Keluhkan Jateng di Rumah Saja, Warga: Harga Bahan Pokok Naik dan Jualan Sepi

  • Bagikan
BERJUALAN: Aktivitas pedagang asongan di Pasar Jepara II pada Selasa (9/2/2021) usai penerapan Jateng di Rumah Saja. (ADHIK KURNIAWAN/KORAN LINGKAR JATENG)
BERJUALAN: Aktivitas pedagang asongan di Pasar Jepara II pada Selasa (9/2/2021) usai penerapan Jateng di Rumah Saja. (ADHIK KURNIAWAN/KORAN LINGKAR JATENG)

JEPARA, Lingkar.co– Sejumlah warga mengeluhkan adanya surat edaran (SE) Gubenur Jawa Tengah Ganjar Pranowo tentang Peningkatan Kedisiplinan Protokol Kesehatan pada Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM ) tahap II.

Pada SE tersebut juga mengatur tentang pelaksanaan gerakan Jateng di Rumah Saja selama dua hari pada Sabtu-Minggu (6-7/2/2021) lalu.

Ads Selamat Hari Raya Idul Fitri 2022

Pedagang batagor di Desa Krapyak, Kecamatan Kota, Jepara Wati,40, mengatakan, selama penerapan kebijakan Jateng di Rumah Saja, banyak pedagang asongan dan warga yang resah. Untuk itu, ia beraharap tidak akan ada lagi kebijakan tersebut atau sejenisnya.

“Saat ada kebijakan itu, saya kesulitan mencari bahan dagangan. Harganya jadi naik gila-gilaan. Semuanya naik, cabai yang asalnya Rp10 ribu jadi Rp15 ribu. Kemudian, tahu yang normalnya Rp7 ribu jadi Rp10 ribu, dan telur sempat di harga Rp26 ribu, padahal dulu Rp18 ribu mas,” kata Wati Selasa (9/2/2021).

Wati menuturkan selain kesulitan mencari bahan pokok, selama dua hari kemarin daganganya sepi pembeli, bahkan penghasilan dua hari kemarin tidak mencukupi untuk satu hari. Wati berharap penerapan kebijakan seperti Jateng di Rumah Saja untuk lebih ada pertimbangan matang.

“Saya minta tolong, kalo buat kebijakan (Jateng di Rumah Saja, Red) mbok ya pikir matang dulu. Saya yang orang kecil kasihan mas. Cari uang sudah susah. Sekarang beli kebutuhan pokok tambah susah, pada naik semua,” ujar Ibu Wati.

Hal yang sama dirasakan pedagang asongan di Pasar Jepara II Ulfah,42. Selama dua hari kemarin, ia terpaksa harus berjualan dari pagi sampai malam. Padahal, biasanya berjualan dari sore sampai malam. Bahkan, penghasilan yang ia peroleh pada dua hari selama penerapan Jateng di Rumah Saja tak sampai setengah dari hari sebelumnya.

“Jalanan tutup jadi sepi, orang-orang pada di rumah. Mbok ya kalo harus tutup dua hari, kita yang orang kecil seharusnya juga dapat konpensasi. Kan percuma boleh buka, tapi kalau nggak ada orang karena jalanya tutup,” ungkap Ibu Ulfah.

Martono,40, warga sekitar turut ikut merasa terpukul terhadap kebijakan Jateng di Rumah Saja. “Sini tutup sana tutup. Pada sepi semua, Bank titil juga nggak bisa kompromi. Kasihan yang ada tanggungan hutang. Belum kebutuhan harian dan orang rumah,” ujar Martono.(dik/lut)

Sumber: Koran Lingkar Jateng


  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.