BMKG: Jateng Dilanda Kemarau Basah

  • Bagikan
Cuaca mendung pada siang hari di Kota Semarang. BMKG sebut Jateng sedang dilanda kemarau basah. FOTO: Dinda Rahmasari Tunggal Sukma/Lingkar.co
Cuaca mendung pada siang hari di Kota Semarang. BMKG sebut Jateng sedang dilanda kemarau basah. FOTO: Dinda Rahmasari Tunggal Sukma/Lingkar.co

SEMARANG,Lingkar.co – Cuaca berawan hingga hujan dengan intensitas sedang masih sering terjadi pada beberapa wilayah Jawa Tengah, meski sedang kemarau.

Koordinator Bidang Data dan Informasi BMKG Stasiun Klimatologi Semarang, Iis Widya Harmoko, mengungkapkan kondisi itu terjadi karena musim kemarau cenderung basah.

Hal tersebut kata dia, karena anomali suhu muka laut yang lebih hangat.

“Khususnya selatan pulau Jawa. Anomalinya lebih hangat dibandingkan rata-rata. Sehingga penguapan air tinggi dan pembentukan awan juga masih sering terjadi,” ujar Iis,

Faktor tersebut, penyebab terjadinya hujan pada beberapa daerah di Jateng. Kondisi ini, paparnya, bukan hal yang normal terjadi.

“Wajarnya suhu muka laut berada pada normal cenderung menuju dingin,” ujarnya, kepada Lingkar.co, melalui saluran telepon, Selasa (3/8/2021).

“Hal serupa juga terjadi pada musim kemarau tahun kemarin. Namun tahun ini kemaraunya tidak sebasah seperti yang sebelumnya,” sambungnya.

Dalam kondisi seperti itu, lanjutnya, hujan yang sangat lokal bisa terjadi, seperti hujan saat masa transisi atau pancaroba.

Oleh karena itu, pihaknya mengimbau kepada seluruh masyarakat untuk selalu waspada terhadap perubahan cuaca yang bisa terjadi sewaktu-waktu.

“Khususnya selalu menjaga kesehatan. Banyak mengonsumsi makanan bergizi dan olahraga. Kami juga meminta masyarakat selalu bersiap jika sewaktu-waktu terjadi hujan,” jelasnya.

MUSIM KEMARAU TAHUN INI MUNDUR

Sebelumnya, Iis menuturkan musim kemarau tahun ini mundur, dan periodenya lebih pendek. Sementara musim hujan akan terjadi pada Oktober nanti.

Perkiraan awal,wilayah Jateng secara merata memasuki musim kemarau pada Mei 2021. Terdapat dua faktor yang menyebabkan musim kemarau tahun ini mundur.

“Faktor pertama La Nina. pada 2021 La Nina masih ada sampai Mei, puncaknya Januari kemarin,” ujarnya.

Kemudian faktor kedua, anomali suhu permukaan laut wilayah Indonesia.

“Kondisi anomali suhunya relatif hangat dan perkiraannya akan hangat terus,” ujarnya

Ia menjelaskan, ketika terjadi La Nina dengan intensitas sedang, bisa menambah curah hujan hingga 40 persen.

Sementara, jika suhu permukaan laut menjadi hangat menyebabkan penguapan air cenderung lebih banyak dari biasanya.*

Penulis : M. Rain Daling

Editor : M. Rain Daling

  • Bagikan
error: Ijin Dulu baru Copas BOSS !!