaikan harga kebutuhan pokok. Ketika harga naik tetapi pemerintah terlihat santai, bisa muncul jarak persepsi antara kondisi nyata masyarakat dan sikap pemerintah.

“Dalam ekonomi, kepercayaan publik sangat penting, sama seperti cadangan devisa. Sekali kepercayaan publik menurun, efeknya bisa panjang,” katanya.

Ia menambahkan investor umumnya lebih tenang terhadap pemimpin yang mengakui tantangan ekonomi secara terbuka dibanding yang terkesan mengecilkan persoalan.

Tren Rupiah Terus Melemah Sejak 2024

Nilai tukar rupiah mulai mengalami tekanan sejak Prabowo menjabat Presiden pada Oktober 2024.

Saat itu, kurs rupiah masih berada di kisaran Rp15.400–Rp15.500 per dolar AS. Sepanjang 2025, rupiah bergerak melemah ke level Rp16.000–Rp16.600.

Tekanan semakin besar memasuki 2026. Pada Januari 2026 rupiah berada di level Rp16.700–Rp16.900, lalu menembus Rp17.000 pada Maret–April 2026.

Pada Mei 2026, kurs sempat menyentuh Rp17.500 dan terus melemah hingga Rp17.600 per dolar AS.

Data Trading Economics menunjukkan rupiah menjadi salah satu mata uang dengan depresiasi terdalam di Asia Tenggara secara year to date.

Sementara itu, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa berkali-kali menyatakan pelemahan rupiah lebih dipengaruhi faktor global dan sentimen pasar dibanding melemahnya fundamental ekonomi domestik.

JApakah Rupiah Sudah Masuk Fase Kritis?*

Menurut Yanuar Rizky, posisi rupiah saat ini memang belum menunjukkan Indonesia berada dalam krisis besar.

Namun, level Rp17.600 per dolar AS dianggap cukup kritis karena kemampuan daya beli masyarakat semakin tertekan akibat kenaikan harga barang.

Ia menjelaskan pelemahan rupiah membuat harga barang impor dan bahan baku produksi naik karena transaksi internasional menggunakan dolar AS.

Akibatnya, ongkos produksi meningkat dan harga barang di pasar ikut terdorong naik.

Penulis : Putri Septina