Jatma Aswaja Tegaskan Jihad Saat Ini Melawan Kemiskinan dan Kebodohan

Jatma Aswaja Tegaskan Jihad Saat Ini Melawan Kemiskinan dan Kebodohan
Ketua Pimpinan Cabang (PC) Jatma Aswaja Kota Semarang, KH. Agus Ramadhan dalam pembukaan Muskercab I Jatma Aswaja Kota Semarang di Pondok Pesantren Durrotu Aswaja, Gunungpati, Kota Semarang, Sabtu (17/5/2026). Foto: Rifqi/Lingkar.co

Lingkar.co – Bagi bangsa Indonesia, masa berperang melawan penjajah (musuh) atau jihad dengan mengangkat senjata sudah berakhir. Pada era Indonesia yang sudah merdeka ini, jihad bukan lagi berperang dengan mengangkat senjata. Namun jihad saat ini adalah berperang dalam menekan angka kemiskinan dan keterbelakangan atau kebodohan. Hal ini menjadi isu utama dalam Musyawarah Kerja Cabang (Muskercab) Jam’iyyah Ahlith Thariqah Al-Mu’tabaroh Ahlussunah Wal-Jamaah (Jatma Aswaja) Kota Semarang.

“Jihad saat ini adalah jihad di bidang ekonomi dan pendidikan karena yang jadi musuh saat ini adalah kemiskinan dan kebodohan,” ujar Ketua Pimpinan Cabang (PC) Jatma Aswaja Kota Semarang, KH. Agus Ramadhan dalam pembukaan Muskercab I Jatma Aswaja Kota Semarang di Pondok Pesantren Durrotu Aswaja, Gunungpati, Kota Semarang, Sabtu (17/5/2026).

Oleh sebab itu, lanjutnya, PC Jatma Aswaja Kota Semarang harus bergerak dalam upaya mendorong kemandirian ekonomi umat. Sebab, kata dia, kekuatan ekonomi sangat penting dalam semua hal.

Sedekah butuh uang, umroh dan haji butuh uang. Segala sesuatu butuh uang, termasuk berjuang juga membutuhkan kekuatan pendanaan,” jelasnya.

Melalui organisasi dan tarekat, ia menekankan pentingnya menjadi orang yang bermanfaat, baik secara materi dengan bersedekah, memberikan ilmu maupun dalam beramal sebagaimana sabda Nabi Muhammad SAW, sebaik-baiknya manusia adalah yang bermanfaat bagi orang lain.

“Orang thoriqoh harus memberikan manfaat bagi orang lain,” tuturnya.

Senada, Wakil Ketua PW Jatma Aswaja Jawa Tengah, Habib Novel Al-Muthahar menyatakan bahwa kemandirian ekonomi umat merupakan program di semua tingkatan. Maka dirinya ingin program yang jelas dalam membina perekonomian umat

Pada kesempatan itu, ia juga mengingatkan pentingnya kerukunan dan keteladanan dalam hidup bermasyarakat. Menurutnya, dua hal itu merupakan modal dalam berdakwah, mengajak orang bergabung dalam Jatma Aswaja. Semua pengurus harus rukun dan saling mendukung. Sebab, kata dia, jika tidak rukun, organisasi yang sudah besar juga akan tercerai berai seperti buih di tangan lautan.

Menutup arahan, ia menyampaikan pesan Habib Muhammad Luthfi bin Yahya bahwa Jatma Aswaja merupakan warga Nahdlatul Ulama atau Nahdliyin, namun waduh organisasi tarekanya bukan Jam’iyyah Ahlith Thariqah Al-Mu’tabaroh An-Nahdliyyah (Jatman). Sehingga tidak dibenarkan untuk saling mengejek atu menjelek-jelekkan yang berbeda organisasi.

“Jangan ada pengurus dan anggota Jatma Aswaja yang menjelek-jelekkan Jatman. Kita tetap Nahdliyin, hanya saja untuk organisasi thoriqoh kita punya bendera sendiri, yaitu Jatma Aswaja,” tegasnya. (*)