Survei PolMark: Ganjar Teratas, Gus Muhaimin Kalahkan Puan dan Airlangga sebagai Capres Potensial

Suasana rilis survei PolMark Indonesia bertajuk “Peta Kompetisi Menuju Pilpres 2024: Agregasi 78 Survei Dapil” di Jakarta, Kamis (30/3/2023). Foto: Dok. PolMark
Suasana rilis survei PolMark Indonesia bertajuk “Peta Kompetisi Menuju Pilpres 2024: Agregasi 78 Survei Dapil” di Jakarta, Kamis (30/3/2023). Foto: Dok. PolMark

Lingkar.co – PolMark Indonesia, merilis hasil survei terbaru terkait elektabilitas calon presiden (capres) untuk Pilpres 2024.

Hasilnya, Ketua Umum (PKB) Muhaimin Iskandar (Gus Muhaimin) masuk lima besar capres potensial, menggungguli Puan Maharani hingga Airlangga Hartarto.

Gus Muhaimin bersaing dengan Gubernur Jateng, Ganjar Pranowo, Ketum Gerindra, Prabowo Subianto, mantan Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan dan Gubernur Jabar, Ridwan Kamil.

2023-12-tgl-13-larangan-kampanye

Dalam rilis yang diterima Lingkar.co, Jumat (31/3/2023), elektabilitas Ganjar Pranowo, masih teratas dengan 22,8 persen.

Prabowo Subianto, di urutan kedua dengan 17,4 persen, dan Anies Baswedan, 13,9 persen, berada di posisi ketiga.

2023-12-tgl-13-pihak-yang-dilarang-ikut-kampanye

Kemudian, ada nama Ridwna Kamil, di posisi keempat dengan 5,2 persen. Dan urutan kelima, Gus Muhaimin, dengan 4,8 persen.

Png-20230831-120408-0000

Lalu, ada Menparekraf, Sandiaga Uno, Ketua DPR RI, Puan Maharani, Ketum Demokrat, Agus Harimurti Yudhoyono, Gubernur Jatim, Khofifah Indar Parawansa.

Selanjutnya, mantan panglima TNI Andika Perkasa, Menteri BUMN, Erick Thohir, hingga Ketum Golkar, Airlangga Hartarto, dan Kepala BIN Budi Gunawan.

Survei digelar pada rentan waktu 23 Januari-19 Maret 2023, dan satu survei pendahuluan pada 26 Oktober-3 November 2022.

“Margin of error dari agregat survei +/- 0,4 persen,” kata Direktur Eksekutif Polmark Indonesia, Eep Saefulloh Fatah.

Dia mengatakan, survei berlangsung di 77 daerah pemilihan (dapil), dengan jumlah responden masing-masing dapil 800 responden dan 1 survei melibatkan 880 responden.

“Secara keseluruhan agregat terdapat 62.480 responden yang tersebar di seluruh wilayah Indonesia dengan menggunakan multi state random sampling,” ucap Eep.

Dia mengatakan hasil survei tersebut, tidak menggambarkan situasi elektoral pada 14 Februari 2024 nanti.

“Mereka yang elektabilitasnya masih kecil bisa membesar yang besar bisa mengecil karena masih ada rentan waktu 10 bulan lagi,” ujar Eep.

Karena menurutnya, masih ada 24,9 persen responden yang belum memutuskan sosok capres pilihannya.

“Sejumlah tokoh lain tidak ditampilkan karena (elektabilitasnya) di bawah itu. Lalu kemudian undecided voters 24,9 persen,” jelas Eep.

Berikut elektabilitas capres versi PolMark Indonesia:

  1. Ganjar Pranowo: 22,8 persen
  2. Prabowo Subianto: 17,4 persen
  3. Anies Baswedan: 13,9 persen
  4. Ridwan Kamil: 5,2 persen
  5. Cak Imin: 4,8 persen
  6. Sandiaga Uno: 2,0 persen
  7. Puan Maharani: 1,7 persen
  8. AHY: 1,7 persen
  9. Khofifah Indar Parawansa: 1,3 persen
  10. Andika Perkasa: 1,1 persen
  11. Erick Thohir: 1,0 persen
  12. Ahmad Heryawan: 0,9 persen
  13. Airlangga Hartarto: 0,7 persen
  14. Budi Gunawan: 0,2 persen
  15. Undecided voters: 24,9 persen.

Dinamika Elektoral Masih Dinamis

Eep menilai, peta menuju Pilpres 2024 masih sangat dinamis dan cair.

Karena menurutnya, tidak ada satu pun pihak yang bisa mengklaim paling menonjol dan akan menang dalam Pilpres 2024.

Meski kata dia, saat ini ada tiga nama yang bertengger di tiga besar yakni Ganjar, Prabowo dan Anies.

“Namun, mereka yang belum menentukan pilihan juga masih tinggi di kisaran hampir 25 persen,” jelas Eep.

”Nama-nama belum mengerucut sesuai nama yang ada di kertas suara sehingga masih terdistribusi,” sambungnya.

Faktro lainnya kata Eep, masih banyaknya pemilih yang labil terhadap pilihan capres saat ini.

“Kami punya standar pertanyaan kuesioner, standarnya adalah, ‘apakah pilihan Bapak/Ibu sudah tetap atau bisa berubah?” ucap Eep.

Dengan pertanyaan tersebut, responden menjawab masih ada kemungknan pilihan capres akan berganit atau mengalami perubahan.

“Di antara para pemilih, dari mulai Mas Ganjar 22,8 persen sampai Pak Budi Gunawan 0,2 persen, di dalamnya sangat mungkin ada pemilih yang menjawab masih mungkin untuk berubah, belum setia pada kandidatnya masing-masing,” jelasnya.

Selain itu, kata Eep, dinamika elektoral ke depan dipengaruhi apa yang terjadi sejak saat ini sampai pendaftaran resmi capres-cawapres ke KPU pada 19 Oktober 2023.

”Ini yang krusial karena disitu akan bertemu berapa pasang? Siapa bertemu dengan siapa,” kata Eep.

“Perubahan elektoral terjadi mulai masa penetapan sampai pencoblosan 14 Februari,” lanjutnya.

Lebih lanjut, Eep mengatakan, nama-nama seperti Ganjar, Prabowo dan Anies, belum jelas akan menjadi capres atau tidak.

”Memang benar sudah ada deklarasi, ada pengerucutan koalisi, tetapi penetapan calon masih 19 Oktober. Bisa saja nama-nama popuper itu tidak masuk,” tuturnya,” pungkasnya.*

Penulis: M. Rain Daling
Editor: M. Rain Daling

Dapatkan update berita pilihan dan terkini setiap hari dari lingkar.co dengan mengaktifkan Notifikasi. Lingkar.co tersedia di Google News, s.id/googlenewslingkar , Kanal Telegram t.me/lingkardotco , dan Play Store https://s.id/lingkarapps

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *