Lingkar.co – Dinas Kesehatan Kota Semarang mengintensifkan upaya pencegahan leptospirosis menyusul tren peningkatan kasus sejak akhir 2025 hingga semester pertama 2026. Salah satu langkah yang dilakukan adalah menggalakkan operasi tangkap tikus (OTT) di wilayah rawan.
Kepala Dinas Kesehatan Kota Semarang, Abdul Hakam, menyebut kenaikan kasus tidak hanya terjadi di Semarang, tetapi juga di sejumlah daerah lain.
“Yang sekarang kita baru galakkan adalah OTT, karena kasus naik itu mulai akhir tahun 2025 sampai sampai di semester pertama itu angka kenaikannya lumayan tinggi, dan ini tidak terjadi di Kota Semarang, ternyata di seluruh daerah juga, termasuk kemarin ketemu sama kawan-kawan dari Sleman juga mengatakan hal yang sama ini kasus-kasus Lepto, kejadian Lepto cukup lumayan naik,” terangnya, Rabu (6/5/2026).
Ia menjelaskan, tanpa intervensi melalui OTT, lonjakan kasus berpotensi lebih tinggi.
“Kalau kita bisa tidak melakukan OTT mungkin kenaikannya bisa lebih dari 10%,” katanya.
Menurutnya, upaya pemberantasan tikus harus difokuskan di wilayah dengan tingkat kerawanan tinggi berdasarkan pemetaan yang telah dilakukan.
“Makanya tindakan kita adalah daerah-daerah yang masuk dalam peta kerawanan atau kerentanan tinggi. OTT nya itu harus mendapatkan banyak jumlahnya,” katanya lagi.
Pihaknya menyebut, wilayah dengan tingkat kerawanan tinggi yang dipengaruhi oleh kondisi lingkungan dan perilaku hidup masyarakat.
“Daerah rawan itu di Tembalang, Candi Sari, Genuk, Semarang Utara, itu biasanya banyak, karena dari kondisi rumah kemudian, juga higienitas dari masing-masing individu,” sebutnya.
Selain OTT, Dinas Kesehatan juga mendorong gerakan perubahan perilaku masyarakat melalui inovasi berbasis lingkungan rumah sehat.
“Makanya kita kan punya inovasi namanya Gembira Ria (Gerakan Mbuka Jendela dan Pintu Rumah, Diikuti Gerakan Ringan 60 Menit & Bersih-bersih Rumah), Ini kegiatan yang non budgeter, tapi bisa bantu masyarakat itu terhindar dari beberapa penyakit dari diare, lepto, demam berdarah, kemudian ispa,” ungkapnya.
Ia menekankan pentingnya sirkulasi udara dan pencahayaan dalam mencegah berkembangnya vektor penyakit seperti tikus dan nyamuk.
“Suhu dan kelembaban yang tidak cocok oleh nyamuk ataupun tikus itu akan menyebabkan nyamuk keluar dari rumah. Tikus juga enggak suka di rumah,” katanya.
Dengan langkah tersebut, Pemkot Semarang berharap lonjakan kasus leptospirosis dapat ditekan dan tidak berkembang menjadi ancaman kesehatan yang lebih luas di masyarakat. ***












