Lingkar.co – Kawasan pesisir pantai Desa Purworejo, Kecamatan Bonang, Kabupaten Demak merupakan salah satu dari kawasan pesisir yang rawan abrasi. Maka dari itu konsistensi dalam melakukan rehabilitasi mutlak dilakukan.
Kepala Desa Purworejo, Rifqi Salafudin mengatakan, rehabilitasi kawasan pesisir tak hanya menyerap tenaga, namun lebih dari itu juga membutuhkan perhatian dari generasi muda untuk peduli dan mau bergerak secara kontinyu.
“Rehabilitasi pesisir tidak hanya butuh tenaga, tetapi juga perhatian generasi muda. Kehadiran komunitas Phylosopicture memberi semangat baru bagi kami, sekaligus membantu menyuarakan upaya Desa Purworejo agar lebih dikenal luas,” ujarnya.
Pagi hari, Sabtu (22/11/2025) yang cerah, Pemerintah Desa Purworejo menegaskan komitmen sebagai desa pesisir yang konsisten menjaga lingkungan dengan mengajak komunitas Phylosopicture dari Program Studi (Prodi) Komunikasi dan Penyiaran Islam (KPI) Universitas Islam Negeri (UIN) Walisongo Semarang untuk terlibat secara langsung dalam rehabilitasi melalui kegiatan penanaman mangrove di kawasan ujung Dukuh Tambak Polo.
Rifqi berkata, kegiatan ini menjadi bagian dari rangkaian upaya berkelanjutan Desa Purworejo dalam menghadapi ancaman abrasi, perubahan iklim, serta kerusakan ekosistem tambak. Maka dari itu Pemerintah Desa Purworejo bersama Koalisi Rakyat untuk Keadilan Perikanan (KIARA) berupaya untuk terus berkembang hingga mampu melakukan pembibitan mangrove secara mandiri.
Ia optimistis bahwa sinergi dengan berbagai pihak dapat membantu menciptakan tatanan masyarakat desa pesisir yang tangguh secara ekonomi dan kebencanaan.
Sebelum penanaman, mahasiswa KPI UIN Walisongo yang tergabung dalam komunitas Phylosopicture melakukan eksplorasi kawasan pesisir Purworejo. Mereka menaiki perahu menuju Tambak Polo, menyusuri jalur air yang setiap hari dilewati nelayan setempat.
Tak hanya itu, para mahasiswa juga mempelajari cara pembibitan mangrove secara langsung di area pembibitan. Hal ini meripakan kesempatan berharga bagi mahasiswa untuk memahami proses konservasi pesisir secara nyata, sekaligus menghasilkan dokumentasi visual yang marak di era perkembangan telekomunikasi digital.
Perwakilan Phylosopicture Naurajiwa menyatakan, kegiatan ini sangat sejalan dengan misi komunitasnya untuk membuat karya yang menggambarkan kondisi faktual kekompakan pemerintah desa dengan kelompok masyarakat yang peduli dengan desa pesisir.
“Kami ingin mengangkat isu lingkungan melalui karya visual. Purworejo memberi kami pengalaman lapangan yang sangat kaya, dari melihat pembibitan hingga menanam langsung mangrove. Ini akan menjadi konten edukatif yang bermanfaat bagi publik,” ungkapnya.
Menurut dia, Pemdes Purworejo tak hanya berhasil dalam melanggengkan upaya mitigasi berkelanjutan. Lebih dari itu juga memperkuat peran kampus sebagai mitra strategis dalam gerakan lingkungan dan literasi ekologis. Kolaborasi ini juga menjadi momentum branding positif bagi kedua pihak.
Ke depan, Pemerintah Desa Purworejo, KIARA, dan komunitas Phylosopicture berencana melanjutkan kerja sama melalui kegiatan monitoring pertumbuhan mangrove, produksi konten edukasi pesisir, serta pengembangan Tambak Polo sebagai kawasan wisata ekologi. (*)
Penulis: Nadya Qatrunada
Editor: Ahmad Rifqi Hidayat








