PJJ di Kampus Diterapkan Terbatas, Kualitas Pembelajaran Jadi Sorotan

Ilustrasi - Penerapan PJJ. Foto: Freepik.

Lingkar.co – Penerapan pembelajaran jarak jauh (PJJ) di sejumlah perguruan tinggi sebagai upaya efisiensi energi menuai beragam tanggapan. Meski dinilai adaptif terhadap kebutuhan zaman, kebijakan ini juga memunculkan kekhawatiran terkait kualitas pembelajaran.

Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Brian Yuliarto menegaskan bahwa PJJ hanya diterapkan pada mata kuliah tertentu yang bersifat teoritis.

”Tapi tetap kita menyerahkan kepada setiap perguruan tinggi. Perguruan tinggi, prodi-prodi akan melihat mana yang bisa dimungkinkan untuk dilakukan secara online. Tetapi, sekali lagi tidak mengurangi capaian pembelajaran, tidak mengurangi kualitas, dan seterusnya,” tutur Brian.

Ia menekankan bahwa mata kuliah praktik tetap harus dilakukan secara langsung agar kompetensi mahasiswa tidak menurun.

Meski demikian, sejumlah akademisi menilai pembelajaran tatap muka tetap memiliki keunggulan tersendiri. Dosen Universitas Gadjah Mada Agustinus Subarsono menyatakan dirinya lebih mendorong pembelajaran dilakukan secara langsung.

”Saya cenderung mendorong menggunakan luring (tatap muka) karena guru dan dosen memiliki ruang yang lebih leluasa untuk berimprovisasi dalam menjelaskan berbagai pengetahuan dan fenomena. Pembelajaran luring juga dimaksudkan tidak terjadi learning loss, yakni penurunan pengetahuan dan keterampilan siswa akibat gangguan dalam proses pembelajaran,” ujar Subarsono.

Di sisi lain, pemerintah tetap memberikan fleksibilitas kepada perguruan tinggi dalam menerapkan kebijakan ini. Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi (LLDikti) Wilayah III juga akan melakukan pengawasan terhadap pelaksanaan di lapangan.

Kepala LLDikti Wilayah III Henri Tambunan menegaskan bahwa pihaknya dapat meminta perguruan tinggi kembali ke pembelajaran tatap muka jika ditemukan ketidaksesuaian.

”Imbauan penyesuaian kegiatan akademik ini berlaku hingga adanya perubahan himbauan dan/atau kebijakan dari Kemendiktisaintek,” kata Hendri.

Dengan berbagai penyesuaian ini, implementasi PJJ di perguruan tinggi dinilai sebagai langkah adaptif di tengah tuntutan efisiensi. Namun, keberhasilan kebijakan tersebut tetap bergantung pada keseimbangan antara pemanfaatan teknologi dan kualitas interaksi pembelajaran.

Penulis : Putri Septina