Rupiah Tembus Rekor Terlemah, Tekanan Global dan Risiko Domestik Jadi Pemicu

Ilustrasi - Mata uang rupiah. (Istimewa)

Lingkar.co – Nilai tukar rupiah kembali mengalami tekanan tajam terhadap dolar Amerika Serikat (AS). Mata uang Garuda bahkan sempat menyentuh level terlemah sepanjang sejarah perdagangan intraday di pasar spot.

Berdasarkan data Refinitiv, pada perdagangan Senin (18/5/2026), rupiah sempat menembus Rp17.660 per dolar AS atau melemah sekitar 1,15 persen.

Pelemahan ini memperpanjang tren negatif rupiah dalam beberapa waktu terakhir di tengah meningkatnya ketidakpastian global, derasnya permintaan dolar AS, hingga kekhawatiran terhadap arus keluar modal asing.

Pelaku pasar menilai tekanan terhadap rupiah saat ini dipicu kombinasi berbagai faktor, mulai dari perubahan komposisi indeks MSCI, kualitas pertumbuhan ekonomi domestik, persepsi terhadap kebijakan fiskal pemerintah, hingga tensi geopolitik global.

Bobot Indonesia di MSCI Diperkirakan Menyusut

Salah satu sentimen utama yang membebani rupiah berasal dari perubahan komposisi indeks MSCI.

Dalam review Mei 2026, MSCI menghapus enam saham Indonesia dari Global Standard Index. Langkah ini dinilai dapat mengurangi bobot Indonesia di indeks emerging market.

Ekonom DBS, Radhika Rao, memperkirakan porsi Indonesia dalam indeks emerging market turun menjadi sekitar 0,5–0,6 persen dari sebelumnya mendekati 0,8 persen.

“Porsi Indonesia yang lebih rendah ini akan mendorong investor untuk menyesuaikan kembali portofolio mereka, sehingga berpotensi memicu tambahan arus keluar asing dalam skala moderat,” tulis Radhika Rao dalam riset Indonesia Markets: MSCI Rebalances Index, Slippery Rupiah.

Penurunan bobot tersebut membuat investor global yang mengikuti indeks MSCI berpotensi mengurangi kepemilikan saham Indonesia.

Akibatnya, aliran dana asing ke pasar domestik melemah dan turut menekan permintaan terhadap rupiah.
Pertumbuhan Ekonomi Dinilai Belum Berkualitas

Meski pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal I-2026 tergolong solid, kondisi itu belum cukup menopang penguatan rupiah.

Pasar menilai pertumbuhan ekonomi masih didominasi oleh belanja pemerintah dan konsumsi rumah tangga, sementara kontribusi investasi dan perdagangan belum cukup kuat.

“Laporan pertumbuhan ekonomi kuartal I-2026 yang kuat juga gagal menggairahkan rupiah, karena dorongan pertumbuhan berasal dari belanja pemerintah dan konsumsi yang lebih tinggi, bukan dari investasi atau perdagangan,” tulis Radhika.

Investor dinilai tidak hanya melihat besaran angka pertumbuhan, tetapi juga kualitas sumber pertumbuhan ekonomi tersebut.

Jika pertumbuhan lebih banyak ditopang pengeluaran pemerintah, pasar akan menilai apakah belanja tersebut produktif dan mampu menciptakan dampak ekonomi jangka panjang.

Kredibilitas Fiskal Jadi Sorotan Investor

Selain faktor eksternal, persepsi terhadap kebijakan fiskal pemerintah juga dinilai ikut memengaruhi pelemahan rupiah.

Pelaku pasar mencermati arah belanja negara, efektivitas penggunaan anggaran, serta kemampuan pemerintah menjaga defisit fiskal tetap terkendali.

Dalam analisisnya, Ezaridho Ibnutama menyebut nilai tukar tidak hanya dipengaruhi faktor moneter, melainkan juga mencerminkan penilaian pasar terhadap disiplin fiskal pemerintah.

“Nilai tukar, dalam jangka panjang, adalah vonis atas perilaku fiskal pemerintah,” tulis Ezaridho.

Ia menilai pelemahan rupiah otomatis meningkatkan beban kewajiban utang dalam denominasi dolar AS.

“Setiap penurunan nilai rupiah menggelembungkan biaya riil cicilan utang,” ujarnya.

Karena itu, investor tidak hanya memantau langkah Bank Indonesia, tetapi juga memperhatikan konsistensi pemerintah menjaga disiplin fiskal di tengah kebutuhan belanja negara yang besar.

Konflik AS-Iran Tekan Sentimen Pasar

Tekanan terhadap rupiah turut dipicu meningkatnya ketidakpastian geopolitik di Timur Tengah, khususnya terkait negosiasi antara Amerika Serikat dan Iran yang belum menunjukkan kemajuan signifikan.

Situasi tersebut mendorong harga minyak dunia bergerak naik karena kekhawatiran gangguan pasokan energi global.

Pada perdagangan intraday Senin (18/5/2026), harga minyak Brent tercatat naik 1,9 persen ke level US$111,34 per barel. Sementara minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) menguat 2,3 persen menjadi US$107,84 per barel.

Kenaikan harga minyak dipicu kekhawatiran terhadap stabilitas pasokan dari kawasan Teluk, termasuk potensi gangguan di Selat Hormuz.

Harga energi yang tinggi menjadi sentimen negatif bagi Indonesia karena dapat meningkatkan tekanan inflasi, memperbesar subsidi energi, serta menambah kebutuhan valuta asing.

“Kekhawatiran atas review MSCI, geopolitik, dan perkembangan domestik terus menekan rupiah, ketika mata uang ini melemah melewati Rp17.500/US$ dan menjadi salah satu mata uang kawasan dengan kinerja terlemah secara year to date,” tulis Radhika Rao.

Dengan kombinasi tekanan global dan domestik tersebut, pelaku pasar dinilai masih cenderung berhati-hati terhadap aset berdenominasi rupiah dalam jangka pendek.

Penulis : Putri Septina