Akindo Jamin Ketersediaan Pasokan Kedelai di Dalam Negeri meski Harga Naik

  • Bagikan
Pekerja membuat tempe di sentra perajin tempe Sanan, Malang, Jawa Timur, Senin (4/1). (ANTARA FOTO/LINGKAR.CO)
Pekerja membuat tempe di sentra perajin tempe Sanan, Malang, Jawa Timur, Senin (4/1). (ANTARA FOTO/LINGKAR.CO)

JAKARTA, Lingkar.co – Asosiasi Kedelai Indonesia (Akindo) menjamin ketersediaan stok kedelai guna memenuhi kebutuhan di dalam negeri.

Terutama bagi pengrajin tahu dan tempe, meskipun saat ini, harga kedelai di pasar global masih menguat.

Ads Selamat Hari Raya Idul Fitri 2022

Ketua Akindo, Yusan menjelaskan, bahwa saat ini, harga kedelai memang mengalami kenaikan, mengikuti harga di pasar internasional.

“Sekarang harga naik, tetapi barang ada terus. Kami siapkan stok sesuai kebutuhan dan itu bidang kita untuk impor dengan transportasi dalam negeri,” katanya, Rabu (20/1).

Ia melanjutkan, kenaikan harga kedelai ini disebabkan, selain karena situasi ekonomi dunia yang melemah akibat pandemi COVID-19, juga karena faktor cuaca fenomena La Nina yang menghantam wilayah Afrika dan Amerika Latin, terutama Brazil sebagai produsen kedelai AS.

“Harga kedelai saat ini mencapai 13-14 dolar AS per bushel (per gantang) dan menjadi harga tertinggi, jika dibandingkan sebelumnya yang berkisar 9 dolar AS per bushel pada Mei 2020,”bebernya.

Lebih lanjut, ia menjelaskan, selain itu, China yang juga menjadi negara importir terbesar kedelai, meningkatkan jumlah importasinya untuk pakan ternak babi.

“Pembeli terbesar China dan dialihkan impor dari AS, namun tidak mencukupi. Ini yang mengganggu stok di AS, akibatnya stok berkurang dan harga kalau kita lihat sekarang menjadi 13 US Dollar per bushel,” kata Yusan.

Ia menambahkan, biaya pengangkutan juga menjadi andil dalam kenaikan harga kedelai, karena terjadi ketidakseimbangan persediaan container, sehingga menyebabkan logistik terganggu.

Oleh karenanya, Importir kedelai juga mengimbau, agar para pengrajin tahu dan tempe dapat menyesuaikan dengan harga kedelai internasional, mengingat fluktuasi harga komoditas tersebut disampaikan secara transparan.

“Sebenarnya pengrajin bisa menyesuaikan harga internasional karena tahu persis harga jual kedelai tidak ada. Harga dapat dihitung secara transparan dari angkutan sampai ke dalam negeri,” tandasnya. (ara/aji)

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.