Destana Kebondalem Dirikan Dapur Umum

Suasana dapur umum yang didirikan oleh Destana Kebondalem, Kendal Jawa Tengah. Foto: Yoedhi/Lingkar.co
Suasana dapur umum yang didirikan oleh Destana Kebondalem, Kendal Jawa Tengah. Foto: Yoedhi/Lingkar.co

Lingkar.co – Desa Tangguh Bencana (Destana) Kebondalem mendirikan dapur umum untuk membantu kebutuhan pangan warga terdampak banjir di wilayah tersebut. Logistik dapur umum ini didukung oleh BPBD, PMI, Baznas, serta Dinas Sosial Kabupaten Kendal, Jawa Tengah.

Ketua Destana Kebondalem, Widiastuti, menjelaskan dapur umum telah beroperasi sejak Kamis (16/1/2026) kemarin. Meski masih bersifat terbatas, dapur umum tersebut menyediakan makanan siap saji satu kali sehari bagi warga terdampak banjir.

“Pada hari pertama kami memproduksi sekitar 300 nasi bungkus, dan hari ini meningkat menjadi 400 nasi bungkus,” jelas Widiastuti saat ditemui wartawan, Sabtu (17/1/2026).

Selain makanan siap saji, bagi warga yang belum terjangkau dapur umum, bantuan juga disalurkan dalam bentuk bahan makanan mentah seperti mi instan.

BPBD Kabupaten Kendal terus melakukan pemantauan di wilayah terdampak serta mengimbau warga untuk tetap waspada terhadap potensi banjir susulan, mengingat curah hujan masih cukup tinggi.

Berdasarkan data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Kendal, banjir meluas dari lima menjadi tujuh kecamatan yang meliputi Kecamatan Kaliwungu, Kaliwungu Selatan, Brangsong, Kota Kendal, Ngampel, Pegandon, dan Rowosari dengan variasi ketinggian air dari 15 cm hingga 100 cm.

Salah seorang warga Desa Ketapang, Kecamatan Brangsong, Tono Ginzu, mengatakan banjir tahun ini merupakan yang terparah dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Ia menduga banjir disebabkan luapan Sungai Trompo akibat pintu air yang tidak ditutup, sehingga air melimpas ke permukiman warga.

“Banjir tahun ini paling parah, air cepat naik dan langsung masuk rumah warga,” ujar Tono.

Sementara itu, di Kelurahan Kebondalem, Kecamatan Kota Kendal, hampir seluruh warga terdampak banjir. Sebagian warga terpaksa mengungsi ke rumah kerabat karena rumah mereka terendam air. (*)

Penulis: Yoedhi W