Serial “Alice in Borderland”, Diadopsi dari Komik Jepang yang Sukses

  • Bagikan
Serial Original Netflix "Alice in Borderland" (2020). (ANTARA/LINGKAR.CO)
Serial Original Netflix "Alice in Borderland" (2020). (ANTARA/LINGKAR.CO)

JAKARTA, Lingkar.co  – “Alice in Borderland” merupakan serial original Netflix yang diadaptasi dari serial komik Jepang (manga) berjudul sama, yang bergenre suspense dan ditulis serta diilustrasikan oleh Haro Aso.

Berpusat pada karakter utama bernama Arisu Ryohei (Kento Yamazaki) – seorang pemuda pengangguran yang tinggal di Tokyo, Jepang. Serial dibuka dengan mengisahkan siapa sang protagonis dan kedua sahabatnya, Daikichi Karube (Keita Machida) dan Chota Segawa (Yuki Morinaga).

Ads Selamat Hari Raya Idul Fitri 2022

Ketiganya tengah menghadapi kebosanan dan ketidakberuntungan di hari yang sama, dan memutuskan untuk menghabiskan waktu di Shibuya bersama-sama.

Ketika mereka mencoba melarikan diri dari polisi dan bersembunyi di sebuah bilik toilet umum Stasiun Shibuya, Arisu, Karube, dan Chota tiba-tiba melihat jalanan Shibuya yang ramai berubah sepi — tak ada seorang pun — begitu juga dengan daya listrik dan sinyal ponsel.

Misteri semakin dalam saat malam tiba. Berada dalam kebingungan, tiba-tiba sebuah pesan misterius menuntun ketiganya ke sebuah “permainan bertahan hidup” (survival game) pertama mereka — secara tidak sengaja dan acak.

Instruksi diteruskan ke masing-masing pemain melalui ponsel pintar khusus, dengan taruhan yang tinggi — yaitu nyawa.

Meskipun para pemain enggan, mereka harus berpartisipasi dalam permainan apa pun yang ditugaskan demi bertahan hidup.

Setiap permainan ditandai dengan kartu truf, di mana angkanya menunjukkan tingkat kesulitan, sedangkan coraknya menunjukkan jenis permainan yang akan diikuti; mulai dari permainan yang mengandalkan kekuatan fisik, logika, hingga perasaan.

Arisu, pemuda yang menghabiskan sebagian besar waktunya bermain video game, dengan cepat mulai mengenali logika yang mendasari desain game. Ia bersama Karube dan Chota kemudian berhasil melewati sejumlah permainan.

Petualangan Arisu kemudian menghantarkannya ke pemain lain yang juga menemukan diri mereka terdampar di ibu kota yang sepi. Pemain tersebut adalah Yuzuha Usagi (Tao Tsuchiya), seorang pendaki gunung yang memiliki kekuatan fisik yang kuat dan bisa diandalkan.

Disutradarai oleh Shinsuke Sato, “Alice In Borderland” agaknya mirip dengan film seri “Gantz” (2011) yang juga ia sutradarai sebelumnya.

Namun, “Alice In Borderland” memiliki elemen cerita dan teka-teki yang menarik untuk diikuti dan dipecahkan bersama-sama. Mulai dari beragamnya level dan jenis permainan, hingga mencari tahu dalang dari dunia permainan yang identik dengan koleksi kartu remi itu.

Melihat para pemain yang bahkan tidak tahu bagaimana mereka bisa masuk ke dalam situasi yang kacau ini, membuat penonton merasa ikut berada di situasi yang sama dan gregetan untuk segera menyelesaikan rangkaian permainan yang secara acak diberikan.

Selain ceritanya yang menarik dan membuat penasaran, serial ini juga memiliki sederet pemain film papan atas Jepang. Kento Yamazaki membuktikan dirinya merupakan salah satu aktor muda yang menjanjikan bagi industri dunia film Jepang.

Yamazaki telah membintangi banyak genre film beberapa tahun belakangan ini, mulai dari film aksi “Kingdom” (2019), film drama “Gekijou” (2020), penampilannya di “Alice in Borderland” mampu menimbulkan kedekatan emosi yang kuat — baik untuk para lawan mainnya, hingga audiens yang menonton dari layar kaca mereka.

Pun dengan Tao Tsuchiya, Keita Machida, Yuki Morinaga, Dori Sakurada, Nijirou Murakami, hingga Aya Asahina dan Nobuaki Kaneko juga berhasil merepresentasikan karakter mereka masing-masing dengan memukau.

Serial dengan rating R-21 ini memiliki cukup banyak tokoh, namun cerita di balik diri mereka mampu diceritakan dan dikembangkan dengan baik oleh sutradara Shinsuke Sato.

Sato sendiri merupakan sutradara yang dikenal mampu mengadaptasi serial manga dan anime populer menjadi bentuk film maupun serial live-action yang menghibur. Mulai dari “Gantz” (2011), “Death Note: Light Up the New World” (2016), “Bleach” (2018), hingga yang terbaru, “Kingdom” (2019) yang juga dibintangi oleh Yamazaki.

Selain cerita, plot, dan penokohan yang kuat, “Alice in Borderland” memiliki nilai produksi yang cukup mengesankan. Baik visual maupun audionya mampu melengkapi satu sama lain dan menghasilkan harmoni yang cantik namun tetap menegangkan.

Netflix Japan baru-baru ini juga membagikan behind the scene dari pembuatan serial ini, dengan memamerkan penggunaan teknologi CGI yang bisa menciptakan sekaligus menghilangkan keramaian Shibuya dengan mulus. Selain itu, editing dari serial ini juga cukup impresif.

Secara keseluruhan, serial yang memiliki judul Bahasa Jepang “Imawa no Kuni no Arisu” ini merupakan tontonan yang intens dan segar — baik bagi para pecinta maupun bagi mereka yang awam dengan serial manga-nya.

Selain visualnya yang luar biasa, plot cerita yang menegangkan ini pasti sangat menarik karena membuat penonton tidak bisa berhenti bertanya-tanya apa yang akan terjadi pada Arisu selanjutnya.

Namun, perlu diingat sekali lagi bahwa serial ini memiliki rating R-21 untuk visual dan bahasanya yang vulgar dan cukup “gory”, sehingga memang lebih cocok untuk ditonton oleh audiens yang cukup umur.

“Alice In Borderland” sendiri dirilis di seluruh dunia sejak 10 Desember di Netflix, dan menjadi salah satu serial original Netflix Jepang yang ramai ditonton secara domestik maupun Asia. Judul ini pun menjadi serial ketiga yang paling banyak ditonton di Netflix di Singapura.

Episode terakhir juga menunjukkan kemungkinan untuk musim kedua. Mengingat popularitasnya yang melonjak, tentu membuat para penyukanya tak sabar untuk kembali melihat Yamazaki dan Tsuchiya mengulangi peran mereka. (ara/aji)

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.