Berita  

Hujan Belum Merata, Pertanian di Daerah Tadah Hujan Paling Rawan

Hamparan tanaman padi di Desa Asempapan, Kecamatan Trangkil, Kabupaten Pati. Miftahus Salam/Lingkar.co.
Hamparan tanaman padi di Desa Asempapan, Kecamatan Trangkil, Kabupaten Pati. Miftahus Salam/Lingkar.co.

Lingkar.co – Memasuki bulan Januari 2024 Kabupaten Pati masih jarang turun hujan. Sehingga, hal ini dinilai berpengaruh terhadap Musim Tanam (MT) 1 di daerah yang berjuluk Bumi Mina Tani ini.

Kepala Dinas Pertanian (Dispertan) Kabupaten Pati Nikentri Meiningrum mengatakan bulan Desember-Januari biasanya turun hujan deras di seluruh wilayah Kabupaten Pati. Namun, ternyata kali ini tidak.

Menurutnya, hal ini dapat memengaruhi MT1. Bahkan, katanya, saat ini masih ada petani yang belum melakukan tanam padi pada musim tanam ini.

2023-12-tgl-13-larangan-kampanye

“Ada yang masih menunggu (hujan), seperti di Jaken. Itu lahannya sudah diolah dan siap tanam, tapi para petani masih menunggu,” ujarnya, Jumat (12/1/2024).

Berdasarkan data dari Dispertan Pati, pada MT1 ini lahan padi yang sudah ditanami seluas 38.700 hektare.

2023-12-tgl-13-pihak-yang-dilarang-ikut-kampanye

Menurutnya jika tanaman padi kekurangan air, maka akan memengaruhi produksinya. Paling parah bisa saja terjadi gagal panen.

Png-20230831-120408-0000

“Kami kasian juga sama petani. Hujan tidak bisa diprediksi. Sampai saat ini hujan masih belum nyebar,” ucapnya.

Menurutnya, wilayah yang paling rawan puso berada di daerah tadah hujan. Karena petani sangat mengandalkan air hujan untuk tanam padi. Apalagi aliran air dari Waduk Kedung Ombo belum merata.

Ia menyebutkan daerah di Kabupaten Pati yang merupakan tadah hujan sebagian besar berada di wilayah selatan, di antaranya Kecamatan Gabus, Kayen, Sukolilo, Pucakwangi, Winong, Jaken, Jakenan dan Batangan.

“Namun, belum ada yang puso sampai sekarang,” ungkapnya.

Sebelumnya, Niken menyatakan bahwa stok beras masih aman. Bahkan, mengalami surplus sebesar 1.200 ton. Meskipun, pada tahun 2023 musim kemarau lebih panjang dibanding tahun-tahun sebelumnya.

“Tiap tahun kita produksi beras kita mengalami surplus. Sedangkan tahun 2023 ini surplus 1.200 ton dari total kebutuhan,” kata Niken, belum lama ini. (*)

Penulis: Miftahus Salam

Dapatkan update berita pilihan dan terkini setiap hari dari lingkar.co dengan mengaktifkan Notifikasi. Lingkar.co tersedia di Google News, s.id/googlenewslingkar , Kanal Telegram t.me/lingkardotco , dan Play Store https://s.id/lingkarapps

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *