Lingkar.co – Lonjakan harga bahan baku seperti kedelai, minyak goreng, hingga plastik kemasan membuat pengrajin tahu di Semarang kian terhimpit. Kenaikan biaya produksi yang signifikan memaksa pelaku usaha mencari strategi agar tetap bertahan tanpa menaikkan harga jual.
Salah satu pengrajin tahu, Joko Wiyatno, mengungkapkan harga kedelai dalam beberapa bulan terakhir mengalami kenaikan drastis hingga mendekati 60 persen.
“Harga normalnya Rp7.000 atau Rp8.000, sekarang di angka Rp11.000 per kilo. Sudah sekitar tiga bulan yang lalu (harga) kedelai naik,” ujarnya, Kamis (9/4/2026).
Ia menjelaskan, usahanya yang berlokasi di kawasan Tandang Raya masih sangat bergantung pada kedelai impor, terutama dari Amerika Serikat. Kenaikan harga ini diduga dipicu oleh ketegangan geopolitik global yang memengaruhi rantai pasok dan distribusi.
Di tengah tekanan biaya, Joko memilih tidak menaikkan harga jual karena khawatir berdampak pada daya beli konsumen. Sebagai gantinya, ia mengurangi ukuran produk.
“Kalau kita naikkan harga sendiri itu nggak bisa, harus bareng-bareng. Jadi sementara ini kami kurangi takaran dan memperkecil ukuran tahu,” ungkapnya.
Usaha yang telah dirintis sejak 1968 itu kini memproduksi berbagai jenis tahu seperti tahu putih, tahu pong, dan tahu basah.
Kenaikan biaya produksi tidak hanya berasal dari kedelai. Harga bahan pendukung lain juga ikut melonjak, mulai dari minyak goreng, kayu bakar, hingga plastik kemasan.
“Kita terdampak semua, tidak hanya kedelai. Harga plastik, minyak goreng, kayu bakar juga naik. Minyak goreng misalnya dari Rp16.000 sekarang jadi Rp20.500,” keluh Joko.
Bahkan, harga plastik bening disebut melonjak hingga 100 persen, sementara plastik kantong naik sekitar 25 hingga 30 persen.
Dampaknya, kapasitas produksi pun ikut menurun. Dari sebelumnya sekitar 1 ton per hari, kini hanya berkisar 600 hingga 700 kilogram.
“Setiap ada gejolak, harga pasti naik. Kalau pakai kedelai lokal belum mampu, kualitasnya juga lebih basah dan mudah jamuran,” jelasnya.
Sementara itu, Kepala Bidang Pengembangan Perdagangan dan Stabilitasi Harga Disdag Kota Semarang, Edi Subeno, menyebut kenaikan harga kedelai tidak lepas dari faktor global.
“Konflik geopolitik berdampak pada rantai pasok dan distribusi. Meski harga kedelai naik, belum berdampak pada harga tahu dan tempe di pasar,” ujarnya.
Saat ini, harga kedelai berada di kisaran Rp11.000 hingga Rp12.000 per kilogram. Namun sebelumnya sempat melonjak hingga Rp26.000 per kilogram menjelang Lebaran.
Pemerintah daerah, lanjutnya, masih terus memantau perkembangan harga dan siap melakukan intervensi jika kondisi semakin memburuk.
“Jika kenaikan harga semakin tidak terkendali dan berdampak pada masyarakat, kami akan melakukan intervensi serta berkoordinasi dengan instansi terkait,” tegasnya. ***








