Lingkar.co – Kabupaten Magelang terpilih menjadi salah satu lokasi pengembangan kebun percontohan (demplot) di Indonesia, bersanding dengan wilayah di Maluku Utara dan Kalimantan Tengah.
Fokus utama program ini adalah pelestarian plasma nutfah atau sumber daya genetik pada lima komoditas, yaitu padi, uwi, talas, cengkeh, dan pala. Untuk wilayah Magelang, perhatian khusus diberikan pada varietas padi lokal dan umbi-umbian yang mulai langka.
Langkah strategis dalam menjaga kekayaan genetik pertanian lokal tersebut merupakan program Crop Diversity Conservation for Sustainable Use in Indonesia (CDCSUI).
Program global yang didanai oleh Global Environment Facility (GEF) ini merupakan kolaborasi antara Organisasi Pangan dan Pertanian Dunia (FAO) dengan Kementerian Pertanian RI, melalui Balai Besar Perakitan dan Modernisasi Bioteknologi dan Sumber Daya Genetik Pertanian (BB Biogen).
Sebagai langkah permulaan, Pemerintah Kabupaten Magelang melakukan audiensi dan konsultasi persiapan pelaksanaan program di Kantor Bupati Magelang, Jawa Tengah, Rabu (6/5/2026).
Dalam audiensi tersebut, National Project Manager (NPM) CDCSUI, Sudarsono menjelaskan tantangan Indonesia yang ikut terdampak perubahan iklim ekstrem.
“Kita menghadapi tantangan perubahan iklim ekstrem seperti El Nino. Dengan mengonservasi padi lokal yang sudah beradaptasi puluhan tahun dengan iklim setempat, kita memiliki cadangan aspek genetik untuk masa depan,” ujar Sudarsono.
Ia juga menyoroti pentingnya mengangkat kembali citra uwi dan talas sebagai sumber karbohidrat alternatif agar masyarakat tidak hanya bergantung pada beras.
“Anak muda sekarang banyak yang tidak tahu uwi atau gembili, padahal seratnya tinggi dan manfaat kesehatannya luar biasa,” tambahnya.
Bupati Magelang, Grengseng Pamuji, menyambut hangat program ini. Menurutnya, CDCSUI sangat selaras dengan visi pembangunan daerah 2025-2029, khususnya dalam memajukan ekonomi berbasis potensi lokal dan pelestarian lingkungan.
“Magelang memiliki kekayaan luar biasa, seperti Padi Menthik Wangi Susu yang sedang proses pengajuan Indikasi Geografis, serta potensi talas dan uwi di hampir seluruh wilayah. Kehadiran CDCSUI akan memperkuat program ‘Gemilang Potensine’ yang kami miliki,” ungkapnya.
Bupati telah menginstruksikan perangkat daerah untuk mengawal penuh penentuan lokasi demplot, terutama di wilayah potensial seperti Kecamatan Sawangan dan Dukun untuk padi lokal, serta Desa Kalirejo, Salaman untuk komoditas umbi-umbian.
Selain itu, Grengseng juga menekankan pentingnya keterlibatan masyarakat lokal dan prinsip kesetaraan gender dalam pelaksanaan program.
Senada, Kepala Dinas Pertanian dan Pangan Kabupaten Magelang, Romza Ernawan merinci, di wilayahnya terdapat empat komoditas utama yang menjadi proyek percontohan, yaitu beras merah, beras hitam, talas, dan uwi.
“Tujuan kami bukan sekadar pelestarian agar tidak punah, tetapi juga memastikan adanya nilai tambah. Pihak manajemen proyek akan memberikan pendampingan dalam masalah hilirisasi agar produk pangan lokal ini memiliki daya saing ekonomi dan diterima masyarakat sebagai pangan alternatif,” jelasnya.
Melalui sinergi ini, diharapkan Kabupaten Magelang tidak hanya menjadi lumbung pangan yang tangguh, tetapi juga menjadi pusat pembelajaran pelestarian genetik pertanian yang mampu menghubungkan bank genetik nasional dengan kearifan lokal di tingkat daerah. (*)












